DIALEKSIS.COM | Blangpidie - Jembatan penghubung Desa Pante Cermin dan Desa Cot Simantok, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), terancam amblas akibat tergerus luapan Sungai Krueng Babahrot. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Abdya telah menurunkan tim teknis untuk meninjau kondisi jembatan tersebut.
Jembatan sepanjang sekitar 160 meter itu dilaporkan dalam kondisi kritis. Bahkan, tiang-tiang penyangga di bagian bawah abutment mulai terekspos akibat terus-menerus dihantam derasnya arus sungai.
Kepala Dinas PUPR Abdya, Rahwadi, mengatakan pihaknya telah meninjau langsung kondisi fisik abutment jembatan. Menurutnya, anggaran perbaikan sudah dialokasikan tahun ini, tetapi pengerjaan belum dapat dimulai karena debit air sungai masih tinggi.
"Kami sudah turun ke lokasi untuk melihat langsung kondisi fisik abutment jembatan itu. Tahun ini memang sudah ada alokasi anggaran perbaikan, hanya saja pengerjaan oleh pihak rekanan belum bisa dimulai karena debit air sungai masih sangat besar," kata Rahwadi yang dilansir pada Jumat (6/11/2026).
PUPR Siapkan Penahan Tebing 200 Meter
Rahwadi menyebut perbaikan abutment menjadi prioritas untuk mencegah struktur penyangga jembatan roboh. Namun, penanganan tidak cukup hanya dengan memperbaiki bagian tersebut.
PUPR juga merencanakan pembangunan tanggul batu gajah sebagai penahan tebing sepanjang kurang lebih 200 meter di sisi sungai yang berbatasan dengan Desa Cot Simantok.
Menurutnya, kawasan tersebut rawan mengalami erosi saat banjir karena posisi tebing relatif rendah. Jika tidak ditangani, pengikisan tanah dikhawatirkan terus meluas dan mengancam kestabilan jembatan.
"Tebing di sebelah Desa Cot Simantok itu sangat rawan erosi jika terjadi banjir karena posisinya yang relatif rendah. Jadi, ke depan harus dibangun tanggul batu gajah penahan tebing di sana agar pengikisan tanah tidak terus meluas dan mengancam stabilitas jembatan," ujarnya.
Sementara itu, warga Babahrot, Yek Adi, mengatakan kondisi kaki jembatan semakin mengkhawatirkan karena sejumlah tiang penyangga mulai terlihat ke permukaan.
Ia menduga kerusakan tidak hanya dipicu luapan sungai akibat tingginya intensitas hujan, tetapi juga aktivitas pengambilan material galian C di sekitar aliran sungai.
"Jarak sekitar 200 meter dari jembatan ada pengambilan galian C untuk kebutuhan batu pecah (split), kerikil, dan pasir. Ini perlu ditinjau ulang untuk antisipasi robohnya jembatan," kata Yek Adi.
Ia berharap aktivitas pengambilan material tersebut turut dievaluasi agar tidak memperparah pengikisan dasar sungai dan mengancam keselamatan jembatan yang menjadi akses penting masyarakat.
Pemkab Abdya berharap perbaikan abutment dan pembangunan penahan tebing dapat segera dilakukan setelah kondisi debit air memungkinkan, sehingga jembatan penghubung kedua desa tersebut tetap aman dilalui warga. [*]
Share berita ini