DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemilu 2024 terus menjadi sebuah topik hangat di setiap sudut kota, hingga pedesaan di Provinsi Aceh.
Sejauh ini, partai-partai Nasional dan Partai Lokal yang sudah ada sejak lama hingga pendatang baru terus gencar melakukan pendekatan untuk mendapatkan hati masyarakat.
Dosen FISIP USK, Jurusan Ilmu Pemerintahan, Saddam Rafsanjani mengatakan, bahwa Partai Lokal (Parlok) yang masih sangat konsisten saat ini adalah Partai Aceh (PA). Sedangkan partai lain secara grafik ada yang naik turun.
Menurutnya, di Pemilu 2024 kali ini kondisinya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. “Hadirnya parlok ini sebenarnya bagus, karena menambah nilai Demokrasi,” ujarnya kepada Dialeksis.com, Jumat (14/10/2022).
Namun, dirinya sedikit pesimis jika (Parlok baru) untuk mendapatkan kursi di parlemen, jika parlok lain mungkin bisa mendapatkan 1 hingga kursi.
“PA 10 kursi, PNA 2 sampai 4 kursi, Partai SIRA dan PDA bisa bertahan di 1 kursi, selebihnya kurang yakin untuk mendapatkan kursi di parlemen,” sebutnya.
Ia menjelaskan, yang membuat PA mendominasi adalah mesin politiknya. “Mereka memiliki anggota yang fanatik. Fanatik terhadap MoU, Fanatik terhadap Aceh, dan lainnya,” ujarnya.
Sedangkan, untuk parlok lainnya kurang fanatisme yang mengakar, sehingga sulit untuk bersaing terutama dengan PA bahkan dengan partai nasional lainnya. “Kunci dari partai-partai lokal ini seperti PA fanatik nya terhadap Mou Helsinki,” ungkap Rafsanjani.
Kemudian, dia menjelaskan, faktor ketokohan juga sangat mempengaruhi terhadap partai tersebut. “Faktor ketokohan sebagai pemimpin partai juga mempengaruhi, seperti PNA yang memiliki 3-4 kursi juga dipengaruhi oleh pemimpinnya, yaitu Irwandi Yusuf. Dan untuk partai SIRA mendapatkan 1 kursi karena M. Nazar,” ujarnya.
Ia mengatakan, pemilih di Aceh masih kebanyakan menjadi pemilih yang rasional. Faktanya, seperti PA yang setiap periode mengalami penurunan dalam jumlah suara.
Hal itu menurutnya, karena pemilih melihat daripada kinerja Partai tersebut. “Pemilih melihat kinerja Partai yang kurang baik, sehingga mereka sudah kurang percaya terhadap partai tersebut,” sebutnya.
Selain itu, kata Rafsanjani, masih ada juga pemilih yang transaksional. Seperti untuk pemilihan DPR-RI. “Jika melihat survei awal, diprediksi bahwa kandidat A yang menang. Akan tetapi, setelah pengumpulan hasil suara, kandidat A tidak menang. Oleh karena itu, ini bisa disinyalir ada transaksional atau money politics,” ungkapnya.
“Intinya, setiap pemilihan tergantung dari pihak pemilih masing-masing. Apabila Aceh semua adalah pemilih yang rasional, Insya Allah komposisi anggota dewan atau legislatif yang kompeten,” pungkasnya. [ftr/bna]
Share berita ini