RSUDZA Berhasil Lakukan Terapi Sel Punca Intratekal Perdana untuk Cedera Tulang Belakang.

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Aceh berhasil melaksanakan terapi sel punca intratekal atau intrathecal stem cell untuk pertama kalinya bagi pasien dengan cedera tulang belakang.

Tindakan medis tersebut dilakukan pada Selasa (4/8/2026) dan menjadi langkah awal pengembangan layanan terapi regeneratif di Aceh.

Pelaksanaan terapi dilakukan melalui kolaborasi tim medis RSUDZA dengan Tim Stem Cell RSUP dr. Sardjito dalam Program PMK Stem Cell untuk Ortopedi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Prosedur tersebut turut mendapat dukungan Prostem Prodia sebagai penyedia produk sel punca.

Ketua Tim Medis RSUDZA, Prof. dr. Azharuddin, Sp.OT, Subsp. O.T.B (K), mengatakan keberhasilan tindakan perdana itu menjadi tonggak penting dalam pengembangan layanan kesehatan berbasis terapi regeneratif di Aceh.

"Terapi ini memberikan harapan baru bagi pasien cedera tulang belakang. Namun perlu dipahami bahwa stem cell bukanlah terapi instan yang langsung menyembuhkan kelumpuhan," ujar Azharuddin, Kamis (6/8/2026).

Menurut dia, terapi sel punca tetap harus didukung penanganan medis lainnya, termasuk operasi apabila diperlukan dan rehabilitasi medis secara berkesinambungan. Penanganan juga harus dilakukan dengan mengacu pada standar etik kedokteran dan keselamatan pasien.

Diberikan Bertahap

Dalam tindakan perdana tersebut, pasien mendapatkan total 80 juta sel punca. Pemberian sel punca dilakukan secara bertahap. Pada penyuntikan pertama, sebanyak 48 juta sel diberikan kepada pasien, sedangkan sisanya akan diberikan pada tahap berikutnya.

Terapi tersebut diharapkan dapat memberikan peluang pemulihan saraf yang lebih optimal.

Azharuddin menjelaskan, spinal cord injury atau cedera medula spinalis merupakan salah satu bentuk trauma berat yang dapat menyebabkan gangguan kemampuan motorik dan sensorik secara drastis.

Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam pemulihan karena jaringan saraf memiliki kemampuan regenerasi yang terbatas.Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah penggunaan Umbilical Cord Mesenchymal Stem Cell (UC-MSCs) melalui metode intratekal.

Pada metode ini, sel punca disuntikkan ke ruang cairan yang melindungi saraf tulang belakang. Terapi tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung proses pemulihan sel saraf, membantu mengurangi peradangan, serta meningkatkan kualitas hidup pasien.

"Stem cell bukanlah obat ajaib yang langsung menghilangkan kelumpuhan dalam sekali penyuntikan," kata Azharuddin.

Ia menegaskan, terapi sel punca merupakan bagian dari pendekatan medis modern yang penerapannya harus berdasarkan kaidah ilmiah dan standar pelayanan kesehatan.

"Terapi sel punca merupakan pendukung kuat proses penyembuhan alami tubuh yang harus dipadukan dengan tindakan operasi, rehabilitasi medis, serta penerapan standar etik kedokteran dan keselamatan pasien secara ketat agar hasil terapi dapat optimal," ujarnya.

Dikembangkan Berkelanjutan di Aceh

Keberhasilan tindakan perdana ini menjadi pijakan awal bagi RSUDZA untuk mengembangkan layanan terapi sel punca secara berkelanjutan di Aceh.

Manajemen RSUDZA bersama Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) berharap layanan terapi regeneratif dapat terus dikembangkan dengan mengutamakan aspek keamanan, regulasi, dan standar pelayanan medis.

Pengembangan layanan tersebut diharapkan dapat membuka peluang penanganan bagi pasien dengan cedera saraf tulang belakang maupun berbagai kasus ortopedi yang berpotensi memperoleh manfaat dari terapi sel punca. [*]

Share berita ini

dialeksis.com