DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Empat mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) berhasil meraih Juara I (1st Winner) International Scientific Essay Competition dalam ajang Airlangga Medical Scientific Week (AMSW) 2026.
Mereka mengusung inovasi HEART-PLAY, sebuah konsep rehabilitasi jantung jarak jauh yang memadukan teknologi smartwatch dan pendekatan permainan untuk membantu pasien pulih setelah mengalami serangan jantung.
Ketua tim, Putri Suhaila, bersama tiga rekannya, Nazira Evanda, Salwa Keisha, dan Fathia Nabila, mengembangkan gagasan tersebut berangkat dari persoalan rendahnya kepatuhan pasien dalam menjalani rehabilitasi jantung setelah keluar dari rumah sakit.
Putri menjelaskan, rehabilitasi jantung merupakan bagian penting dalam proses pemulihan pasien setelah mengalami serangan jantung. Namun, dalam praktiknya, tidak semua pasien mampu menjalani program tersebut secara konsisten.
"Setelah mengalami serangan jantung, pasien sebenarnya masih membutuhkan rehabilitasi jantung untuk membantu proses pemulihan. Namun, ada berbagai hambatan yang membuat mereka sulit menjalani latihan secara rutin," ujar Putri.
Menurutnya, hambatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan akses dan transportasi menuju pusat rehabilitasi, tetapi juga menyangkut motivasi dan kondisi psikologis pasien.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian tim adalah kinesiophobia, yakni ketakutan melakukan aktivitas fisik karena khawatir gerakan atau olahraga dapat membahayakan kondisi jantung.
"Pasien terkadang takut untuk kembali bergerak karena khawatir aktivitas fisik justru akan memicu masalah pada jantung mereka. Dari persoalan itulah kami mencoba menghadirkan pendekatan yang lebih menarik dan mudah diikuti," jelasnya.
Berangkat dari persoalan tersebut, tim FK USK memperkenalkan HEART-PLAY (Gamified Telerehabilitation with Smartwatch-Based Biofeedback to Optimize Exercise Adherence in Post-Myocardial Infarction Patients).
Inovasi ini menawarkan konsep rehabilitasi jantung jarak jauh dengan memanfaatkan smartwatch untuk memantau kondisi tubuh pasien selama melakukan latihan fisik.
Melalui perangkat tersebut, pasien dapat memantau detak jantung dan variabilitas denyut jantung atau heart rate variability (HRV).
Informasi yang diperoleh kemudian diterjemahkan ke dalam zona berwarna agar lebih mudah dipahami pasien.
Dengan sistem tersebut, pasien tidak harus terus-menerus memperhatikan angka detak jantung. Mereka dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi aktivitas fisiknya melalui indikator visual yang dirancang lebih sederhana.
Putri mengatakan, HEART-PLAY tidak hanya mengandalkan teknologi pemantauan, tetapi juga dirancang untuk membangun motivasi pasien agar lebih konsisten menjalani rehabilitasi.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah gamifikasi atau penerapan unsur permainan dalam aktivitas rehabilitasi.
Melalui konsep tersebut, pasien dapat menyelesaikan tantangan atau quests, memperoleh pencapaian secara bertahap, serta bergabung dalam komunitas yang disebut peer guild.
"Kami ingin rehabilitasi jantung tidak selalu dipandang sebagai aktivitas medis yang membosankan atau menakutkan. Melalui pendekatan permainan, pasien diharapkan lebih termotivasi untuk menjalani latihan sesuai kemampuan dan arahan tenaga medis," katanya.
Menurut Putri, unsur permainan dalam HEART-PLAY bukan sekadar hiburan. Sistem tersebut dirancang untuk membantu membangun tiga aspek psikologis yang memengaruhi motivasi seseorang, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial.
Pasien diberikan ruang untuk memilih aktivitas dalam batas yang telah ditentukan dokter. Mereka juga memperoleh tantangan sesuai kemampuan fisik serta dukungan sosial selama menjalani proses pemulihan.
Selain itu, HEART-PLAY dilengkapi sistem peringatan bertingkat, yakni adaptive, protective, dan critical. Ketiga tingkatan tersebut memiliki respons berbeda berdasarkan kondisi pasien selama latihan.
Mulai dari penyesuaian intensitas olahraga, instruksi untuk melakukan pendinginan, hingga penghentian sesi latihan dan eskalasi kepada tim klinis apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
"Keselamatan pasien tetap menjadi hal utama. Karena itu, HEART-PLAY dirancang dengan mekanisme pemantauan dan peringatan. Teknologi ini bukan untuk menggantikan tenaga medis, tetapi menjadi alat bantu dalam mendukung proses rehabilitasi," ungkap Putri.
Ia menambahkan, konsep tersebut juga dirancang agar ketergantungan pasien terhadap perangkat dapat dikurangi secara bertahap. Dengan demikian, pasien diharapkan mampu membangun kembali kepercayaan diri untuk melakukan aktivitas fisik secara aman.
Meski demikian, Putri menegaskan HEART-PLAY masih merupakan gagasan inovasi yang membutuhkan pengembangan dan evaluasi lebih lanjut sebelum dapat diterapkan dalam pelayanan klinis.
Bersaing dengan Perguruan Tinggi Ternama
Gagasan HEART-PLAY berhasil mengantarkan tim FK USK meraih posisi tertinggi dalam International Scientific Essay Competition AMSW 2026.
Dalam kompetisi tersebut, mereka bersaing dengan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi ternama, di antaranya Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Airlangga (UNAIR), dan Universitas Udayana.
AMSW 2026 mengangkat tema "Beyond Breath and Beat: Shaping the Future of Cardiorespiratory Health" yang berfokus pada pengembangan gagasan dan inovasi untuk menjawab tantangan kesehatan jantung serta sistem pernapasan.
Karya ilmiah tersebut disusun di bawah bimbingan Prof. Dr. dr. Teuku Heriansyah, Sp.JP(K)-FIHA, Subsp.P.R.Kv, FESC, FAsCC, FAPSC, dari Program Studi Pendidikan Dokter FK USK.
Putri menyebutkan, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari proses diskusi, pengembangan gagasan, serta arahan dosen pembimbing selama penyusunan karya ilmiah.
Dukungan juga diberikan oleh Wakil Dekan III FK USK, Dr. dr. Nur Wahyuniati, M.Imun., serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH. [*]
Share berita ini