Radar BMKG di Aceh Bisa Pantau Laut hingga 150 Km, Apa Manfaatnya bagi Nelayan?

DIALEKSIS.COM | Aceh Besar - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat pemantauan perairan Aceh dengan mengoperasikan teknologi High Frequency (HF) Radar Array di Ujong Batee, Kabupaten Aceh Besar. Perangkat ini mampu memantau dinamika laut hingga jangkauan 150 kilometer dan diharapkan membantu meningkatkan keselamatan pelayaran, aktivitas nelayan, serta mitigasi bencana di kawasan pesisir.

Pengoperasian radar tersebut diresmikan pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kehadirannya melengkapi perangkat serupa yang telah terpasang di Lam Teungoh, Aceh Besar, sehingga pemantauan kondisi perairan pantai utara Aceh dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa HF Radar Array mampu menyediakan informasi arus permukaan laut secara berkelanjutan. Teknologi ini juga mendukung pengamatan tinggi gelombang dan arah angin yang dibutuhkan untuk memahami perubahan kondisi perairan.

Informasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi nelayan sebelum melaut dan bagi kapal dalam menentukan pelayaran yang lebih aman. Data kondisi laut juga berpotensi membantu nelayan mengidentifikasi lokasi penangkapan ikan yang sesuai berdasarkan informasi oseanografi yang tersedia.

Mendukung Deteksi Dini Tsunami

Selain kepentingan aktivitas ekonomi kelautan, radar tersebut memiliki peran dalam memperkuat mitigasi bencana pesisir. Data yang dihasilkan dapat menjadi salah satu sumber pendukung dalam sistem deteksi dini tsunami, terutama untuk memantau perubahan dan anomali kondisi laut.

Namun, keberadaan radar ini tidak berarti tsunami dapat dipastikan atau diprediksi hanya melalui satu perangkat. Informasi HF Radar Array perlu dipadukan dengan instrumen pemantauan lain, analisis teknis, serta sistem peringatan resmi agar dapat dimanfaatkan secara tepat.

BMKG juga mengembangkan pemantauan melalui instrumen Tsunami Gauge yang mengamati perubahan muka air laut, termasuk fluktuasi pasang surut dan kedatangan gelombang tsunami. Data dari instrumen tersebut melengkapi informasi yang diperlukan untuk mendukung upaya mitigasi bencana.

Bagi Aceh, penguatan sistem pemantauan ini memiliki arti penting. Pengalaman tsunami pada 2004 memperlihatkan besarnya risiko bencana yang dihadapi masyarakat pesisir. Di sisi lain, dinamika atmosfer dan cuaca ekstrem juga dapat mengganggu aktivitas pelayaran, perikanan, serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada laut.

Karena itu, keberadaan teknologi observasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan data, tetapi juga bagaimana informasi tersebut diterjemahkan menjadi langkah antisipasi yang cepat dan tepat.

Terhubung dengan Pusat Data BMKG

HF Radar Array di Ujong Batee terhubung dengan pusat pengolahan data BMKG di Jakarta. Sistem tersebut juga didukung fasilitas pencadangan data di Bali untuk menjaga kesinambungan operasional dan pengelolaan informasi.

Fasilitas di Ujong Batee merupakan bagian dari jaringan 10 lokasi HF Radar hasil kerja sama Indonesia dan Prancis. Pengembangannya menjadi bagian dari upaya memperkuat infrastruktur observasi kelautan dan meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap risiko bencana.

Di Aceh, perangkat tersebut melengkapi Radar Cuaca C-Band yang digunakan BMKG untuk pengamatan cuaca. Kedua teknologi memiliki fungsi berbeda, tetapi dapat saling mendukung dalam penyediaan informasi meteorologi dan kondisi lingkungan.

Radar cuaca digunakan untuk mengamati fenomena atmosfer, termasuk perkembangan awan hujan. Sementara itu, HF Radar Array berfokus pada dinamika permukaan laut. Pembedaan fungsi ini penting agar masyarakat memahami jenis informasi yang dapat diperoleh dari setiap perangkat.

Teknologi Harus Diikuti Kesiapsiagaan

Penguatan teknologi pemantauan juga perlu dibarengi kemampuan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menggunakan informasi yang tersedia. Data yang akurat tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak diterjemahkan menjadi keputusan dan tindakan di lapangan.

BMKG mendorong pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota di Aceh agar lebih proaktif memanfaatkan informasi dari stasiun BMKG. Kesiapsiagaan bencana membutuhkan koordinasi antarlembaga, penyampaian informasi yang mudah dipahami, serta prosedur respons yang jelas ketika muncul ancaman.

Di sisi masyarakat, BMKG menjalankan program Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), Sekolah Lapang Iklim (SLI), dan Sekolah Lapang Geofisika (SLG). Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemahaman nelayan, petani, dan masyarakat mengenai informasi cuaca, iklim, serta langkah menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami.

Khusus bagi nelayan, pemahaman terhadap informasi cuaca dan kondisi laut dapat membantu menentukan waktu keberangkatan, menyiapkan perjalanan, serta mengurangi risiko saat menghadapi perubahan cuaca. Informasi tersebut tetap perlu digunakan bersama prosedur keselamatan dan peringatan resmi yang berlaku.

Pengembangan radar ini turut didukung kerja sama BMKG dengan Agence Française de Développement (AFD) dan mitra teknologi. Kolaborasi Indonesia-Prancis tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan observasi laut, mitigasi bencana, dan ketahanan masyarakat pesisir.

Pada akhirnya, manfaat radar di Ujong Batee tidak hanya ditentukan oleh jangkauan pemantauannya yang mencapai 150 kilometer. Keberhasilan teknologi ini juga bergantung pada kesinambungan operasional, kualitas pengolahan data, koordinasi antarlembaga, serta kemampuan masyarakat merespons informasi yang diterima.

Bagi Aceh yang memiliki wilayah pesisir luas dan masyarakat dengan ketergantungan tinggi terhadap sektor kelautan, penguatan observasi laut menjadi bagian penting dari upaya melindungi keselamatan sekaligus menjaga penghidupan warga.

Share berita ini

dialeksis.com