Pencegahan Angka Stunting di Aceh Harus Melibatkan Multisektoral

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pencegahan Stunting dan Gerakan Imunisasi terus gencar dilakukan di seluruh Indonesia. Di Aceh gerakan ini disebut dengan Gerakan Imunisasi dan Stunting Aceh (GISA) yang saat ini terus gencar dilakukan di seluruh sektor.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Aceh, Safrizal mengatakan, target di Aceh sendiri semakin dekat capaian yang diminta oleh Presiden Joko Widodo secara nasional. 

“Target kita di aceh di tahun 2024 bisa mencapai dibawah 14 Persen,” ujarnya kepada Dialeksis.com, Jumat (30/9/2022).

Dia mengungkapkan, bahwa World Health Organization (WHO) masyarakat disatu negara itu angka stuntingnya dibawah 20 Persen. 

“Kita mencapai keinginan angka stunting di bawah 14 persen dari pemerintah sampai batas waktu tahun 2024. Oleh karena itu, perlu adanya gerakan khusus bersama-sama bergeliat mengupayakan percepatan ini bisa kita berantas bersama,” ucapnya. 

Oleh karena itu, kata Safrizal, maka pendekatan program dengan pemerintah pusat yaitu ada 5 (Lima) pilar dan upaya intervensi pasif pada bidang Gizi Spesifik dan sensitif harus bersama dilakukan.


“Tentunya dalam hal ini perlunya penguatan pengetahuan baik dari Pimpinan, Tokoh Masyarakat, masyarakat dan anak-anak kita terkait stunting dan imunisasi harus diberikan bersama-sama,” sebutnya. 

Dia menjelaskan, Gizi Spesifik itu adalah di bidang Kesehatan, dan Gizi Sensitif itu adalah infrastruktur, pengetahuan, aturan-aturan yang kemudian mendorong kita untuk hidup sehat, lingkungan sehat dan kemudian aturan-aturan yang mengarahkan kita kepada pemahaman tentang kesehatan.

Menurutnya, dalam mewujudkan hal tersebut (Angka Stunting di bawah 14 persen_Red) harus bersama-sama memulai gerakan bersama-sama lagi dari seluruh Komponen dan mengoptimalkan seluruh dana-dana yang ada dalam mencegah meningkatnya angka stunting di masa yang akan datang. 

“Insya Allah Oktober tahun ini kita akan mulai gencar menekan angka stunting ini,” tambahnya. 

Dia mengungkapkan, dalam pemantauan IDI Aceh, di seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Aceh belum ada angka Stuntingnya dibawah angka 20 persen.

Sehingga, kata Safrizal, gerakan penanggulan angka Stunting ini tidak boleh hanya di beberapa tempat saja. 

“Walaupun beberapa kab/Kota di Provinsi Aceh angka stuntingnya masih ada yang tertinggi, tetapi pada umumnya walaupun Kab/Kota di Aceh angka stunting masih ada diatas 20 persen, gerakan ini harus dilakukan secara masif di seluruh Kab/Kota,” tukasnya.


Problem utama berdasarkan laporan yang diterima, kata Safrizal, yakni salah satunya adalah penerimaan masyarakat. 

“Upaya memberikan informasi ini kepada masyarakat tidak hanya boleh diserahkan kepada Posyandu saja, namun harus melibatkan multi-sektoral, termasuk didalamnya Universitas, Dinas-dinas terkait untuk memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat, sehingga tidak ada penolakan kepada masyarakat tentunya,” ungkapnya.

Lanjutnya, Safrizal menyampaikan agar upaya ini harus dilakukan bersama-sama, tidak hanya mengandalkan lintas organic saja yakni, Posyandu, Puskesmas yang dimana lintas organic tersebut hanya berfokus pada Gizi Spesifik. 

“Peran gizi Spesifik hanya 30 persen untuk stunting, namun peran gizi Sensitif yang lebih banyak melibatkan lintas sektoral jauh lebih besar dan harus diaktifkan perannya,” pungkasnya. [ftr]

Share berita ini

dialeksis.com