DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), mengarahkan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh Dr Azanuddin Kurnia untuk memacu pekerjaan penanganan masalah petani yang terdampak bencana hidrometeorologi.
“Kerahkan semua sumber daya yang ada, bangun kolaborasi dengan para pihak terutama kepada dinas kabupaten/kota, TNI, dan kelompok tani,” kata Gubernur Mualem melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Kamis (3/9/2026). “Pak Gubernur juga memberi arahan kepada Pak Azanuddin untuk memperkuat komunikasi dan hubungan yang baik dengan Kementerian Pertanian yang memfasilitasi berbagai kegiatan pertanian di Aceh.”
Nurlis menjelaskan Gubernur Mualem juga sudah mengarahkan langsung Plt. Kadistanbum di ruang kerja Gubernur Aceh, Banda Aceh, pada Rabu (2/9/2026).
Pada kesempatan tersebut, kata Nurlis, Gubernur Mualem menerima laporan dan penjelasan dari Azanuddin terkait perkembangan di sektor pertanian dan perkebunan Aceh.
“Pak Gubernur berharap semua yang difasilitasi Kementan untuk 2026 bisa selesai semua. Beliau mengimbau kepada kelompok tani dan TNI serta para pihak yang mendapatkan kegiatan ini agar benar-benar melaksanakannya sesuai aturan,” kata Nurlis.
Mengenai laporan Plt. Kadistanbun tentang sawah rusak berat sekitar 16. 276 ha yang belum ada penanganan, Gubernur meminta semua yang sudah direncanakan Distanbun Aceh agar terus dilanjutkan.
“Gubernur mengarahkan Plt. Kadistanbun agar Pemerintah Aceh mengirim surat kepada Mentan dan Menteri ATR/BPN untuk proses percepatan,” kata Nurlis.
Kepada Mentan, Gubernur Mualem meminta dilakukan kajian cepat perhitungan biaya per hektar sehingga memudahkan pelaksanaan survey investigasi disain sebelum dilaksanakan fisik nantinya.
Kepada Kemen ATR/BPN, Gubernur meminta bantuan identifikasi dan pemetaan batas lahan. Hal ini pernting dilakukan karena batas lahan sawah rusak berat umumnya sudah tidak kelihatan lagi.
Secara umum, kata Nurlis, Gubernur Mualem memandang paparan Plt. Kadistanbun sebagai upaya mempercepat proses penanganan sawah rusak berat.
Berkaitan dengan bantuan Kementan berupa alat mesin pertanian kepada kabupaten/kota, Gubernur Mualem berpesan agar benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan dan swasembada pangan.
“Jangan hanya dijadikan pajangan, tapi manfaatkan untuk mendukung semua pekerjaan para petani. Kelola dengan baik.” ucapnya,
Selain itu, Nurlis menambahkan, bahwa Gubernur Mualem meminta semua benih dan bibit bantuan baik itu padi, jagung, kopi, kakao, kelapa, dan karet yang saat ini juga sedang berproses diharapkan bisa mempercepat pemulihan Aceh pasca bencana.
“Manfaatkan sebaik mungkin agar kita bisa kembali seperti sediakala bahkan kalau bisa lebih baik dari sebelumnya.” katanya.
Azanuddin, sebelumnya melaporkan kepada Gubernur terkait perkembangan pemulihan di sektor pertanian dan perkebunan Aceh pasca bencana. Per tanggal 1 September 2026, serapan anggaran sudah sekitar 53%.
Ia meyakini, tahun ini sekitar 40.852 ha sawah rusak ringan dan sedang akan selesai ditangani termasuk kegiatan pendukungnya. “Kami meminta kawan-kawan dinas kabupaten/kota terus mengawal dan mengawasi pekerjaan di lapangan,” katanya.
Terkait pekerjaan yang langsung ditangani Kementan, Azan meminta kepada dinas kabupaten/kota yang belum selesai CPCL agar mempercepat dengan tetap memenuhi kriteria sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
Sebelumnya pada berbagai kesempatan, Azanuddin memberikan masukan untuk pemulihan sawah rusak berat dengan strategi melalui 4 cara yaitu ; pertama lumpur di sawah dimanfaatkan sebagai bahan galian C untuk berbagai proyek pemerintah ataupun lainnya.
Kedua dengan menanam tanaman muda yang sesuai dengan kondisi lahan. Ketiga dengan menjadikan material tersebut menjadi bahan baku untuk bata ringan atau bata merah. Keempat dengan melakukan rehab sawah rusak berat untuk mengembalikan seperti sawah sebelum bencana. [*]
Share berita ini