DIALEKSIS.COM | Meulaboh - Dosen Program Studi Sumber Daya Akuatik (SDA) FPIK Universitas Teuku Umar (UTU) berhasil mengantarkan UTU sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Provinsi Aceh yang lolos Program Titik Kumpul Sains dan Teknologi (Saintek) Tahun Anggaran 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.
Keberhasilan tersebut ditetapkan melalui Pengumuman Hasil Seleksi Proposal Nomor 425/DST/D.D4/PR.02.02/2026 pada 3 Agustus 2026. Kampus yang berkedudukan di Meulaboh ini berada di peringkat ke-12 nasional dari 16 perguruan tinggi yang dinyatakan lolos seleksi ketat. Proses ini dimulai dari seleksi administrasi, Expression of Interest (EoI), hingga evaluasi substansi yang diikuti ratusan usulan dari seluruh Indonesia.
Tim ini diketuai oleh Eka Lisdayanti, S.Kel., M.Si., dosen Program Studi Sumber Daya Akuatik (SDA) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UTU. Program yang diusung UTU berjudul “Mangrove Generation: Inkubasi Saintis Muda melalui Pengalaman Riset, Restorasi Mangrove, dan Karbon Biru Berbasis Living Laboratory Pesisir Aceh”.
Eka menjelaskan dalam pelaksanaannya tim peneliti akan mendampingi para siswa SMK Negeri 1 Samatiga turun langsung ke hamparan lumpur pesisir Aceh Barat. Kawasan hutan mangrove Samatiga diubah menjadi living laboratory tempat para pelajar memetakan wilayah kerusakan pantai, mengukur biomassa vegetasi, hingga menghitung potensi penyerapan karbon biru (blue carbon) yang tersimpan di ekosistem pesisir.
"Hutan mangrove Samatiga bukan sekadar benteng abrasi, melainkan ruang belajar kaya ilmu. Di sana, para siswa belajar memetakan karbon biru, mengukur biomassa, dan memahami isu perubahan iklim global secara akurat dari hamparan lumpur pesisir tempat mereka tumbuh," ujar Eka Lisdayanti saat ditemui di Kampus UTU.
Melalui pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan, para siswa mengumpulkan data primer dengan supervisi dosen serta peneliti UTU. Kolaborasi ini menghasilkan basis data lingkungan yang sahih sekaligus melatih keterampilan analisis ilmiah siswa sejak bangku sekolah. Tak berhenti pada pengumpulan data, para pelajar juga diajak melakukan pembibitan serta penanaman kembali vegetasi pantai untuk memulihkan kawasan yang rusak.
Eka menjelaskan, model pembelajaran luar ruangan ini dirancang untuk menjembatani teori sains di bangku kuliah dengan realitas lingkungan yang dihadapi masyarakat pesisir sehari-hari.
Pendekatan ini membawa dampak langsung bagi kawasan pesisir Samatiga. Pembibitan dan penanaman vegetasi mangrove memperkokoh pelindung alami daratan dari ancaman gelombang laut dan abrasi. Disisi lain, keterlibatan aktif generasi muda dalam kegiatan pengukuran karbon dan pemulihan alam menumbuhkan literasi iklim serta membuka minat karir mereka di bidang sains kelautan dan keanekaragaman hayati.
Lolosnya proposal UTU menempatkan kampus asal Aceh ini sejajar dengan 15 perguruan tinggi penerima pendanaan lainnya dari berbagai wilayah Indonesia, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Batam, Sumbawa, hingga Maluku.
Program Titik Kumpul Saintek sendiri berada di bawah naungan skema SEMESTA (Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Kemajuan Sains dan Teknologi Nusantara) bentukan Kemdiktisaintek. Skema ini mengarahkan perguruan tinggi untuk mendampingi pembentukan dan pengembangan klub sains inklusif di sekolah-sekolah, sehingga sains dapat dipelajari secara aplikatif dan berakar pada kebutuhan ekologi daerah setempat.
Share berita ini