Makam Kerkhof, Saksi Bisu Perjuangan Aceh Melawan Penjajah

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Serambi Mekkah julukan bagi sebuah negeri pulau di ujung barat Indonesia atau yang dikenal dengan Nanggroe Aceh Darussalam atau tepatnya Provinsi Aceh.

Sejarah, perjuangan dan cerita rakyat menjadi sebuah obrolan di setiap sudut warung kopi yang juga menjadi ciri khas negeri yang dikenal juga dengan Tanah Rencong. 

Bukti perjuangan melawan para penjajah Belanda terbukti dengan adanya sebuah Makam di belakang Museum Tsunami Banda Aceh yang dikenal dengan kerkhof Peucut atau gampang disebut Makam kerkhof.

Makam kerkhof kini menjadi sebuah situs bersejarah di Aceh, dimana di tempat ini terdapat kuburan-kuburan Serdadu Belanda yang tewas akibat peperangan yang terjadi pada tahun 1873 hingga 1904. 

Luas makam ini mencapai 3,5 hektar, dengan jumlah korban mencapai 2.200 tentara. 

Kuburan ini berlokasi di pusat Kota Banda Aceh, tepatnya di Desa Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh.


Kerkhof Peucut adalah kuburan serdadu Belanda (KNIL) yang merupakan pemakaman militer Belanda terbesar. Komplek kuburan ini sebenarnya banyak tersebar di Indonesia, namun yang ada di Aceh merupakan salah satu komplek kuburan yang paling luas. 

Di makan Kerkhof tak hanya tentara Belanda saja dimakamkan, namun dari suku lain juga, diantaranya suku Jawa, Batak, Ambon, dan pribumi Aceh, bahkan makam putra Sultan Iskandar Muda, Meurah Popok yang tewas dihukum rajam oleh ayahandanya karena dituduh berzina pada tahun 1636 berada disini.

Diketahui tokoh-tokoh yang dimakamkan militer Belanda yang dimakamkan di kerkhof Peucut yaitu, Johan Harmen Rudolf Kohler, Johannes Ludovicius Hubertus Pel, W.B.J.A Scheepens. 

Nisan-nisan berwarna putih ini dan berbagai ukuran berdiri berjejer rapi dengan bentuk salib dan juga tugu.

Nama setiap Jenazah tertera lengkap serta tahun tewasnya di batu nisan. Dilansir dari Detik.com, Minggu (28/8/2022), seorang sejarawan Aceh, Rusdi Sufi mengatakan Belanda mulai menyerang Aceh pada 1873-1904 setelah penduduk tanah Rencong menolak bergabung dengan hindia Belanda (Saat ini Indonesia). 


Kala itu, hampir seluruh wilayah di Nusantara sudah dikuasai oleh Belanda. Aceh yang merupakan daerah berdaulat menolak ajakan Belanda. Sehingga, mereka (Belanda) menyatakan perang dengan Aceh. 

Di Masa pendudukan Hindia Belanda, Masjid Raya Baiturrahman dikuasai oleh pasukan Belanda. dimasa itu masjid yang dikenal sebagai landmarknya Aceh ini sempat dibakar yang kemudian dibangun kembali.

Periode pertama perang yang pada tahun (1873-1874), masyarakat Aceh berhasil menahan serangan Belanda. 

April 1873, Mayor Jenderal JLH Pel. Kohler yang merupakan pimpinan pasukan Belanda tewas ditembak pejuang Aceh dalam pertempuran di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. 

Kala itu Jenazah Kohler sempat diterbangkan ke Jakarta, tepatnya Tanah Abang dengan tujuan untuk dikuburkan di sana. 

Ketika pembongkaran kuburan di wilayah Tanah Abang pada 1978 dilakukan untuk membangun bangunan, disaat itu, pemerintah Belanda bersurat dengan pemerintah Aceh dengan tujuan meminta izin pemerintah Aceh agar Kohler dapat dikuburkan di Kerkhof Aceh.

“Pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh menerima Kohler dimakamkan di Kerkhof,” kata Rusdi. 


Bahkan selain dikuburkan, Pemerintah Aceh juga membangun sebuah tugu sebagai penanda tempat tewas Kohler. Tugu tersebut dibangun tepat di bawah pohon kelumpang pada Gubernur Ibrahim Hasan. 

Menurutnya, jenazah serdadu Belanda yang dikuburkan di Kerkhof berasal dari seluruh penjuru Aceh. Merek yang tewas dalam perang diboyong ke Banda Aceh yang dulu dikenal dengan Kutaraja. Saat itu tentara Belanda membuat kuburan untuk serdadu mereka diatas lahan kosong milik orang Yahudi.

Bertahun-tahun disaat Belanda telah keluar dari Aceh, Makam kerkhof tak ada yang mengurus, hingga akhirnya kala itu, di tahun 1976 datanglah JHJ Brendgen yang merupakan seorang Kolonel Marsose melihat langsung kotornya kondisi makam militer itu.

Ia berinisiatif membangun sebuah Yayasan dengan nama Yayasan Dana peucut (Stichting peutjut - Fonds). Bahkan saat itu orang-orang Yayasan dayang langsung ke Tanah rencong untuk melihat perawatan kuburan kerkhof ini. 


Saban tahun berjalan, ketika Tsunami meluluhlantakkan Serambi Mekkah di 26 Desember 2004 silam, areal Komplek ini hancur dan rusak parah, bahkan diketahui lebih kurang 50 Palang Salib sebagai penanda kuburan hilang dibawa gelombang. 

Beberapa tahun kemudian dana miliaran rupiah untuk rehabilitasi komplek Kerkhof. kerkhof Peucut tak hanya sebagai bukti sejarah Aceh, namun juga sebagai bukti nyatanya keadilan sang pemimpin Aceh Sultan Iskandar Muda.

kerkhof tak hanya sebagai sebuah situs bersejarah, namun juga sebuah landmark yang membuktikan bahwa Aceh memiliki cerita panjang di masa dulu, dari sejarah perangnya, perjuangannya, dan cerita rakyat. 

Kini Makam kerkhof menjadi sebuah daya tarik objek wisata bagi pengunjung lokal dan luar daerah. Sebuah objek wisata bersejarah yang harus dijaga dan dirawat. [ftr]

Share berita ini

dialeksis.com