DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepergian H. Sjamsul Kahar meninggalkan ruang kosong bagi dunia pers Aceh. Wartawan senior yang ikut membangun fondasi perkembangan media di Tanah Rencong itu dikenang bukan hanya karena karya jurnalistiknya, tetapi juga karena keteguhan dan pengabdiannya sepanjang puluhan tahun.
Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau akrab disapa Dek Fadh menilai wafatnya Sjamsul Kahar menjadi kehilangan besar bagi Aceh.
Di mata Dek Fadh, Sjamsul bukan sekadar wartawan senior. Almarhum merupakan bagian dari generasi pers yang ikut membangun ruang informasi bagi masyarakat Aceh ketika daerah ini melewati berbagai masa sulit.
“Kepergian H. Sjamsul Kahar merupakan kehilangan besar bagi Aceh. Beliau telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia jurnalistik dan membangun ruang informasi yang sangat penting bagi masyarakat Aceh,” kata Dek Fadh ungkapnya kepada Dialeksis.
Menurut dia, perjalanan panjang Sjamsul Kahar memperlihatkan keteguhan seorang jurnalis dalam menghadapi berbagai situasi. Dari masa konflik hingga bencana tsunami, pers tetap berusaha hadir di tengah masyarakat.
Dek Fadh menilai kemampuan mempertahankan keberlangsungan media pada masa-masa sulit merupakan salah satu warisan penting yang ditinggalkan Sjamsul Kahar.
“Beliau melewati banyak fase berat dalam sejarah Aceh. Dalam situasi konflik maupun setelah tsunami, pers tetap hadir memberikan informasi kepada masyarakat. Keteguhan seperti ini menjadi warisan yang sangat berharga bagi generasi jurnalis hari ini,” ujarnya.
Bagi Dek Fadh, peninggalan Sjamsul tidak berhenti pada institusi pers yang ikut dibangunnya. Lebih dari itu, terdapat nilai kedisiplinan, keberanian dan tanggung jawab terhadap kepentingan publik yang patut diwarisi insan pers.
“Yang beliau tinggalkan bukan hanya sebuah institusi media, tetapi juga nilai tentang disiplin, keberanian, tanggung jawab, dan pentingnya pers menjaga kepentingan publik,” katanya.
Abu Sibreh: Karya dan Manfaat Akan Tetap Hidup
Kenangan terhadap Sjamsul Kahar juga disampaikan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk. H. Faisal Ali atau yang akrab disapa Abu Sibreh.
Abu Sibreh melihat perjalanan hidup Sjamsul dari sudut yang lebih reflektif. Baginya, pengabdian seseorang tidak semata diukur dari jabatan yang pernah diduduki, tetapi dari manfaat yang ditinggalkan bagi masyarakat.
Ia menyebut Sjamsul sebagai salah seorang tokoh Aceh yang mengabdikan sebagian besar hidupnya melalui dunia pers.
“Almarhum H. Sjamsul Kahar merupakan salah seorang tokoh yang telah lama mengabdikan dirinya untuk masyarakat melalui dunia pers. Melalui media, beliau ikut mencerdaskan masyarakat, membuka ruang informasi, serta merekam perjalanan Aceh dari masa ke masa,” ujar Abu Sibreh kepada Dialeksis.
Menurutnya, pers memiliki tanggung jawab yang besar karena informasi dapat membentuk pemahaman masyarakat. Karena itu, pekerjaan jurnalistik yang dilakukan dengan benar dan penuh tanggung jawab merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan manfaat.
“Pers memiliki tanggung jawab yang besar. Informasi yang benar dapat menjadi jalan untuk menghadirkan kemaslahatan. Dalam perjalanan panjangnya, almarhum telah mengambil bagian dalam tugas besar tersebut,” katanya.
Abu Sibreh mengingatkan bahwa umur manusia memiliki batas. Sebaliknya, karya, ilmu dan manfaat yang diberikan seseorang kepada masyarakat dapat terus dikenang bahkan setelah orang tersebut tiada.
“Manusia akan kembali kepada Allah. Yang tertinggal adalah amal, ilmu yang bermanfaat, serta kebaikan yang pernah diberikan kepada orang lain. Insya Allah, berbagai karya dan kontribusi almarhum kepada dunia pers Aceh menjadi bagian dari amal yang terus dikenang,” ujarnya.
Warisan untuk Pers Aceh
Sjamsul Kahar berpulang pada Kamis, 24 September 2026. Kepergiannya menutup perjalanan panjang salah seorang tokoh yang hidupnya lekat dengan perkembangan pers Aceh.
Ia dikenal sebagai wartawan senior, mantan Ketua PWI Aceh tiga periode, serta salah seorang tokoh penting di balik tumbuhnya Harian Serambi Indonesia.
Namun bagi mereka yang mengenangnya, ukuran pengabdian Sjamsul Kahar bukan hanya pada berapa lama ia bekerja sebagai wartawan atau berapa banyak jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya.
Dek Fadh melihat keteguhan dan tanggung jawab jurnalistik sebagai warisannya. Sementara Abu Sibreh melihat karya dan manfaat yang ditinggalkan sebagai bagian dari pengabdian yang melampaui usia.
Dua pandangan itu bertemu pada satu titik yakni Sjamsul Kahar telah meninggalkan jejak panjang bagi Aceh.
“Atas nama Pemerintah Aceh dan pribadi, kami menyampaikan belasungkawa. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala kekhilafan dan menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya,” ujar Dek Fadh.
Abu Sibreh turut mengajak masyarakat, terutama insan pers Aceh, mendoakan almarhum.
“Kita doakan semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa beliau, menerima seluruh amal kebajikannya, melapangkan kuburnya dan menempatkannya bersama orang-orang saleh. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah memberikan kesabaran dan keikhlasan,” katanya.
Share berita ini