DIALEKSIS.COM | Tapaktuan - Minggu (27/11/2022), Ketua Pusat Penelitian (Puslit) Arkeologi Aceh, Nasaruddin, mengunjungi tinggalan arkeologis era kolonial Jepang di Gampong Hilir, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan.
Kunjungan ini bersifat observasional ini dilakukan bersama Farhan, mahasiswa UIN AR-Raniry dalam rangka riset terkait tinggalan Jepang tersebut.
Dalam keterangannya kepada Dialeksis.com, Senin (28/11/2022), di lokasi, Nasaruddin yang merupakan Dosen Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam di Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry Banda Aceh melakukan observasi menyeluruh dan mewawancari pemilik tanah untuk mendapatkan gambaran utuh pelestarian tinggalan colonial Jepang ini.
“Temuan Pillbox di Gampong Hilir ini, jenisnya adalah fitur, ini istilah dalam ilmu arkeologi yang pengertianya adalah tinggalan masa lalu yang tidak bisa dipindahkan tanpa merusak. Pillbox ini juga tidak digunakan sebagai tempat tinggal melainkan berfungsi sebagai tempat pengintaian,” jelasnya.
Tapaktuan memiliki beberapa tinggalan era Jepang (1942-1945) yang masih ada sampai saat ini, tetapi masih sangat kurang kepedulian dari pemerintahnya.
“Kita menyayangkan, tinggalan berharga yang sangat langka ini seperti kurang kepedulian dari pemerintah Aceh Selatan. Akibatnya masyarakat bisa mengambil alih secara pribadi dan mempergunakan sesuai kepentingannya,” Demikian kata Nasaruddin.
“Seharusnya tinggalan bersejarah seperti Pillbox ini dipelihara pemerintah Kabupaten Aceh Selatan bekerja sama dengan Pemerintah Aceh dan mengajak Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh untuk membantu secara teknis agar objek ini terjaga dan terlindungi sehingga bisa bermanfaat. Mengapa perlu dilindungi karena objek ini memiliki arti penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, Pendidikan dan kebudayaan,” tambahnya.
Sebagaimana kita ketahui, Pillbox adalah tinggalan militer kolonial Jepang di Aceh yang berfungsi sebagai tempat pemantauan.
Adapun, karakteristik Pillbox adalah keletakannya di atas permukaan tanah dan posisinya langsung berhadapan dengan laut sehingga mudah mengamati lalu lintas perahu di Samudera Hindia yang diawasinya.
Kemudian, dia menjelaskan, signifikansi kajian atas tinggalan Pillbox Jepang di Tapaktuan, Aceh Selatan ini adalah pertama, keberadaannya menandakan Tapaktuan sebagai satu lokasi militer Jepang bertugas mengawasi lalulintas pelayaran di Samudera Hindia yang terlihat dari daratannya.
Kedua, Jepang memandang Tapaktuan sebagai salah satu pusat pengamatan militer dan bahkan bisa jadi lokasi strategi mereka di Aceh untuk memenangkan perang dunia ke II saat itu.
Oleh karena itu, melestarikan tinggalan Pillbox ini secara khusus dan tinggalan perang dunia kedua lainnya secara umum, tentu akan membantu siapa saja memahami sejarah Perang Dunia Kedua di Aceh Selatan secara khusus, dan Aceh bahkan Indonesia secara umum. []
Share berita ini