DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pasca Irwandi Yusuf bebas bersyarat sambutan dari masyarakat sangat positif. Sosoknya yang dikenal sebagai bapak Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) ini disambut bak raja ketika Irwandi menginjak kakinya di bumi Serambi Mekkah.
Dosen FISIP USK, Jurusan Ilmu Pemerintahan, Saddam Rafsanjani mengatakan, terlepas dari sisi gelapnya yang sekarang sebagai mantan napi koruptor. Masyarakat Aceh akan selalu mengingat Irwandi sebagai bapak JKA, sebuah warisan pembangunan di bidang kesehatan yang belum bisa dilampaui oleh gubernur-gubernur Aceh lainnya.
“Jadi wajar apabila masih ada kelompok masyarakat yang masih menjadi pendukung setia Irwandi Yusuf,” katanya kepada Dialeksis.com, Selasa (1/11/2022).
Dia mengatakan, sejak hadirnya Irwandi di Aceh, pergerakan arus politik di Aceh menurutnya tidak berubah drastis. Namun, perubahan peta politik pasti akan terjadi, terutama PNA yang kini mendapatkan kembali ruhnya.
“Tidak bisa dipungkiri bahwa beliau adalah sosok yang visioner dan berpengalaman. Walaupun tidak berkontestasi, minimal beliau bisa menuangkan gagasannya ke dalam tubuh partai,” tukasnya.
Menurutnya, sejak kepergian Irwandi, PNA jadi terpecah dan kehilangan arah. “Kembalinya Irwandi bisa saja kembalikan situasi menjadi kondusif terhadap suasana partai. Namun dengan catatan PNA kubu Tiyong mau merapatkan kembali barisan dengan PNA kubu Irwandi/Darwati. Ini pekerjaan rumah yang besar,” jelasnya.
Lanjutnya, butuh waktu Irwandi mengembalikan magisnya. Jika berbicara 2024 tentu butuh kerja keras dan intensitas yang lebih.
“Untuk level partai, PA akan tetap superior dari PNA. Namun untuk sosok, Irwandi masih memiliki ketokohan yang lebih dari sosok pembesar partai yang ada di PA. Dan itu sangat tergantung pada strategi koalisi PNA nantinya,” pungkasnya. [ftr/bna]
Share berita ini