DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala Sekolah SLB TNCC Banda Aceh, DM Ria Hidayati, S.Psi., M.Ed., Gr, berharap pemerintah memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pendidikan dan masa depan anak berkebutuhan khusus (ABK), terutama setelah mereka menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA.
Menurut Ria, salah satu persoalan yang masih dihadapi anak-anak disabilitas adalah minimnya wadah lanjutan untuk mengembangkan keterampilan dan memasuki dunia kerja setelah lulus sekolah.
"Anak-anak kami ini setelah SMA banyak yang putus sekolah. Pertanyaannya, mana lanjutannya? Kami berharap pemerintah bisa membuat semacam balai pelatihan atau tempat pembinaan untuk persiapan kerja sehingga anak-anak kami dapat ditampung dan dibina di sana," kata Ria kepada Dialeksis, Jumat, 17 Juli 2026.
Ia menilai kebutuhan tersebut semakin mendesak mengingat jumlah anak berkebutuhan khusus terus bertambah setiap tahun. Karena itu, menurutnya, pemerintah perlu menyusun kebijakan yang lebih komprehensif untuk memastikan keberlanjutan pendidikan dan kemandirian penyandang disabilitas.
Ria menjelaskan bahwa peluang kerja bagi lulusan SLB saat ini masih sangat terbatas, terutama bagi anak dengan kategori autisme, down syndrome, dan tunagrahita. Selama ini, kesempatan kerja yang tersedia lebih banyak diperuntukkan bagi penyandang tunarungu.
"Kalau tunarungu masih ada yang bisa bekerja di kafe atau tempat usaha tertentu. Tapi bagaimana dengan anak autis, down syndrome, atau tunagrahita? Mereka juga membutuhkan ruang dan kesempatan yang sama," ujarnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah menghadirkan fasilitas pelatihan kerja khusus disabilitas yang dapat menjadi jembatan bagi para lulusan SLB menuju dunia kerja.
"Kami membutuhkan dukungan dari pemerintah, minimal ada tempat seperti balai latihan kerja, tetapi khusus untuk penyandang disabilitas. Selama ini sekolah-sekolah swasta berjuang sendiri untuk mempersiapkan anak-anak tersebut," katanya.
Selain penyediaan fasilitas, Ria juga berharap pemerintah lebih sering mengunjungi sekolah luar biasa untuk melihat langsung kebutuhan dan tantangan yang dihadapi para siswa maupun tenaga pendidik.
"Sering-seringlah berkunjung ke SLB agar pemerintah bisa melihat secara langsung kondisi dan kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus," ujarnya.
Di sisi lain, Ria juga mengajak masyarakat untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada penyandang disabilitas agar dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial maupun dunia kerja.
"Anak-anak kami perlu diberikan kesempatan. Ketika mereka melamar pekerjaan atau ingin berkarya di luar, terimalah mereka terlebih dahulu dan berikan ruang untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki," katanya.
Ia menambahkan bahwa peran keluarga juga sangat penting dalam mendukung perkembangan anak berkebutuhan khusus. Orang tua, kata dia, harus aktif melatih kemampuan sosial dan komunikasi anak sejak dini agar mereka lebih siap berinteraksi dengan lingkungan.
"Orang tua juga bagian dari masyarakat. Mereka perlu menjaga dan meningkatkan kualitas anaknya, terutama dalam kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi. Itu harus dilatih dari rumah sehingga anak lebih siap ketika berada di tengah masyarakat," pungkasnya.
Share berita ini