Jejak Sejarah Samudra Pasai Ditemukan di Kawasan HGU Cot Girek Aceh Utara

DIALEKSIS.COM | Aceh Utara - Jejak sejarah Samudra Pasai kembali ditemukan di kawasan Cot Girek, Aceh Utara.

Tim Center for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH) menemukan batu berinskripsi Arab serta sejumlah makam yang oleh masyarakat setempat diyakini berkaitan dengan sejarah masa lampau kawasan tersebut.

Peneliti CISAH, Sukarna Putra, mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan langsung ke kawasan tersebut sebanyak dua kali. Kunjungan terakhir dilakukan pada 22 Juni 2026.

“Kami sudah mengunjungi lokasi tersebut sebanyak dua kali. Kunjungan terakhir kami lakukan pada 22 Juni 2026 lalu,” ujar Sukarna Putra kepada media dialeksis.com, Minggu, 30 Agustus 2026.

Dalam peninjauan itu, tim menemukan sebuah artefak berupa batu dengan inskripsi Arab yang sebagian tulisannya masih dapat terbaca. Berdasarkan kajian awal terhadap bentuk dan karakter tulisan atau tipologi artefak, batu tersebut diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-9 Hijriah atau abad ke-15 Masehi.

Salah satu inskripsi yang berhasil diterjemahkan berisi doa kepada Allah SWT agar diberikan kemampuan untuk berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu,” demikian makna inskripsi tersebut.

Menurut Sukarna, temuan itu memiliki nilai religius sekaligus historis. Perkiraan usia artefak tersebut juga menempatkannya pada periode yang berdekatan dengan masa penting perkembangan Kesultanan Samudra Pasai sebagai salah satu pusat perdagangan dan penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara.

Selain batu berinskripsi Arab, tim CISAH juga menemukan sejumlah lokasi yang oleh masyarakat setempat dianggap memiliki kaitan dengan sejarah masa lalu Cot Girek.

Salah satunya adalah makam yang dikenal masyarakat sebagai makam Tgk Batèe Putéh. Makam tersebut memiliki ukiran atau kaligrafi Arab dan berada di kawasan perkebunan PTPN IV Regional 6 Cot Girek, Aceh Utara.

Tim juga menemukan makam Tgk Ulèe Kuta yang telah dipugar secara mandiri oleh masyarakat. Pemugaran dilakukan karena warga menganggap makam tersebut memiliki nilai sejarah.

Selain dua makam tersebut, terdapat sejumlah lokasi lain yang diyakini masyarakat sebagai makam kuno. Namun, sebagian peninggalan tersebut kini tidak lagi berada dalam kondisi lengkap.

CISAH menilai berbagai temuan tersebut perlu segera didata dan diteliti secara lebih mendalam. Terlebih, keberadaannya berada di kawasan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan yang memiliki potensi menyimpan lebih banyak jejak sejarah yang belum terungkap.

Sukarna menekankan bahwa penelitian lanjutan oleh pihak yang berkompeten sangat diperlukan untuk memastikan usia, identitas, serta konteks sejarah dari batu berinskripsi dan makam-makam tersebut.

Menurutnya, temuan tersebut tidak seharusnya hanya dilihat sebagai benda tua, tetapi sebagai bagian dari kemungkinan jejak peradaban masa lalu yang masih tersimpan di pedalaman Aceh Utara.

Temuan inskripsi doa tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peninggalan masa lalu tidak hanya berkaitan dengan kekuasaan, perdagangan maupun kerajaan. Jejak tersebut juga membawa pesan spiritual tentang zikir, rasa syukur dan penghambaan kepada Allah SWT yang tetap relevan hingga saat ini.

CISAH berharap temuan di kawasan Cot Girek dapat menjadi pintu masuk untuk penelitian sejarah yang lebih serius sekaligus mendorong upaya perlindungan terhadap berbagai situs yang masih tersisa.

"Setiap jejak yang ditemukan bukan sekadar batu atau benda tua. Bisa jadi di baliknya tersimpan halaman sejarah peradaban besar yang belum sempat kita baca,” tutupnya.

Share berita ini

dialeksis.com