DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Filantropi dapat diartikan sebagai tindakan sukarela dan kedermawanan yang dilakukan untuk kepentingan publik. Adapun sejarah Filantropi di Indonesia bermula dari unsur Filantropi Tradisional yang bersumber dari agama, terutama Kristen dan Islam.
Lebih jauh, Dialeksis.com, Selasa (15/11/2022), mentracking Kampus di Indonesia yang sudah mulai menerapkan sistem Filantropi ini.
Salah satu diantaranya adalah Universitas Al-Azhar Indonesia yang berkolaborasi dengan lembaga filantropi dalam mendorong pelaku UMKM untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan kebangkitan ekonomi nasional.
Mengutip dari laman resmi Universitas Al-Azhar Indonesia, Ketua Baznas Indonesia, KH Noor Achmad, menyebutkan pihaknya mengapresiasi kepedulian dari Menparekraf RI Sandiaga Salahuddin Uno dalam mengingatkan masyarakat akan pentingnya zakat untuk mendorong pergerakan ekonomi bangsa.
“Zakat merupakan salah satu potensi penggerak pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Apalagi masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius, dermawan, dan memiliki kepedulian sosial terhadap orang di sekitar yang membutuhkan bantuan,” ujar Noor Achmad.
Sementara itu, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, Prof Dr Ir Asep Saefuddin, melihat ekosistem pemberdayaan oleh Baznas dan pemerintah ini sangat baik untuk meningkatkan kualitas SDM di Indonesia.
“Konsep zakat sama dengan basis ekonomi endogen yang mengakar akan menjadi instrumen penggerak untuk percepatan pertumbuhan ekonomi,” ujar Asep Saefuddin.
UIN Ar Raniry Banda Aceh Bakal Terapkan Filantropi
Menanggapi itu, Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Mujiburrahman, MAg ketika diwawancara Dialeksis.com, Selasa (15/11/2022) memang tengah menyusun konsep tentang sistem Filantropi yang akan diterapkan di Kampus untuk membantu dan meringankan beban Mahasiswa/i yang tengah melanjutkan pendidikannya di UIN Ar Raniry.
“Karena kita memahami betul bahwa banyak mahasiswa kita yang berasal dari keluarga kurang mampu, sehingga ada dari mereka yang tidak dapat melanjutkan kuliah karena tidak ada biaya untuk membayar UKT, atau untuk membayar sewa kos, bahkan terkadang ada dari kalangan mahasiswa kita yang untuk biaya kebutuhan sehari-hari selama kuliah tidak tercukupi,” ujarnya Prof Mujiburrahman ketika di wawancara di salah satu kedai kopi di Banda Aceh.
“Atas dasar pemikiran tersebut, ke depan kita akan membenahi manajemen pengelolaan BAZIS UIN Ar-Raniry dalam bentuk Lembaga Filantropi yang lebih baik dan profesional,” tambahnya.
Lanjutnya, melalui manajemen lembaga ini nantinya, semua informasi dan data tentang keluhan dan persoalan yang dihadapi mahasiswa khususnya berkaitan dengan biaya pendidikan mereka. Sehingga dengan kehadiran lembaga Filantropi UIN Ar-Raniry yang menghimpun dana zakat, hibah, sedekah dan bantuan dana dari berbagai pihak lainnya.
“Dana tersebut akan dipergunakan untuk membantu kebutuhan pendidikan mahasiswa kita yang kurang mampu, baik untuk bayar UKT, bayar sewa Kos, atau untuk biaya hidup sehari-hari,” ucapnya.
“Jadi dananya itu berasal dari zakat, infaq, sedekah, dan bantuan lainnya untuk mahasiswa yang kurang mampu. Sumber dananya bisa dari dosen, karyawan, CSR, hingga pihak-pihak lain,” tambahnya.
Dia mengatakan, untuk semantara ini kami akan fokus untuk membantu kalangan mahasiswa yang kurang mampu, belum diarahkan kepada masyarakat secara umum. Nanti kalau manajemen keuangan kita sudah kuat tidak tertutup kemungkinan kita akan membantu masyarakat di sekitar kampus dan masyarakat Aceh secara luas.
Lebih lanjut, ia mengatakan, pastinya keberadaan lembaga Filantropi ini menjadi lahan amal bagi seluruh civitas akademika UIN Ar-Raniry, juga kepada masyarakat di luar kampus secara luas.
“Setiap mahasiswa yang mengalami masalah biaya dalam proses kuliahnya, dapat mengadu dan menyampaikan keluhannya kepada pengelola lembaga filantropi, kemudian semua laporan dan keluhan tersebut diperiksa dan ditindaklanjuti secara cepat,” jelasnya.
Sehingga, kata Prof Mujib, melalui proses ini ke depan tidak lagi mendengar ada mahasiswa UIN Ar-Raniry yang putus kuliah karena tidak dana untuk membayar UKT, ada mahasiswa yang kelaparan karena tidak ada biaya untuk beli makanan. [ftr/bna]
Share berita ini