Dosen USK Kembangkan Penggunaan Alat Pemberi Pakan Udang Otomatis di Alue Naga

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Perkembangan penggunaan alat pemberi pakan otomatis (Auto Feeder) pada sektor perikanan dan perudangan di desa Alue Naga belum tersosialisasi secara baik. 

Menurut Ichsan yang merupakan Dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala (USK), pemberian pakan udang secara tradisional atau menggunakan tenaga manusia diakui lebih mahal, serta tidak mampu memberikan akurasi hasil yang maksimal.

Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, Ichsan berdiskusi dengan para ahli di bidang permesinan yakni Dr Sarwo Edhy Sofyan dan juga ahli di bidang konstruksi yaitu Dr Taufiq Saidi menghasilkan sebuah ide pengembangan pembuatan alat pemberi pakan ikan dan udang yang mampu diproduksi secara mandiri melalui mitra kerja sama dengan kelompok usaha perbengkelan dan pelaku budidaya biota air. 

Dr. Sarwo Edhy Sofyan yang dosen dari Jurusan Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala mengatakan, di zaman yang semakin modern ini penggunaan mesin otomatis sudah waktunya untuk ditingkatkan, karena untuk mendapatkan hasil panen yang baik dan terukur serta tercapai sesuai target maka semua bagian dari sistem mekanis dan otomatis harus digunakan. 


“Produk ini juga harus didukung dengan kualitas kekuatan konstruksi rangka yang tepat seperti yang disarankan oleh Dr. Taufiq Saidi, bahwa sebuah kesempurnaan konstruksi sebuah alat yang terus mengalami pembebanan serta getaran tambahan membutuhkan penguatan, kepresisian dan akurasi yang baik, guna mendapatkan sebuah alat otomatis yang mampu dioperasikan dalam jangka waktu lama,” katanya.

Lanjutnya, pemberian pakan yang tidak terukur membuat biaya pakan yang cenderung mahal menjadi lebih besar pengeluarannya ketidakmampuan manusia mengerti kemauan udan dan ikan menjadi pemberian pakan menjadi tidak terkontrol. 

“Hal ini dikarenakan udang memiliki sifat continuous feeding atau pemakan secara terus-menerus, dengan begitu pekerja tidak bisa memberikan pakan secara maksimal,” terang Ichsan.

Menurut Ichsan, proses makan udang yang dimulai dari makan hingga selesai terhitung waktunya lebih lama. Hal ini berbeda dengan ikan (finfish) yang memerlukan waktu sekitar 15 menit saja.

“Untuk udang biasanya dicapit dulu, intinya secara proses makannya agak lambat yaitu sekitar satu jam saja,” tuturnya. 

“Karena proses yang lama itulah, udang perlu makan secara terus menerus agar proses pertumbuhannya berjalan dengan baik. Di sisi lain, hal ini justru menjadi keterbatasan bagi pekerja tambak jika harus memberi makan udang secara terus menerus. Sehingga penggunaan auto feeder menjadi pertimbangan,” tuturnya.


Cara Kerja Auto Feeder 

Di tambak Tuwanku Yafis pemberian pakan dilakukan selama 5 kali dalam sehari. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil penelitian, udang yang diberikan pakan secara rutin dan tepat waktu minimal 5 kali satu hari mengalami pertumbuhan yang cukup baik.

Adapun jarak pemberiannya dilakukan selama 3,5 jam. Dalam 3,5 jam tersebut autofeeder akan melontarkan pakan berkali-kali hingga pakan di dalam alat tersebut habis.

“Kemudian diisi pakan lagi,” ucapnya

Auto Feeder yang digunakan oleh mita Tuwanku Yafis akan mengeluarkan pakan selama 1 menit setiap lemparannya.

Setelah 1 menit, motor pemutar pakan akan berhenti atau delay selama 1 - 4 menit, disesuaikan dengan kebutuhannya. Alat yang dapat menampung pakan sebanyak 15 kg ini dapat melemparkan pakan sejauh 1-3 meter.

Berdasarkan sistem kerja auto feeder tersebut, ikan dan udang akan makan secara bergantian antara yang satu dengan yang lainnya. Khususnya untuk udang, mereka akan mendapat pakan lebih dulu akan menyelesaikan proses makannya selama satu jam. Dalam waktu tersebut, udang yang belum mendapat pakan akan mendapatkannya pada lemparan pakan selanjutnya.

“Rombongan udang tahap pertama pergi makan dan akan diikuti rombongan tahap kedua, dan terus berlanjut seterusnya,” ucap Tuwanku Yafis.


Peletakan Alat

Jumlah penggunaan auto feeder dalam satu petak tambak bervariasi sesuai dengan ukuran tambak dan spesifikasi alatnya. Tuwanku menggunakan 1 alat dalam satu petaknya.

“Kolam terkecil ukuran 3.300 (m2). Kolam terbesar ukuran 6.500 (m2) saya menggunakan dua,” jelas Tuwanku.

Sementara Dr Sarwo Edhy S menjelaskan bahwa hanya dibutuhkan satu alat saja untuk luas petak sekitar 2.500 meter persegi. Kapasitas setiap alat juga berbeda. Dr. Sarwo Edhy S menjelaskan penggunaan alat dengan kapasitas relatif kecil, yakni 15 kg.

“Agar mudah dilakukan mengontrol,” Sementara autofeeder yang digunakan oleh Tuwanku memiliki kapasitas 25 dan 30 kg.

Sebenarnya tidak ada aturan baku mengenai jumlah alat dalam setiap tambak dan di posisi mana sebaiknya alat diletakkan. Hal ini justru petambak sendiri yang mengetahui kondisi kehidupan ikan dan udang serta tambaknya.

Tetapi Dr. Sarwo edhy S merekomendasikan agar area lemparan alat tidak beririsan satu dengan yang lainnya. “Kalau ditempatkan dekat dan ada irisan pemberian pakan satu feeder dengan lainnya, ini akan jelek nanti hasilnya,” jelasnya.

“Udang itu paling banyak di aliran air yang bergerak ini, oleh karena itu karena dibersihkan jalurnya karena. yang tidak berada di jalur aliran air itu sedikit udangnya.” katanya. Hal ini penting bagi petambak sebagai pertimbangan untuk memposisikan autofeedernya.

Produk pengabdian ini dapat dilakukan atas bantuan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LPPM) Universitas Syiah Kuala (USK) 2021.

Diharapkan produk ini sebagai awal dari pengembangan produk lanjutan menuju ketahanan pangan masyarakat pesisir terutama masyarakat pesisir desa Alue Naga sebagai tahapan awal sebelum dilakukan di lokasi selanjutnya. []

Share berita ini

dialeksis.com