Garam Lam Ujong Paling Diminati di Aceh

DIALEKSIS.COM | Aceh Besar - Garam dapur yang diproduksi warga Gampong Lam Ujong, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, paling diminati di Aceh. 

Para petani garam di desa yang sempat disapu tsunami 2004 ini bisa menghasilkan 800-900 kg garam rebus per hari. 

“Bahkan ada sejumlah warung makan ternama di Banda Aceh yang tidak mau menggunakan garam kecuali hasil produksi petani garam Lam Ujong,” kata Azhar Idris (52) seorang petani garam di Gampong Lam Ujong, saat didatangi Dialeksis.com, Sabtu (5/10/2019) lalu.

Pria yang mengaku sudah 20 tahun menjadi petani garam itu menambahkan, garam dapur hasil produksi petani garam Lam Ujong sudah dipasarkan hingga ke pelosok Aceh oleh penampung.

“Saya sendiri setiap harinya harus menyediakan 150 kg garam rebus per hari kepada penampung,” tuturnya.

Dia menyebutkan, garam dapur untuk kebutuhan rumah tangga dijual Rp 5 ribu/kg. Sementara garam kristal untuk kebutuhan industri dijual Rp 3 ribu/kg.

Azhar mengungkapkan, dulunya warga setempat hanya memproduksi garam dapur yang diolah secara manual yaitu dengan merebus air asin. 

Azhar membuat garam dapur dengan metode tradisional, yaitu merebus dalam kuali besar, Sabtu (5/10/2019). [Foto: Ikbal Fanika/Dialeksis.com]

Namun semenjak 2017, setelah mengikuti pelatihan pembuatan garam industri dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh, mereka mulai memproduksi garam industri atau garam kristal.

Dia menceritakan, saat itu, DKP Aceh, membuat enam proyek percontohan pembuatan garam yang sehat, aman, dan halal (SAH) dengan metode tunnel dan membran plastik di sejumlah kabupaten di Aceh, yaitu Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireun, dan Aceh Utara.

Lima daerah ini dijadikan proyek perontohan pembuat garam yang SAH, agar garam yang dihasilkan menjadi garam untuk kebutuh industri. Azhar dan petani garam Lam Ujong saat itu mewakili Aceh Besar.

Usai pelatihan tersebut, Azhar bersama 5 petani garam Lam Ujong lainnya kemudian mendirikan 6 tunnel plastik ukuran 3,8 x 21 meter di lahan pengolahan garam Gampong Lam Ujong yang selama ini mereka gunakan.

“Garam industri caranyanya kita jemur di bawah terowongan plastik, penjemurannya bisa sampai dua minggu,” ujarnya.

Kini kata dia, petani garam dengan metoder jemur itu sudah bertambah menjadi 9 orang. Mereka mampu menghasilkan 1-2 ton garam kristal per bulan jika cuacanya bagus, yang diproduksi 2 kali per bulan.

Namun, untuk di Aceh, garam kristal belum begitu dibutuhkan karena tidak adanya industri di Aceh. Garam ini biasanya digunakan untuk kebutuhan industri seperti pembuatan pakan ternak, pembuatan es, dan pengasinan ikan.

Azhar menjemur garam di area produksi garam dengan metode jemur (tunnel) untuk menghasilkan garam industri, Sabtu (5/10/2019). [Foto: Ikbal Fanika/Dialeksis.com]

“Kami berharap pemerintah dapat membantu petani garam Lam Ujong dalam memasarkan garam dapur hingga ke nasional, khususnya garam kristal,” ujar Azhar. 

Warga Lam Ujong sudah memprouksi garam sejak 20 tahun lau. Pascatsunami, lahan produksi garam di Lam Ujong hanya tersisa 2 haktare.

Bupati Aceh Besar Mawardi Ali didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Besar Agus Husni sempat meninjau lokasi produksi garam Gampong Lam Ujong pada bulan lalu.

“Garam disini sangat bagus kualitasnya dan bewarna putih kapas dan ini perlu diketahui oleh masyarakat luar,” kata Mawardi saat meninjau garam Lam Ujong, Jumat (6/9/2019).

Bupati Aceh Besar pun meminta kepada para petani garam agar sisa lahan produksi garam tidak dijual dan pemerintah tidak akan mengeluarkan izin pembangunan perumahan disana, sementara pemerintah akan mengkaji lokasi lahan pengembangan garam baru.(if)


Share berita ini

dialeksis.com