Nyak Dhien Gajah: Jangan Tembak Rakyat Aceh, Tangkap dan Adili Pelaku Serta Atasannya

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Nasruddin alias Nyak Dhien Gajah, mantan Tapol/Napol Aceh, mengecam keras peristiwa penembakan terhadap warga di sebuah meunasah di Gampong Pulo Kenari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan sejumlah warga lainnya mengalami luka-luka.

“Jangan tembak rakyat Aceh. Meunasah adalah tempat ibadah, tempat masyarakat berkumpul dan menjalankan kehidupan keagamaannya. Peristiwa penembakan di tempat seperti ini merupakan tindakan yang sangat menyakitkan dan melukai perasaan masyarakat Aceh,” tegas Nasruddin, Kamis (5/11/2026).

Ia mengibaratkan peristiwa tersebut seperti serangan terhadap warga Palestina di masjid. Menurutnya, tempat ibadah seharusnya menjadi ruang yang dilindungi, bukan justru menjadi lokasi terjadinya kekerasan dan jatuhnya korban jiwa.

Sebagai mantan anggota GAM, Nasruddin mengaku sangat merasakan kesedihan yang dialami keluarga korban. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap belasan warga yang masih menjalani pengobatan serta keluarga yang kehilangan anggota keluarganya akibat peristiwa tersebut.

“Saya pernah berada dalam situasi perang. Karena itu, saya tahu betul bagaimana rasanya kehilangan keluarga dan melihat rakyat menjadi korban kekerasan. Jangan sampai rakyat Aceh kembali hidup dalam ketakutan dan trauma akibat tindakan bersenjata,” ujarnya.

Nasruddin meminta agar aparat penegak hukum segera menangkap dan mengadili seluruh pihak yang terbukti terlibat dalam penembakan tersebut, termasuk pihak yang bertanggung jawab dalam rantai komando.

“Jangan hanya pelaku di lapangan yang diperiksa. Atasannya juga harus dimintai pertanggungjawaban apabila terbukti mengetahui, memerintahkan, membiarkan, atau gagal mencegah tindakan tersebut. Penegakan hukum harus transparan, terbuka dan tidak tebang pilih,” katanya.

Ia juga menilai peristiwa ini menjadi persoalan serius bagi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kejadian kekerasan terhadap masyarakat Aceh dapat kembali membuka luka sejarah, mengingat Prabowo memiliki catatan masa lalu yang berkaitan dengan konflik Aceh.

Nasruddin turut mengingatkan Aparat TNI polri agar tidak lalai dalam menjalankan tanggung jawab melindungi masyarakat.

“Kami meminta Pada Bapak Pangdam Serta Bapak kapolda Aceh Harus benar-benar menjaga Perdamaian Aceh., Kami Memohon Pada Mualem Selaku Mantan Panglima GAM dan Dek Fadh Selaku mantan Komandan Oprasi GAM Wilayah Pidie Meminta Menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat Jangan terabaikan. Gejolak seperti ini lagi .ini bukan persoalan baru. Jangan ada pembiaran terhadap kekerasan yang terus berulang,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah Aceh, pemerintah pusat, serta institusi TNI segera mengambil langkah konkret untuk mengungkap peristiwa tersebut, memberikan perlindungan kepada korban dan keluarga, serta memastikan proses hukum berjalan secara adil.

“Rakyat Aceh sudah terlalu lama merasakan pahitnya konflik. Jangan biarkan luka lama kembali terbuka. Tidak boleh ada lagi rakyat yang kehilangan nyawa akibat kekerasan bersenjata. Keadilan bagi korban harus ditegakkan,” tutup Nasruddin. [*]

Share berita ini

dialeksis.com