Setelah Sjamsul Kahar Pergi, Kenangan Ini Bermunculan

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kabar itu bergerak cepat dari satu layar ke layar lain. Sejak Kamis dini hari, 24 September 2026, linimasa media sosial, grup percakapan wartawan, hingga kanal digital lembaga dipenuhi ucapan duka untuk H. Sjamsul Kahar.

Pendiri sekaligus Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia itu meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh, sekitar pukul 02.20 WIB. Usianya 80 tahun. Ia sebelumnya menjalani perawatan intensif sejak 13 September 2026.

Namun, di antara banyak ucapan belasungkawa, ada hal lain yang menonjol. Mereka yang pernah bersentuhan dengan Sjamsul tidak hanya mengenangnya sebagai pemimpin perusahaan pers. Ada yang mengingatnya sebagai ayah, guru jurnalistik, pelindung wartawan, pemberi kesempatan, hingga orang yang diam-diam banyak membantu sesama.

Penelusuran digital Dialeksis terhadap unggahan dan percakapan publik pada 24 - 25 September 2026 menemukan sejumlah kesaksian yang menggambarkan sisi-sisi tersebut.

Kabar pertama datang dari keluarga. Nezar Patria, putra Sjamsul Kahar yang menjabat Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, menyampaikan berita kepergian ayahnya melalui akun Facebook pribadinya.

Dalam unggahan itu, Nezar mengabarkan bahwa ayahandanya telah berpulang di RSUDZA dan meminta masyarakat memaafkan segala kesalahan serta kekhilafan almarhum. Jejak unggahan Facebook tersebut antara lain dikutip Acehkini.id dan AcehXpose.

Di luar perannya sebagai tokoh pers, Nezar mengenang ayahnya dari ruang yang lebih pribadi. Bagi keluarga, Sjamsul adalah sosok ayah yang bertanggung jawab dan sumber inspirasi. "Bapak telah meninggalkan kita semua," kata Nezar dalam keterangan yang kemudian dikutip sejumlah media.

"Beliau Orang yang Sangat Baik"

Kabar duka itu kemudian bergerak ke berbagai grup WhatsApp jurnalis di Aceh.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh Reza Munawir termasuk yang menyampaikan belasungkawa. Kalimatnya pendek, tetapi memberikan kesaksian tentang sosok Sjamsul di mata sesama pekerja pers.

"Beliau orang yang sangat baik," kata Reza dalam percakapan yang dikutip Antara.

Ucapan serupa muncul dari orang-orang yang pernah bekerja cukup lama di lingkungan Serambi Indonesia.

Islafardi, atau akrab disapa Ucok, bekerja di Harian Serambi Indonesia sejak Mei 1989 hingga pensiun pada 2022. Ia mengenang Sjamsul sebagai pemimpin yang bersahaja, rendah hati, dan memiliki kepedulian besar kepada karyawan.

"Almarhum merupakan sosok yang bersahaja dan sangat banyak membantu orang lain, terutama karyawan," kata Ucok sebagaimana dimuat AcehXpose.

Ucok juga mengingat satu sifat lain: Sjamsul tidak membiarkan wartawan menghadapi sendiri risiko dari pekerjaan jurnalistik. Menurut dia, Sjamsul memberikan perhatian dan perlindungan kepada bawahannya, terutama ketika pemberitaan menimbulkan persoalan atau tekanan.

Kesaksian itu memberi gambaran tentang Sjamsul dari balik meja pemimpin umum: bukan semata orang yang memikirkan koran harus terbit, tetapi juga siapa yang bekerja untuk menerbitkannya.

Pelajaran Pendek yang Membekas Puluhan Tahun

Kenangan yang lebih personal datang dari Ayi Jufridar, mantan wartawan dan karyawan Serambi Indonesia.

Dalam tulisan kenangannya di Portalnusa, Ayi mengingat kembali wawancara saat ia mengikuti seleksi wartawan Serambi Indonesia pada 1997. Sjamsul ketika itu meminta Ayi menulis berita berdasarkan sebuah peristiwa kecelakaan fiktif.

Ayi mencatat hampir seluruh informasi. Tetapi ia lupa satu unsur penting: kapan peristiwa itu terjadi.

Ketika Ayi beralasan Sjamsul memang tidak menyebutkan waktunya, jawaban yang diterimanya justru menjadi pelajaran jurnalistik yang diingat hingga puluhan tahun kemudian.

"Tugas Anda sebagai wartawan itu bertanya!" kata Sjamsul.

Bagi Ayi, satu kalimat itu menjelaskan pandangan Sjamsul terhadap profesi wartawan: jurnalis tidak cukup hanya mencatat. Ia harus bertanya, menguji informasi, dan memastikan fakta.

Kenangan lain muncul dari masa konflik Aceh. Seusai meliput korban peristiwa Simpang KKA pada Mei 1999, Ayi mengaku terpukul oleh pemandangan yang ditemuinya di rumah sakit. Pada malam hari, Sjamsul menelepon dan menguatkannya.

