Massa Zikir Akbar di Masjid Raya Baiturrahman Kibarkan Bendera Bulan Bintang

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Massa yang mengikuti doa tolak bala dan zikir akbar di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, mengibarkan bendera bulan bintang dan bendera putih, Sabtu (15/8/2026).

Peserta kegiatan datang dari sejumlah daerah di Aceh. Sejak dinihari hingga waktu subuh, massa mulai memadati kawasan Masjid Raya Baiturrahman untuk mengikuti rangkaian zikir dan doa.

Kegiatan yang berlangsung sejak sekitar pukul 07.00 WIB itu pada awalnya hanya diwarnai pengibaran bendera putih. Massa mengikuti zikir dengan khusyuk sebelum kemudian sejumlah peserta mengeluarkan bendera bulan bintang yang telah mereka bawa.

Sekitar pukul 09.00 WIB, bendera bulan bintang mulai dikibarkan di sejumlah titik. Sebagian massa membentangkannya menggunakan tangan, sementara lainnya memasang bendera tersebut pada batang bambu.

Upaya sejumlah prajurit TNI untuk menghentikan pengibaran bendera bulan bintang sempat terjadi. Namun, massa tetap bertahan dan melanjutkan pengibaran bendera tersebut.

Panitia juga sempat mengimbau peserta agar tidak mengibarkan bendera bulan bintang selama kegiatan berlangsung. Imbauan itu tidak sepenuhnya diikuti massa.

Beberapa peserta bahkan menaiki gapura bagian tengah di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Dari atas gapura, mereka mengibarkan bendera bulan bintang sekaligus membentangkan spanduk bertuliskan, “Acheh Has Every Right to be Independent.”

Seruan "merdeka" juga beberapa kali terdengar dari tengah kerumunan massa. Selain bendera bulan bintang dan bendera putih, terdapat pula peserta yang mengibarkan bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Salah seorang peserta asal Pidie Jaya, Muhammad Jamil, mengatakan dirinya sengaja datang ke Banda Aceh untuk mengikuti kegiatan zikir tersebut. Menurutnya, kehadirannya merupakan bagian dari mengikuti seruan para ulama.

Ia juga mengaku membawa bendera bulan bintang karena menilai pengibaran simbol tersebut merupakan bagian dari aspirasi masyarakat.

"21 tahun dalami kami tidak dapat apa-apa. Kami harap ada satu hak untuk masyarakat," kata Muhammad Jamil.

Share berita ini

dialeksis.com