DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Republik Indonesia (Kemenkop UKM RI) menggelar keterampilan (Vocational) bagi UKM di Banda Aceh pada Selasa (27/9/2022) tepat di Hotel Grand Arabia.
Asisten Deputi Pengembangan Sdm UKM Kemenkop UKM RI, Dra. Dwi Andriani Sulistyowati, M.AB menyampaikan, Era-Globalisasi ini persaingan pasar semakin ketat. Namun pelaku UMKM di Indonesia memiliki beberapa permasalahan Klasikal.
“Permasalahan klasikal tersebut diantaranya; bidang manajemen, organisasi, teknologi, SDM, permodalan, operasional, dan teknis di lapangan, terbatasnya akses pasar, kendala perizinan, serta biaya-biaya non teknis di lapangan yang sulit untuk dihindarkan,” ujar dalam kata sambutannya via Daring, Selasa (28/9/2022).
Dirinya menjelaskan, Struktur ekonomi Indonesia saat ini masih jauh dari ideal, dimana 99,99% (64,5 juta UMKM) dan kontribusi terhadap PDB sebesar 61,97%, sebaliknya 0,01% pelaku usaha besar ( 5.550 UB) menguasai 40% PDB.
“Padahal dari total UMKM itu sudah memberikan kontribusi besar bagi ekonomi Indonesia dengan Penyerapan tenaga kerja sebesar 97,2 persen dari daya serap tenaga kerja dunia usaha, sementara itu jalinan kemitraan UMKM termasuk berjejaring dalam Global Chain Value masih rendah yakni hanya 7 persen,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, Jumlah ekspor non migas nasional meningkat pada triwulan III 2021 dengan nilai ekspor naik 22,71% dibanding triwulan III 2020 sebesar 17,24%.
Walaupun demikian, dari jumlah tersebut jumlah ekspor UMKM Indonesia masih tergolong rendah yakni hanya 16 Persen.
“Ini masih jauh sekali dengan negara lain, seperti Thailand 29 Perse, Singapura 41 Persen, dan Tiongkok 60 Persen,” ungkapnya.
Hal ini disebabkan karena turunnya daya saing karena kemampuan SDM Indonesia yang masih rendah. “Ini terlihat dari indikator yang menurun di berbagai sektor, yakni kemampuan tenaga kerja (Skill) dan kemampuan industri,” ungkapnya lagi.
Sementara itu, dari sisi produk UKM, banyak pelaku UKM di Indonesia tidak dapat melakukan ekspor dikarenakan tidak terpenuhinya standar produk untuk pasar ekspornya.
Untuk meningkatkan hal itu, kata Dwi, Kemenkop UKM RI mengadakan pelatihan Keterampilan (Vocational) bagi UKM dengan tujuan mendorong SDM UKM Unggul Go Ekspor.
“Diharapkan dalam kegiatan ini peningkatan keterampilan bagi UKM berbahan baku Nilam dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan UKM dalam melakukan Ekspor juga meningkatkan pengetahuan mendalam mengenai Quality Control Produk, pemanfaatan limbah produksi nilam, penyulingan yang baik, pembuatan Website dan juga pemanfaatan ITE market nilam, bahkan juga diharapkan pelaku UKM dapat memahami bagaimana negosiasi yang baik dengan Buyer,” harapnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua Panitia Amrih Wigiati S.sos MM mengatakan, ini salah satu dukungan dari Kemenkop UKM RI untuk Major Project yang dialokasikan ada di 5 (Lima) wilayah di Indonesia.
Dirinya mengungkapkan, adapun kelima wilayah tersebut adalah Kabupaten Sukoharjo dengan produknya Rotan, Kupang produk olahan daging sapi, Kabupaten Minahasa dengan bahan baku Kelapa, Aceh dengan Nilamnya, dan Tenggarong dengan bahan bakunya Jahe.
“Saya sangat bersyukur Aceh terpilih menjadi bagian daripada Major Project oleh Kemenkop UKM RI. Karena setelah dilakukan survey, identifikasi dari hulu ke hilir itu mendukung semua,” ujarnya kepada Dialeksis.com, Selasa (27/9/2022) yang juga Analis Kebijakan Ahli Madya Kemenkop UKM RI.
Lanjutnya, Dia mengharapkan dengan Major Project ini ditargetkan dapat memenuhi pasar ekspor di angka 17 persen di tahun 2024.
“Jadi salah satu pendekatan ekspor non migas. Kita berharap ini dapat terwujudkan. Dan kita juga berharap melalui kegiatan ini nantinya diharapkan akan terbentuk jejaringan nantinya, yang dapat membantu satu dengan lainnya,” ungkapnya.
Dirinya juga menyampaikan dengan adanya kegiatan ini juga diharapkan orientasinya ke negara Prancis.
“Kedepan diharapkan dari hasil pelatihan vokasional ini akan memuncilan pelaku UKM yang potensial untuk di seleksi dalam program, dan diikut sertakan dalam promosi, pameran, business matching di luar negeri untuk meningkatkan capasity building dalam bisnis nilam melalui studi banding di luar negeri contohnya ke prancis yang sudah melakukan kerja sama dengan PT Ugreen Aromatik Internasional yang mewadahi petani nilam dan UKM nilam,” tukasnya.
Selanjutnya, Dirinya mengatakan, melalui pelatihan ini dengan bekerjasama dengan PT Ugreen dan Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala dapat dimanfaatkan dengan baik dan berdampak bagus bagi UMKM di Aceh. [ftr]
Share berita ini