DIALEKSIS.COM | Aceh Besar - Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh menggelar Kegiatan Training Or Trainer “Moderasi Beragama Sebagai Strategi Pencegahan Terorisme” dan juga lomba Pembuatan Bahan Ajar Video Pendek Sosiodrama Moderasi Beragama, Rabu (12/10/2022) di Aula Gedung Dekranasda Kabupaten Aceh Besar.
Peserta yang ikut dalam kegiatan itu yakni 100 peserta yang terdiri dari kalangan guru, datu damai, dan praktisi pendidikan.
Adapun Moderator dan Narasumber yakni, Dr. Sulaiman Tripa, S.H., M.H. Kabid Agama, Sosial, Ekonomi dan Budaya FKPT Aceh selaku Moderator, Dr. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, M.A. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar- Raniry, Maira Himadhani, S.T., M.Sc. Subkoordinator Partisipasi Masyarakat BNPT, dan Dr. Anis Maskur, M.Ag Kasubdit GTK Kemenag RI.
Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, Mukhlisuddin Ilyas mengatakan, bahwa FKPT berada disemua Provinsi Indonesia dan merupaka mitra strategis bagi BNPT dalam menjalankan tugas atau program pencegahan radikalisme dan terorisme di daerah.
“Hari ini, Tema besar yang akan kita bicarakan nanti Internalisasi nilai-nilai agama, Sosial, Ekonomi dan Budaya Melalui Training of Trainer Menjadi Guru Pelopor Moderasi Beragama di Sekolah, dan Lomba Pembuatan Bahan Ajar Berupa Video Pendek Sosiodrama Moderasi Beragama,” ucapnya dalam kata sambutannya, Rabu (12/10/2022).
Ia mengungkapkan, peserta kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta kalangan guru, datu damai, dan praktisi pendidikan. “Tujuan pelaksanaan kegiatan hari adalah untuk menumbuh kembangkan moderasi beragama dikalangan pendidik,” sebutnya.
Dirinya menjelaskan, radikalisme dan terorisme tidak mengenal agama, profesi, jenjang pendidikan, kaya atau miskin. “Semuanya memiliki potensi terpapar virus radikalisme dan terorisme. Untuk itu, peran guru atau kalangan pendidik sangat sentral dalam rangka membendung paham radikalisme. Guru harus mampu sikap, perilaku, dan tindakan yang saling toleran dan cinta damai,” tukasnya.
Ia mengatakan, guru harus mampu membimbing peserta didik untuk saling hidup rukun dan menghindari saling hujat-menhujat, dan yang paling penting guru menjadi penengah diatas perbedaan pendapat.
“Hasil Kajian BNPT menyebutkan, potensi radikalisme lebih tinggi pada kalangan perempuan. Kejadian Surabaya, Batam, Medan dan penyerangan Mabes Polri yang dilakukan oleh seorang mahasiswi, harus menjadi catatan dan pembelajaran,” ungkapnya.
Dirinya mengatakan Radikalisme dan terorisme adalah sebuah fakta. “Khusus di Aceh, domain diskursus radikalisme sudah bergeser, dari wilayah politik ke wilayah agama. Padahal dalam agama apapun di dunia ini, tidak membenarkan tindakan teror, apalagi membunuh,” jelasnya.
Lebih lanjut, dia mengatakan, moderasi beragama, sebuah gagasan membangun tolerasi, sikap anti kekerasan dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal.
“Dalam sejarah masyarakat Aceh, kita punya kearifan lokal yang matang terkait toleransi dan moderat. Sejarah keberagaman orang Aceh sudah teruji. Dalam perspektif sejarah, sulit orang Aceh terpapar radikalisme dan terorisme,” ungkapnya lagi.
Namun, lanjutnya lagi, situasi kini sudah berubah karena sejumlah orang Aceh terlibat dalam jaringan terorisme. Malah, Pergunungan Jalin Jantho Tahun 2010 di Kabupaten Aceh Besar, sempat menjadi pusat pelatihan terorisme terbesar di Indonesia ketika itu.
“Makanya jangan heran, dimana saja ada aksi terorisme, ada kata Aceh didalamnya, karena mereka pernah ikut pelatihan di Jalin Janto Aceh Besar,” ujarnya.
“Untuk itu, sekarang harus ada gagasan supaya generasi muda dibahani pelajaran sejarah Aceh yang toleran dan moderat. Kita ini masyarakat kosmopolit, masyarakat terbuka. Makanya generasi Aceh kedepan harus berfikir terbuka,” tukasnya.
Menurut catatan kami (FKPT Aceh), seseorang yang terlibat dalam kelompok terorisme, itu pasti melalui proses sikap intoleransi. Itu puncak awalnya, baru kemudian tahapan berikut menjadi radikal dan terorisme.
Oleh karena itu, perlu sikap dan tindakan hidup yang toleran. “Hindari berhubungan dengan kelompok yang suka menyalahkan amaliyah orang lain, suka membidahkan kelompok lain, suka mengkafirkan orang lain, kehidupan yang eksklusif, dan tergabung dalam organisasi ekstrimis,” pungkasnya. []
Share berita ini