DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Solar yang terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Aceh mulai memukul pelaku usaha rental mobil.
Sulitnya mendapatkan BBM membuat operasional armada terganggu, pelayanan kepada pelanggan terhambat, hingga pendapatan usaha merosot tajam.
Pelaku usaha rental mobil di Banda Aceh, Bedu, mengaku usahanya mengalami penurunan pendapatan hingga 70 persen dibandingkan kondisi normal.
Menurutnya, sebagian besar waktu pengemudi kini justru dihabiskan untuk mengantre BBM, bukan melayani pelanggan.
"Pendapatan kami turun sampai sekitar 70 persen. Mobil yang seharusnya bisa beroperasi dan menghasilkan pemasukan justru harus mengantre BBM berjam-jam. Ini sangat merugikan kami," kata Bedu kepada Dialeksis.com, Kamis (30/7/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar armada rental menggunakan kendaraan berkapasitas mesin di bawah 1.400 cc yang diperbolehkan menggunakan Pertalite sesuai ketentuan.
Sementara itu, kendaraan lain yang menggunakan Solar juga menghadapi persoalan serupa karena pasokan BBM subsidi di sejumlah SPBU sulit diperoleh.
Akibat kondisi tersebut, jadwal pelayanan kepada pelanggan kerap terganggu. Kendaraan yang seharusnya sudah siap digunakan terpaksa tertahan di SPBU untuk mengantre BBM sehingga waktu penjemputan maupun pengantaran pelanggan sering mengalami keterlambatan.
"Mobil harus selalu siap ketika pelanggan membutuhkan. Tapi sekarang banyak waktu habis di SPBU. Akhirnya pelanggan ikut dirugikan dan kami juga kehilangan kesempatan mendapatkan penyewaan," ujarnya.
Bedu menambahkan, kelangkaan BBM tidak hanya berdampak pada penurunan pendapatan, tetapi juga meningkatkan biaya operasional. Para pengemudi harus mengeluarkan tenaga dan waktu lebih banyak hanya untuk mendapatkan BBM, sementara produktivitas usaha terus menurun.
Di sisi lain, Bedu menyoroti kondisi antrean di sejumlah SPBU yang menurut pengamatannya dipenuhi berbagai jenis kendaraan, termasuk mobil pengangkut material atau timbun tanah. Ia juga menyampaikan dugaan bahwa sebagian kendaraan tersebut merupakan milik oknum aparat.
"Di lapangan kami melihat banyak mobil timbun tanah ikut mengantre BBM. Bahkan kami menduga sebagian merupakan milik oknum aparat. Dugaan ini tentu perlu menjadi perhatian dan diawasi oleh pihak yang berwenang agar distribusi BBM subsidi benar-benar tepat sasaran," katanya.
Menurut Bedu, pemerintah bersama aparat penegak hukum dan instansi terkait perlu memperketat pengawasan terhadap distribusi BBM subsidi.
Ia berharap kendaraan yang memang berhak memperoleh Pertalite maupun Solar dapat diprioritaskan sehingga aktivitas usaha dan pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.
"Jangan sampai pelaku usaha yang memang membutuhkan BBM untuk melayani masyarakat justru kesulitan mendapatkannya. Kalau kondisi ini terus berlanjut, semakin banyak usaha kecil yang akan terdampak," ujarnya.
Bedu berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kelangkaan Pertalite dan Solar di Aceh. Selain memastikan pasokan kembali normal, ia meminta pengawasan di SPBU diperketat agar tidak terjadi penyalahgunaan BBM subsidi.
"Kami hanya ingin pasokan BBM kembali normal dan penyalurannya diawasi dengan baik. Dengan begitu, usaha rental bisa berjalan seperti biasa, masyarakat tetap terlayani, dan kami tidak terus mengalami kerugian," pungkasnya.
Share berita ini