DIALEKSIS.COM | Takengon - Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (FISIP USK) meresmikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Gele Pulo, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, Minggu (1/11/2026).
Pembangunan fasilitas pendidikan tersebut menjadi salah satu hasil nyata program pengabdian masyarakat Jejak FISIP 6 yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP USK bersama Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA).
Peresmian PAUD sekaligus menandai berakhirnya rangkaian program Jejak FISIP 6 yang berlangsung sejak 19 Oktober 2026. Kehadiran fasilitas baru ini diharapkan dapat memberikan ruang belajar dan bermain yang lebih layak bagi anak-anak di desa tersebut.
Peresmian dilakukan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Riset FISIP USK, Rizanna Rosemary, S.Sos., M.Si., MHC., Ph.D., yang mewakili dekan; Sekretaris Desa Gele Pulo, Ruslan Efendi, yang mewakili Reje Kampung; serta Abdul Hadi dari Divisi Community Empowerment yang mewakili HAkA.
Gagasan pembangunan PAUD berawal dari survei yang dilakukan panitia sebelum program pengabdian berlangsung. Mahasiswa tidak langsung membawa program yang dirancang di kampus, tetapi terlebih dahulu mendatangi masyarakat untuk mengetahui kebutuhan mereka.
Ketua Panitia Jejak FISIP 6, Arif Hidayatullah, mengatakan pendekatan tersebut menjadi dasar tim dalam menentukan program yang benar-benar dibutuhkan warga.
“Sejatinya pengabdian itu menanyakan kepada warga apa kebutuhan mereka di desa, bukan mahasiswa yang merancang program di kampus lalu membawanya ke desa. Karena itu, pada survei pertama kami datang untuk mendengar keluh kesah serta kebutuhan masyarakat di Desa Gele Pulo,” ujar Arif.
Survei pertama dilaksanakan pada Juli 2026 di tiga desa, yakni Lineung Bulen 2, Mengaya, dan Gele Pulo. Dalam kegiatan tersebut, tim mengidentifikasi berbagai persoalan serta kebutuhan masyarakat di masing-masing desa.
Setelah Gele Pulo ditetapkan sebagai lokasi pengabdian, panitia kembali melakukan survei pada September 2026. Kali ini, pengamatan difokuskan pada kondisi desa dan tempat tinggal yang akan digunakan peserta selama menjalankan program.
Dari proses tersebut, mahasiswa menemukan persoalan mendasar dalam penyediaan fasilitas pendidikan anak usia dini. Sebagai desa pemekaran yang dihuni banyak pasangan muda, Gele Pulo memiliki cukup banyak anak balita yang membutuhkan akses pendidikan awal.
Namun, PAUD yang sebelumnya tersedia hanya memanfaatkan teras rumah warga berukuran sekitar 2 x 3 meter. Ruangan tersebut dinilai terlalu sempit untuk menampung kegiatan belajar, bermain, dan pengembangan kemampuan anak.
“Ukurannya hanya 3 x 2 meter. Itu sangat tidak layak untuk tempat anak-anak belajar dan bermain. Dari situ saya bersama tim Jejak FISIP 6 sepakat memperjuangkan PAUD ini dengan segala upaya,” kata Arif.
Temuan tersebut kemudian mendorong panitia menjadikan pembangunan PAUD sebagai salah satu prioritas program pengabdian. Mahasiswa berupaya mencari dukungan agar anak-anak Gele Pulo memiliki fasilitas pendidikan yang lebih memadai.
Upaya itu mendapat dukungan dari HAkA. Koordinator Bidang Sosial Masyarakat (Sosma) BEM FISIP USK, Yardan Humam Rimba, menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor yang mendorong lembaga tersebut mendukung pembangunan PAUD.
Menurut Yardan, warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga ikut bergotong royong dalam proses pembangunan. Keterlibatan itu menunjukkan adanya kepedulian dan komitmen masyarakat untuk menjaga fasilitas tersebut setelah selesai dibangun.
“Alhamdulillah, HAkA tertarik karena warga Gele Pulo sendiri juga bergotong royong membangun PAUD ini. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada HAkA yang telah membantu penuh pembangunan PAUD ini,” ujar Yardan.
Ia menilai berdirinya PAUD tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat desa dapat menghasilkan manfaat nyata ketika program pengabdian disusun berdasarkan kebutuhan warga.
“ Hari ini PAUD itu resmi berdiri, dan itu bukti bahwa kolaborasi mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, dan warga bisa menghasilkan hal nyata,” tambahnya.
Sekretaris Desa Gele Pulo, Ruslan Efendi, menyambut baik pembangunan fasilitas pendidikan tersebut. Ia bersyukur anak-anak di desanya kini memiliki tempat belajar yang lebih layak dibandingkan fasilitas sebelumnya.
“Alhamdulillah, hari ini anak-anak kami punya tempat belajar yang lebih layak. Sebelumnya PAUD kami sangat kecil dan sempit. Kami mengucapkan terima kasih kepada adik-adik mahasiswa FISIP USK yang mau datang mendengar kebutuhan kami, dan kepada HAkA yang telah membantu sehingga bangunan ini bisa berdiri,” kata Ruslan.
Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat akan menjaga dan memanfaatkan bangunan tersebut secara bersama-sama agar dapat digunakan dalam jangka panjang.
“Warga sudah ikut bergotong royong membangunnya, jadi ini milik kita bersama. Kami berjanji akan menjaga dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Semoga anak-anak Gele Pulo tumbuh cerdas dan berakhlak baik,” ujarnya.
Pembangunan PAUD menjadi salah satu hasil dari rangkaian kegiatan Jejak FISIP 6 yang melibatkan sekitar 60 mahasiswa dan peserta relawan dari FISIP USK.
Program diawali di Banda Aceh pada 19–22 Oktober 2026 melalui kegiatan penyambutan peserta atau welcoming ceremony, penanaman mangrove di kawasan mangrove Lampulo, pembekalan relawan, serta persiapan keberangkatan menuju Desa Gele Pulo. [*]
Share berita ini