Pesannya sederhana: keadaan memang menekan, tetapi wartawan tetap harus menjalankan tugas sambil menjaga keselamatan.

Ayi kemudian menyebut Sjamsul bukan sekadar senior. Ia adalah "orang tua sekaligus guru jurnalistik".


Membuka Jalan bagi Anak Muda

Pengalaman hampir serupa dirasakan Aryos Nivada.

Peneliti politik dan keamanan Aceh itu mengenal Sjamsul sekitar 2008 ketika masih merintis kebiasaan menulis opini. Aryos mengatakan, dukungan Sjamsul ketika itu menjadi salah satu energi yang membuatnya terus menulis.

Menurut Aryos, Sjamsul tidak membangun tembok antara senior dan orang muda. Ia memberi kesempatan berdiskusi, mendorong orang yang mau belajar, dan memberikan kepercayaan ketika melihat kemampuan seseorang tumbuh.

"Saya bersaksi, almarhum Sjamsul Kahar adalah sosok yang baik," kata Aryos kepada Dialeksis, Kamis, 24 September 2026.

Aryos mengatakan kebaikan Sjamsul tidak selalu muncul di ruang publik. Banyak pertolongan diberikan tanpa banyak bicara dan tanpa berharap memperoleh pengakuan.

Menurut dia, salah satu warisan penting Sjamsul adalah kesediaan seorang senior membuka pintu bagi generasi berikutnya.

"Beliau sangat terbuka, komunikatif, mendukung anak muda," ujar Aryos.


Jejak dalam Sejarah Pers Aceh

Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Aceh Muktarrudin Usman melihat kehilangan Sjamsul dari perspektif sejarah pers.

Menurut Muktarrudin, perjalanan pers Aceh tidak bisa dilepaskan dari perusahaan-perusahaan pers yang mampu bertahan melewati berbagai zaman. Serambi Indonesia menjadi salah satunya, dan Sjamsul berada di dalam perjalanan panjang itu.

"Jejak pengabdianmu tetap hidup dalam sejarah pers Aceh," kata Muktarrudin dalam pernyataan SPS Aceh yang dipublikasikan Media Aceh.

Sjamsul memang melewati periode panjang perubahan pers Aceh. Namanya melekat dengan Harian Serambi Indonesia, media yang dirintis bersama M. Nourhalidyn dan terbit perdana pada 1989. Ia juga pernah memimpin PWI Aceh selama tiga periode.

Dari ruang redaksi, reputasinya kemudian bergerak jauh melampaui kantor media.


Duka dari Pemerintahan

Ucapan duka juga datang dari Pemerintah Aceh.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf menilai Sjamsul sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam perjalanan pers Aceh. Kiprahnya dalam membangun dan memimpin Serambi Indonesia, menurut Mualem, menjadi bagian dari perkembangan penyebaran informasi kepada masyarakat Aceh.

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah juga menyebut perjalanan Sjamsul sebagai bagian penting dari sejarah jurnalistik Aceh lintas generasi.

"Kepergian almarhum merupakan kehilangan bagi Aceh, khususnya bagi keluarga besar pers," kata Fadhlullah dalam pernyataan Pemerintah Aceh yang dimuat sejumlah kanal digital.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh Azhari pun menyampaikan penghormatan serupa. Ia menilai Sjamsul telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan informasi dan jurnalistik di Aceh.


Bukan Sekadar Nama di Kepala Koran

Rangkaian kesaksian itu memperlihatkan bagaimana seseorang dikenang setelah tidak lagi berada di tengah orang-orang yang mengenalnya.

Sjamsul Kahar memang meninggalkan sebuah institusi pers yang telah hidup selama puluhan tahun. Namanya tercatat dalam sejarah Serambi Indonesia dan organisasi pers Aceh.

Tetapi kesaksian yang memenuhi ruang digital setelah kepergiannya memperlihatkan peninggalan yang lebih personal.

Bagi seorang wartawan, ia adalah guru yang mengingatkan agar selalu bertanya. Bagi karyawan, ia adalah pimpinan yang memberi perlindungan. Bagi penulis muda, ia menjadi orang yang membuka pintu. Bagi kolega sesama jurnalis, ia dikenang sebagai orang baik.

Barangkali justru di situlah ukuran lain dari warisan seorang tokoh pers: bukan hanya berapa banyak berita yang pernah diterbitkan atau seberapa besar institusi yang dibangun, melainkan berapa banyak orang yang merasa pernah diberi kesempatan untuk tumbuh.

Sehari setelah Sjamsul Kahar pergi, jejak itulah yang ramai muncul kembali di layar-layar telepon.

Dan seperti kata Aryos Nivada, ada jasa seseorang yang tidak seluruhnya tercatat dalam berita atau sejarah. Ia tersimpan dalam ingatan mereka yang pernah dibantu, diberi kesempatan, dan dipercayai.

Share berita ini

dialeksis.com