DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Komunitas Sahabat Hijau (SAHI) Banda Aceh melakukan evaluasi dan monitoring program Waste Collecting Point (WCP) Gano, Desa Lamdingin, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Senin (28/9/2026).
Evaluasi dilakukan untuk melihat perkembangan program yang sudah berjalan 1,5 tahun sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi masyarakat selama pelaksanaan periode pertama.
Founder sekaligus Pembina Komunitas Sahabat Hijau Banda Aceh, Dr. Yusrida Arnita SP, M.Sc mengatakan evaluasi tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat berjalan secara berkelanjutan.
Menurut Yusrida, pelaksanaan WCP Gano telah mendapat partisipasi masyarakat selama setahun, namun masih terdapat sejumlah persoalan terutama terkait kondisi depo wcp yang belum tersedia terlalu lama.
“Evaluasi ini kita lakukan untuk melihat apa saja yang menjadi kendala di lapangan karena sudah hampir 4 bulan peserta kelompok wcp tidak aktif memilah sampah lagi. Pertemuan ini sekaligus mendengarkan masukan dari masyarakat agar pelaksanaan pengelolaan sampah sistem WCP ini ke depan bisa lebih baik,” kata Yusrida kepada media dialeksis.com, Senin (28/9/2026).
Ia juga menjelaskan, salah satu persoalan yang ditemukan adalah sampah yang telah dikumpulkan belum diangkut selama beberapa minggu. Kondisi tersebut menyebabkan sampah menumpuk dan semakin bermasalah ketika turun hujan.
“Sampah yang berada di ruang terbuka tentu akan basah ketika hujan. Ini bisa memengaruhi kualitas sampah yang memiliki nilai ekonomi dan juga kenyamanan lingkungan,” ujarnya.
Yusrida mengatakan, fasilitas depo WCP sudah tersedia dalam dua bulan ini yang danai oleh Dinas Perkim Kota Banda Aceh, Namun, lokasi lahan untuk penempatan fasilitas Depo WCP masih belum tersedia karena dusun gano ini padat penduduk.
“Lokasi penempatan depo WCP ini harus dekat dengan masyarakat supaya warga mudah menyetorkan sampah. Tetapi warga gano masih sulit menetapkan lokasinya karena gang lorongnya sempit-sempit,” katanya.
Hasil evaluasi disepakati oleh warga dusun gano, mereka masih semangat memilah sampah, namun kami rembukkan kembali lokasi yang tepat untuk penyediaan depo wcpnya.
Ia menambahkan, pencatatan jumlah dan jenis sampah juga perlu dilakukan secara lebih teratur sehingga perkembangan kegiatan dan hasil penjualan dapat diketahui dengan jelas.
Dalam evaluasi tersebut, mekanisme pembagian hasil penjualan sampah juga menjadi salah satu pembahasan. Sebab, jumlah sampah yang disetorkan masing-masing warga berbeda, sementara hasilnya selama ini dibagikan secara merata.
Yusrida menyebut pembagian secara merata merupakan bagian dari semangat kebersamaan dan kepedulian sosial. Namun, mekanisme tersebut tetap perlu dikomunikasikan secara terbuka kepada seluruh warga.
“Yang paling penting adalah adanya kesepakatan bersama. Apakah hasilnya dibagi berdasarkan jumlah setoran, dibagi secara merata, digunakan sebagian untuk kegiatan lingkungan, atau menggunakan kombinasi beberapa mekanisme,” ujarnya.
Selain itu, evaluasi juga membahas perubahan kepengurusan WCP Gano. Ketua WCP Gano menyampaikan keinginan untuk mengundurkan diri karena memiliki kegiatan dan tanggung jawab lainnya.
Meski demikian, yang bersangkutan masih menyatakan keinginan untuk tetap terlibat dalam kegiatan WCP.
Yusrida mengatakan penataan kembali kepengurusan akan dilakukan secara bertahap melalui komunikasi dan musyawarah bersama warga yang terlibat.
“Kita ingin memastikan ada pengelola yang bisa menjalankan WCP secara berkelanjutan. Karena keberhasilan program ini bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga partisipasi dan komitmen masyarakat dalam wujudkan Banda Aceh Bersih,” katanya.
Dalam acara yang masih sama, Ketua Komunitas Sahabat Hijau Banda Aceh, Muhammad Fathan Mubina, bersama pengelola dan warga WCP Gano juga akan dilibatkan dalam proses tindak lanjut program tersebut.
Sementara itu, dalam kegiatan WCP Gano periode pertama, tiga warga tercatat sebagai penerima apresiasi, yakni Salbiyah yang memperoleh paket gardening, serta Nurjannah dan Fitriah.
Yusrida berharap evaluasi tersebut dapat menjadi dasar perbaikan sehingga WCP Gano berkembang menjadi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.
“Harapannya masyarakat semakin terbiasa memilah sampah dari rumah dan melihat bahwa sampah bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga bisa dikelola sehingga memberikan manfaat sosial dan ekonomi,” pungkasnya. [nh]
Share berita ini