DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Seulawah Team Universitas Syiah Kuala (USK) kembali mempersiapkan diri mengikuti Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 yang akan digelar pada Agustus mendatang.
Kompetisi bergengsi tingkat nasional itu menjadi ajang bagi tim untuk mengembangkan inovasi di bidang Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat tanpa awak sekaligus membawa nama baik Aceh dan Universitas Syiah Kuala.
General Manager Seulawah Team, Kevin Adiatma, mengatakan keikutsertaan tim dalam KRTI merupakan bentuk komitmen untuk terus belajar, berinovasi, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam pengembangan teknologi pesawat tanpa awak.
"Setiap tahun kami berupaya mengikuti KRTI sebagai wadah untuk mengasah kemampuan anggota tim, baik dalam bidang desain, manufaktur, pemrograman, maupun sistem kendali UAV. Ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga proses pembelajaran yang sangat berharga," kata Kevin kepada media dialeksis.com, Jumat (10/7/2026).
Seulawah Team merupakan tim robot terbang USK yang dibentuk pada 2016. Sejak awal berdiri, tim ini aktif mengikuti berbagai kompetisi nasional maupun internasional di bidang teknologi dirgantara, khususnya robot terbang.
Saat ini, Seulawah Team beranggotakan 24 mahasiswa yang berasal dari empat program studi, yakni Teknik Mesin, Teknik Kimia, D3 Listrik, dan Teknik Komputer. Tim ini berada di bawah bimbingan dosen dari Program Studi Teknik Mesin USK.
Dalam pengembangannya, Seulawah Team juga bekerja sama dengan Cempala Aeromodelling Club Banda Aceh. Selain itu, tim ini menjadi bagian dari Seulawah Aero Club yang berada di bawah naungan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Provinsi Aceh.
Kevin menjelaskan, fokus utama tim adalah mengembangkan teknologi UAV yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai sektor kehidupan.
"Teknologi UAV saat ini memiliki peran yang sangat luas. Tidak hanya untuk kompetisi, tetapi juga dapat digunakan dalam dokumentasi udara, pemetaan wilayah, pemantauan lingkungan, pertanian presisi, inspeksi bangunan, hingga membantu proses pencarian dan pemantauan saat terjadi bencana," ujarnya.
Menurutnya, penguasaan teknologi UAV menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung kemandirian teknologi nasional, sejalan dengan tema KRTI 2026, yakni "Menuju Kemandirian Teknologi Nir Awak."
Ia menambahkan, Seulawah Team tidak hanya berorientasi pada prestasi kompetisi, tetapi juga menjadi wadah pengembangan kreativitas mahasiswa di bidang robotika dan teknologi penerbangan tanpa awak.
"Kami ingin menghasilkan produk yang membanggakan Universitas Syiah Kuala sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan desain, manufaktur, elektronika, hingga pemrograman dalam bidang unmanned system," jelas Kevin.
Sementara itu, salah seorang perakit di Seulawah Team, Rauhul Haq, mengatakan proses perancangan UAV membutuhkan kolaborasi lintas disiplin ilmu karena setiap anggota memiliki tanggung jawab sesuai bidang keahliannya.
"Pengembangan UAV tidak hanya soal membuat pesawat dapat terbang. Kami juga harus memastikan sistem kendali, struktur, perangkat elektronik, hingga perangkat lunaknya bekerja secara optimal agar mampu menjalankan misi sesuai kebutuhan kompetisi," ungkap Rauhul.
Ia berharap keikutsertaan Seulawah Team pada KRTI 2026 mampu memberikan hasil terbaik sekaligus melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Kami berharap dapat terus meningkatkan prestasi, menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat nyata, serta membawa nama baik Seulawah Team, Universitas Syiah Kuala, dan Aceh di tingkat nasional," pungkasnya. [nh]
Share berita ini