DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sejumlah ulama, tokoh dan pemuda Aceh yang tergabung dalam panitia penyelenggara akan menggelar kegiatan Doa Tolak Bala dan Aksi Bela Nanggroe serta Syariat di Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh pada 15 Agustus 2026.
Koordinator Umum kegiatan, Tgk. Muslim At-Thahir atau yang dikenal Abi Muslim At-Thahiri, mengatakan kegiatan tersebut merupakan inisiatif para ulama, tokoh dan pemuda Aceh. Menurutnya, kegiatan itu bertujuan untuk memanjatkan doa sekaligus menyampaikan aspirasi masyarakat terkait sejumlah persoalan di Aceh.
Abi Muslim At-Thahiri yang juga merupakan pimpinan dan pengasuh Dayah Darul Mujahidin serta Ketua Ikatan Muslim Aceh Meudaulat (IMAM) mengatakan, doa bersama digelar sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan Allah SWT bagi Aceh dari berbagai musibah dan bencana.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah memohon kepada Allah SWT agar Aceh dijauhkan dari berbagai bala dan musibah. Selain itu, kami ingin menyampaikan aspirasi rakyat melalui cara yang tertib dan damai,” kata Abi Muslim kepada media dialeksis.com, Minggu (9/8/2026).
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan akan diisi dengan pembacaan Yasin Fadhilah dan Qunut Nazilah serta doa bersama. Panitia juga menyiapkan sesi penyampaian aspirasi melalui orasi yang akan disampaikan oleh sejumlah tokoh, ulama dan mahasiswa.
Adapun sejumlah isu yang akan disuarakan, antara lain penerapan Syariat Islam secara kaffah, persoalan Blok Andaman, tambang Beutong serta perhatian dan bantuan bagi masyarakat yang terdampak banjir.
Abi Muslim menegaskan, kegiatan tersebut disebut bukan sebagai agenda politik pihak tertentu, melainkan gerakan yang menurut panitia lahir dari keprihatinan terhadap kondisi Aceh.
“Tujuan utama kami adalah mempersatukan bangsa Aceh dan ulama Aceh untuk memperjuangkan Syariat Islam secara kaffah serta memperjuangkan hak-hak rakyat Aceh,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi dan tidak menggiring kegiatan tersebut ke arah yang berbeda dari tujuan awal. Panitia, kata dia, menginginkan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan damai.
Terkait aparat keamanan, panitia berharap pelaksanaan kegiatan dapat difasilitasi sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Abi Muslim juga menyampaikan adanya keluhan dari sejumlah koordinator wilayah yang mengaku diminta memberikan data peserta oleh oknum aparat.
“Kami berharap diberikan kemudahan, bukan dipersulit, karena kegiatan yang kami lakukan tidak bertentangan dengan hukum. Kami juga mengajak semua pihak menjaga situasi tetap aman dan kondusif,” katanya.
Panitia juga mengimbau masyarakat yang akan menghadiri kegiatan agar menjaga sikap dan ketertiban selama perjalanan maupun berada di lokasi kegiatan.
Beberapa imbauan yang disampaikan antara lain mengenakan pakaian yang sopan dan sesuai syariat, menjaga persatuan, tidak membawa senjata tajam maupun senjata api, tidak membawa atribut yang dilarang berdasarkan peraturan perundang-undangan, serta tidak mudah terpancing provokasi.
Panitia juga meminta peserta menjaga ketertiban umum dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu masyarakat lainnya.
Bagi masyarakat yang tidak dapat hadir di Banda Aceh, panitia juga mengajak untuk mendoakan keselamatan Aceh dari rumah, meunasah maupun masjid.
Melalui kegiatan tersebut, panitia berharap aspirasi masyarakat Aceh dapat disampaikan secara damai dan menjadi perhatian pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan.
Panitia juga mengajak para pemegang kekuasaan, ulama, akademisi dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga persatuan serta mencari penyelesaian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi Aceh.
"Kami mengajak seluruh masyarakat yang hadir untuk datang dengan niat yang baik, menjaga persatuan dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu kericuhan. Jangan terpancing dengan ajakan pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujar Abi Muslim.
Share berita ini