DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemerintah terus memperluas akses pendidikan bagi seluruh anak Indonesia, termasuk mereka yang selama ini terkendala melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi, geografis, maupun kondisi sosial. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jenjang SMA.
Pada tahun 2026, SMA Negeri Modal Bangsa Banda Aceh resmi ditetapkan sebagai sekolah induk pelaksana Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di Aceh. Penetapan ini menjadi tonggak penting dalam menghadirkan layanan pendidikan formal yang fleksibel, namun tetap memiliki legalitas yang sama dengan sekolah reguler.
Kepala SMA Negeri Modal Bangsa Banda Aceh, Misra, mengatakan bahwa Pendidikan Jarak Jauh merupakan sistem pendidikan formal yang diakui negara dan memberikan kesempatan kepada anak-anak usia sekolah yang belum mendapatkan layanan pendidikan untuk kembali mengenyam bangku SMA.
"Pada tahun 2026, SMA Negeri Modal Bangsa ditetapkan sebagai sekolah induk pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh. Program ini merupakan sistem pendidikan formal dan resmi yang setara dengan sekolah reguler, hanya saja metode pembelajarannya memadukan 30 persen tatap muka dan 70 persen pembelajaran secara daring," ujar Misra kepada media dialeksis.com, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, proses pembelajaran daring akan sepenuhnya dikelola oleh SMA Negeri Modal Bangsa melalui Learning Management System (LMS) yang telah disiapkan sebagai platform pembelajaran digital.
Melalui sistem tersebut, peserta didik dapat mengakses materi pelajaran, mengikuti pembelajaran, mengerjakan tugas, hingga berinteraksi dengan guru secara daring.
Sementara itu, untuk pembelajaran tatap muka, peserta didik akan dibimbing oleh sekolah-sekolah mitra yang telah ditunjuk di beberapa wilayah Aceh. Kehadiran sekolah mitra di berbagai daerah diharapkan mampu memudahkan siswa mengikuti proses belajar tanpa harus berpindah ke Banda Aceh.
"Untuk kegiatan tatap muka, peserta didik akan didampingi oleh sekolah mitra yang berada di daerah masing-masing. Dengan pola ini, anak-anak tetap mendapatkan pembinaan secara langsung sekaligus memanfaatkan teknologi digital dalam proses belajar," katanya.
Adapun sekolah mitra yang telah ditetapkan pada pelaksanaan PJJ tahun 2026 meliputi SMA Negeri 1 Seulimeum di Kabupaten Aceh Besar, SMA Negeri Simpang Mamplam di Kabupaten Bireuen, SMA Negeri 6 Lhokseumawe di Kota Lhokseumawe, serta SMA Negeri Gunung Meriah di Kabupaten Aceh Singkil.
Misra menegaskan, meskipun proses belajar dilakukan dengan sistem kombinasi daring dan tatap muka, lulusan Pendidikan Jarak Jauh tetap memperoleh hak yang sama dengan siswa sekolah reguler.
"Setelah menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun, peserta didik akan memperoleh ijazah yang diterbitkan oleh SMA Negeri Modal Bangsa sebagai sekolah induk. Ijazah tersebut memiliki status yang sama dengan lulusan sekolah reguler karena PJJ merupakan pendidikan formal yang diakui pemerintah," jelasnya.
Menurut Misra, kehadiran Pendidikan Jarak Jauh merupakan solusi nyata dari negara untuk menjangkau anak-anak yang selama ini belum memperoleh kesempatan menyelesaikan pendidikan menengah.
Program ini, lanjutnya, ditujukan bagi anak-anak yang tidak bersekolah, lulusan SMP yang tidak melanjutkan pendidikan ke SMA, maupun siswa yang terpaksa putus sekolah. Dengan sistem yang lebih fleksibel, mereka tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan tanpa harus meninggalkan aktivitas atau terkendala jarak.
"Ini merupakan solusi negara untuk menjangkau anak-anak yang belum terlayani pendidikan. Karena itu kami mengajak seluruh anak yang tidak sekolah, lulusan SMP yang belum melanjutkan pendidikan, maupun anak-anak yang drop out di seluruh Aceh yang berusia 16 hingga 18 tahun agar memanfaatkan kesempatan ini dengan mendaftarkan diri pada program Pendidikan Jarak Jauh," ajaknya.
Pendaftaran peserta didik baru dibuka secara daring mulai 2 Juli hingga 30 Juli 2026 melalui laman resmi SMA Negeri Modal Bangsa. Seluruh persyaratan dan tata cara pendaftaran dapat diakses secara lengkap melalui website sekolah.
Misra berharap program tersebut dapat menjadi jalan bagi semakin banyak generasi muda Aceh untuk kembali memperoleh hak pendidikan yang layak sehingga mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Seulimeum Kabupaten Aceh Besar, Amran, menyatakan kesiapan sekolahnya sebagai salah satu sekolah mitra dalam menyukseskan pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh tahun 2026.
Menurut Amran, pihaknya telah berkomitmen memberikan pendampingan terbaik kepada peserta didik, khususnya pada pelaksanaan pembelajaran tatap muka yang menjadi bagian dari sistem PJJ.
"Kami siap mendukung dan menyukseskan program Pendidikan Jarak Jauh tahun 2026 sebagai sekolah mitra. Program ini sangat baik karena membuka kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anak Aceh yang selama ini belum memperoleh akses pendidikan menengah agar dapat kembali melanjutkan sekolah," ujarnya.
Ia berharap kolaborasi antara sekolah induk dan sekolah mitra dapat berjalan optimal sehingga tujuan utama program, yakni memperluas pemerataan pendidikan di Aceh, benar-benar dapat diwujudkan.
"Pendidikan Jarak Jauh diharapkan menjadi solusi efektif dalam menekan angka putus sekolah sekaligus meningkatkan angka partisipasi pendidikan menengah di Provinsi Aceh," tutupnya. [nh]
Share berita ini