DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua Ikatan Muslimin Aceh Meudaulat (IMAM), Tgk Muslim At Thahiri sangat mengharapkan agar panggung religi dalam kegiatan HUT TNI ke 77 ini benar-benar panggung religi.
“Jangan sekedar mengubah nama, tetapi isinya masih konser musik dan jangan sampai mencampuradukkan antara hak dan batil dan jangan sampai berikhtilat yaitu bercampur antara lelaki dan perempuan,” sebutnya kepada Dialeksis.com, Selasa (4/10/2022).
Menurutnya, selama ini banyak sekali terjadi perubahan sekedar nama namanya sangat Islami atau religi tapi isinya penuh dengan kemaksiatan.
Oleh karena itu, lanjutnya, dirinya menuntut tidak hanya sekedar perubahan nama, tapi isinya juga harus berubah. “Jika namanya islami isinya penuh kemungkaran, maka murka Allah lebih dahsyat lebih murka, bila sekedar nama yang religi atau islami maka itu kebohongan yang perlu dilawan. Karena kebohongan melanggar dengan hukum agama dan negara,” ujarnya dengan tegas.
Ia menyampaikan, bahwa saat ini rakyat sudah sering dikelabui dari masa ke masa dan sudah sering ditipu, dari Soekarno dulu berjanji dengan Tgk Muhammad Daud Beureu’eh akan memberikan kekhususan dalam penerapan syariat islam sepenuhnya sehingga ulama Aceh dapat bersatu menyuarakan membela Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia.
“Banyak sekali yang sudah diberikan oleh Rakyat Aceh kepada Indonesia, maka kami harapkan jangan coba-coba mencari masalah lagi di Aceh, dengan menipu bangsa Aceh dan dengan menginjak-injak harkat martabat Aceh dan dengan menghina ulama Aceh dengan cara berhura-hura di hari kami berduka cita,” tegasnya.
Ia menegaskan, jika TNI jujur ingin mempertahankan NKRI dan betul punya niat baik untuk negeri ini tolong hargai Aceh karena Aceh adalah pemodal Indonesia dan Indonesia tak akan ada tanpa Aceh, saham yang luar biasa dari Aceh untuk NKRI bukan cuma pesawat dan emas di puncak Monas tetapi Darah dan Nyawa dan juga kedaulatan Aceh yang sudah ratusan tahun ada mau bersatu bersama NKRI karena janji Islam.
“Tetapi jika Islam mulai dikotak Katik, jika adat istiadat kami mau dirubah, jika budaya kami mau dicampur adukkan, maka Aceh tak ada istimewa, yang ada istimewa hanya sekedar nama. Padahal Aceh punya istimewa di bidang agama, adat dan budaya,” tegasnya kembali.
“Kami minta hargai hak kami dalam beragama, beradat dan berbudaya sesuai dengan warisan nenek moyang kami yaitu Islam yang kaffah. Jika ada yang tidak paham tentang Aceh dan tak mau belajar tentang Aceh lebih baik jangan bertugas di Aceh, karena akan semakin marah rakyat Aceh dan akan muncul berbagai perlawanan dari rakyat Aceh,” ucapnya.
“Jangan ada yang memikirkan tidak ada lagi darah pahlawan dan pejuang di Aceh, jangan kalian pikir tidak ada lagi semangat untuk tegaknya Islam di Aceh, jangan kalian pikir kalian sudah berhasil memadamkan api perjuangan di Aceh,” pungkasnya. [ftr/bna]
Share berita ini