DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sejak statement yang mencengangkan publik oleh Taufiqulhadi membuat masyarakat Aceh masih saja ada yang berkomentar tentang statement tersebut yang mengaitkan sistem syariah islam di Aceh.
Statement Taufiqulhadi yang meminta pemerintah pusat untuk menghadirkan kembali Bank Konvensional di Aceh memunculkan Pro dan Kontra.
Menanggapi itu, Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Dr Ishak Hasan, M.Si mengatakan Aceh saat ini terjebak lagi dalam hal-hal yang mengunci diri akibat memunculkan dikotomi yang menghambat kemajuan Aceh.
“Aceh hanyalah bagian terkecil dari transaksi ekonomi global,” katanya kepada Dialeksis.com, Rabu (2/11/2022).
“Kita sudah setuju diproteksi Syariah Islam, termasuk dalam berekonomi,” tambahnya.
Walalupun demikian, ia menyampaikan, tentu saja dalam hal ini tidak boleh menutup diri dengan arus ekonomi global. “Duol Banking System masih tetap digunakan oleh beberapa negara yang mayoritas muslim,” sebutnya.
Lanjutnya, kekokohan hubungan politik Aceh dengan pusat, ketakutan pelaksanaan Syariat Islam di Aceh masih menghantui dan menjadi penghalang investasi.
“Ditambah lagi dengan menguatnya penolakan terhadap sub sistem dari lembaga ekonomi yang ada ‘Bank Konvensional’ sebagai suplemen pendukung investasi dan kelancaran bertransaksi dalam kelancaran perekonomian terbuka (Open Economy).
“Hal itu menunjukkan bahwa kita memang masih tetap berlama-lama dengan percepatan kemajuan. Semua pihak di Aceh harus memasang horizon luas, ketimbang berada dalam lorong yang sempit yang merugikan kita semua,” katanya.
Saling menghujat dan menjatuhkan Putra Aceh
“Putra Aceh yang berpikir kritis dan berbeda pandangan, apalagi pembunuhan karakter satu dengan yang lain, telah diyakini sebagai sumber keterbatasan ‘Orang-orang Aceh’ itu kurang pantas,” tukasnya.
Dia mengatakan, kurang fleksibel (Rigid) dalam horizon berpikir untuk diberi ruang berkembang dipentas nasional. “Kita hanya ada ruang bergerak sebatas dari Sabang sampai ke Kuala Simpang saja,” pungkasnya. [ftr/bna]
Share berita ini