Lokasi TPS Rukoh Dinilai Tak Layak, Bau Sampah Semakin Ganggu Aktivitas Masyarakat

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Keberadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Gampong Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, kembali mengganggu. 

Selain persoalan bau menyengat yang kerap dikeluhkan warga, lokasi TPS tersebut juga dinilai kurang strategis karena berada di persimpangan jalan yang padat aktivitas masyarakat.

TPS itu berada di kawasan yang dikelilingi permukiman penduduk, pusat kuliner dan pasar, serta bersebelahan dengan musala. 

Kondisi tersebut membuat dampak tumpukan sampah tidak hanya dirasakan oleh warga yang tinggal di sekitar lokasi, tetapi juga mahasiswa, pedagang, hingga masyarakat yang setiap hari melintas di kawasan tersebut.

Setiap pagi hingga malam hari, jalan di depan TPS menjadi salah satu jalur yang ramai dilalui mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Banda Aceh. 

Di sisi lain, kawasan itu juga dipenuhi warung makan, kios, serta aktivitas jual beli yang menjadi denyut perekonomian warga.

Namun ketika volume sampah meningkat, aroma tidak sedap kerap menyelimuti kawasan tersebut, terutama saat cuaca panas atau ketika truk pengangkut membongkar muatan sampah.

Zahran, seorang mahasiswa di salah satu universitas di Banda Aceh yang menetap di Rukoh, mengatakan dirinya hampir setiap hari melewati lokasi TPS. Menurutnya, keberadaan tempat pembuangan sampah di titik tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah.

"Menurut saya, lokasi TPS ini kurang strategis. Letaknya tepat di simpang jalan yang menjadi akses utama masyarakat dan mahasiswa. Di sekitarnya ada rumah warga, pasar, warung makan, bahkan musala. Ketika sampah menumpuk dan mengeluarkan bau, tentu semua aktivitas di sekitar ikut terdampak," kata Zahran kepada media dialeksis.com, Senin, 20 Juli 2026.

Ia menilai kawasan Rukoh sudah berkembang menjadi kawasan pendidikan sekaligus permukiman yang dihuni ribuan mahasiswa dari berbagai daerah. Karena itu, wajah kawasan tersebut semestinya mencerminkan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman.

"Rukoh dikenal sebagai kawasan mahasiswa. Banyak orang datang dan tinggal di sini untuk belajar. Sayang sekali kalau kesan pertama yang didapat justru bau sampah. Mudah-mudahan ada solusi yang lebih baik, baik dari sisi pengelolaan maupun penataan lokasi TPS," ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Kamil, salah seorang pedagang di sekitar lokasi. Ia mengaku aroma sampah yang menyengat sering kali mengganggu aktivitas usaha, terutama ketika banyak pelanggan datang untuk berbelanja.

"Kalau sampah sedang menumpuk, baunya memang terasa sekali. Kami yang berdagang tentu berharap ada penanganan yang lebih maksimal. Apalagi lokasinya dekat pasar dan tempat usaha masyarakat," katanya.

Ia mengatakan kondisi paling mengganggu terjadi ketika sampah organik, terutama sisa daging, mulai membusuk.

"Yang paling parah itu ketika ada daging yang membusuk. Baunya sangat menyengat. Orang yang sedang makan jadi tidak nyaman. Kami sebagai penjual juga merasa tidak enak karena pelanggan mencium bau itu saat menikmati makanan," tuturnya.

Menurutnya, aroma tidak sedap tersebut bahkan kerap tercium hingga ke permukiman warga dan musala yang berada tidak jauh dari lokasi TPS.

Warga berharap Pemerintah Kota Banda Aceh dapat mengevaluasi keberadaan TPS tersebut. Selain meningkatkan frekuensi pengangkutan sampah, mereka juga berharap ada kajian mengenai penataan ulang lokasi TPS agar tidak berada terlalu dekat dengan permukiman, pusat perdagangan, maupun fasilitas ibadah.

"Kadang-kadang kami sendiri sampai tidak sanggup makan karena baunya. Warga di belakang kampung juga sering mengeluh, terutama pada malam hari. Bahkan jamaah yang hendak ke musala juga ikut merasakan bau itu," tutupnya.

Share berita ini

dialeksis.com