Rektor 'Humoris Causa' Pimpin ATL Aceh, Apa Gebrakan Pertamanya?

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Musyawarah Daerah Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Aceh baru-baru ini secara resmi menetapkan sosok rektor humoris causa, Fauzan Santa, sebagai Ketua ATL Aceh periode 2026 - 2031. Terpilihnya Fauzan menjadi angin segar bagi langkah strategis pelestarian budaya di Serambi Mekkah, mengingat ATL merupakan sebuah lembaga profesi independen yang telah terakreditasi oleh UNESCO.

Pasca dikukuhkan dan ditetapkan, Dialeksis berkesempatan menghubungi Fauzan Santa untuk berdiskusi mendalam mengenai arah kemudi dan visi ATL ke depannya. Menanggapi mandat baru tersebut, Fauzan menyambutnya dengan antusiasme tinggi sekaligus kesadaran akan tanggung jawab besar yang menantinya.

"Saya sangat bahagia. Pertama, tentu karena saya diberi kuasa dan ruang lebih untuk dapat bekerja lebih keras lagi, mengingat sebelumnya saya juga sudah lama menjadi bagian dari keluarga besar ATL Aceh," ungkap Fauzan saat diwawancarai.

Ia memaparkan filosofinya mengenai kondisi kebudayaan saat ini. Bagi Fauzan, tradisi lisan bukanlah sekadar masa lalu, melainkan identitas yang terancam. 

"Tradisi lisan adalah ruang kebudayaan sunyi yang kelak bisa membisu dan lenyap jika diabaikan. Perlu banyak usaha keras untuk membuat ruang itu bergema terus di tengah arus kelisanan modern dan gempuran digitalisasi yang seringkali malah mereduksi nilai kemanusiaan kita. Lebih dari 15 tahun saya berkutat riang di wilayah itu, dan menjaganya adalah sebuah panggilan jiwa," tegasnya.

Terkait langkah strategis yang akan dikerjakannya selaku Ketua ATL Aceh yang baru, Fauzan menekankan pentingnya adaptasi. Fokus utamanya adalah mewarisi semangat pelestarian dan pemanfaatan tradisi lisan yang hidup subur di Aceh, namun dengan pendekatan yang relevan dengan zaman.

"Ke depan, kami akan menata lebih baik arsip-arsip lisan Aceh dengan sentuhan teknologi informasi terkini. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan laci-laci berdebu sehingga digitalisasi adalah jembatan agar generasi muda bisa mengakses dan mencintai sejarah mereka. Di samping itu, kami akan mempererat kerja sama dengan para pihak terkait untuk penguatan kapasitas kelembagaan dan kualitas SDM. ATL membutuhkan sinergi kolektif," jelasnya.

Untuk program jangka pendek, Fauzan telah merancang gebrakan awal berupa reaktivasi ruang-ruang diskusi. Ia berencana membuka kembali percakapan akademik maupun populer untuk memperdalam pengertian masyarakat terhadap esensi tradisi lisan. Harapannya, wacana kebudayaan kembali menjadi topik hangat dari ruang kampus hingga ke warung kopi.

Saat Dialeksis menanyakan bagaimana potret kondisi tradisi lisan di Aceh saat ini, Fauzan memberikan pandangan yang optimis. "Sejauh ini kondisinya terjaga dengan baik. Apalagi di Aceh perlahan mulai tumbuh kesadaran kolektif, terbukti dari banyaknya lembaga kebudayaan sejenis yang juga memberikan perhatian serius. Ekosistem ini saling menopang satu sama lain."

Di akhir perbincangan, Fauzan menitipkan pesan penting sekaligus rekomendasi kepada pemerintah daerah agar upaya penguatan tradisi lisan dapat berjalan lebih masif. Ia mengingatkan kembali peran fundamental negara dalam memajukan kebudayaan.

"Pemerintah pada hakikatnya adalah fasilitator kebudayaan, termasuk pelestari tradisi lisan. Memberi dukungan berupa penyediaan alat, fasilitas tempat, rancangan program, dan pendanaan kegiatan adalah kunci dari kerja fasilitasi tersebut. Namun lebih dari itu, kami berharap ada political will yang nyata. Pemerintah harus melihat tradisi lisan bukan sebagai beban anggaran masa lalu, melainkan sebagai investasi peradaban untuk masa depan," pungkas Fauzan seorang seniman, pembuat film, penulis, dan kurator asal Aceh yang aktif dalam dunia seni, budaya, serta perfilman. 


Share berita ini

dialeksis.com