DIALEKSIS.COM | Aceh Utara - Perbincangan panas yang hampir ada disetiap sudut warung kopi di Aceh terkait dugaan kasus pengeroyokan Azhari Cage yang dikabarkan mengundurkan diri sebagai Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) ini terus menjadi sorotan di mata publik Aceh.
Bogem mentah yang dituju kepada Azhari Cage diduga dilakukan oleh tiga pemuda. Salah satunya terlibat dalam insiden itu diduga kembali yakni Anwar Cage yang merupakan Kepala Satuan Pelaksana (Satpel) BRA Aceh Utara.
Menanggapi itu, Dialeksis.com, pada tepatnya pada Selasa (22/11/2022) langsung menghubungi Anwar Cage yang merupakan Kepala Satuan Pelaksana (Satpel) BRA Aceh Utara untuk memastikan kebenaran insiden itu.
Dalam percakapan itu, Anwar Cage tak menyebutkan secara spesifik terkait insiden itu. Dia hanya mempertanyakan terhadap bantuan yang diberikan kepada 657 penerima bantuan yang disebut melalui media pers, untuk kombatan GAM wilayah Pase atau Kabupaten Aceh Utara. “Perkara kejadian tersebut Panglima yang lebih tahu,” tegasnya.
Lanjutnya, apa yang disampaikannya merupakan sebuah sikap dan moralitas. “Disaat 657 orang mantan kombatan GAM menerima bantuan dari BRA, maka harus betol-betol yang menerima bantuan itu adalah mantan kombatan, kemudian juga jika disebut tapol/napol menerima bantuan dari BRA maka juga harus betol-betol yang menerima adalah tapol/napol,” tegasnya kembali.
Anwar menegaskan sekali lagi bahwa jangan pernah menjual nama kami (Mantan Kombatan GAM/Napol/Tapol/korban konflik_Red).
“Jangan pernah memperjualbelikan nama kami, ini sangat berat sekali kita luruskan. Ini juga menyangkut marwah dan moralitas. Karena hampir setiap tahun nama mantan kombatan GAM diperjualbelikan untuk mengambil bantuan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab di BRA Provinsi,” katanya.
Anwar mengatakan, apakah kami tidak punya pimpinan tempat kami bertanya terkait hal ini?
Menurutnya, pihak BRA Provinsi sudah berani sekali mengambil sikap dengan mengatasnamakan mantan kombatan GAM, sedangkan perkara kejadian dilapangan tidaklah seperti yang diberitakan baru-baru ini.
“Kami disini memiliki pimpinan. Namun yang perlu ditegaskan disini adalah jangan pernah memperjualbelikan nama mantan kombatan GAM ketika ada ini..itu..,” ujarnya.
“Selama ini kami dicaci maki oleh masyarakat, seolah-olah kami yang mengambil bantuan tersebut. Hari ini sampaikan yang sebenar-benarnya, jangan pernah menabrakkan fakta dengan fakta yang lain. Jika memang tidak bisa membantu rekan-rekan kita, maka jangan membuat susah rekan-rekan kita saat ini,” tambahnya dengan tegas.
Ia mengatakan, ketika masa konflik ia harus meninggalkan orang tuanya dalam perjuangan hingga saat ini hanya dirinya yang masih hidup. “Perkara ini merupakan perkara moralitas saya tidak bisa terima, karena saya bertanggung di Aceh Utara,” sebutnya.
Pasca kejadian itu, Anwar telah bertemu dengan Muzakir Manaf selaku Ketua KPA Pusat, Panglima Wilayah dan Panglima Muda Pase serta 15 Panglima Sagoe di Aceh Utara dan menceritakan apa adanya.
“Hari ini saya berbicara apa adanya dan kita menginginkan adanya transparansi dan akurat,” pungkasnya. [ftr/bna]
Share berita ini