Dodaidi Kembali Mengalun di Tibang, Tradisi Aceh Dirawat Lewat Lomba

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Senandung dodaidi, tradisi menimang anak yang lekat dengan kehidupan masyarakat Aceh, kembali mengalun di Gampong Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Tradisi itu dikemas dalam Lomba Dodaidi yang digelar Pemerintah Gampong Tibang bersama Pusat Pengkajian Kebudayaan Nusantara (PPKN), Senin malam, 17 Agustus 2026.

Lomba yang digelar di Lapangan Gampong Tibang tersebut menjadi bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebanyak 13 peserta dari empat gampong di Kecamatan Syiah Kuala ikut ambil bagian.

Namun, kegiatan itu tak sekadar menjadi perlombaan untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Di balik senandung yang dibawakan peserta, ada upaya menghidupkan kembali salah satu tradisi lisan Aceh yang mulai jarang dipraktikkan dalam kehidupan keluarga.

Dodaidi dikenal sebagai senandung atau lagu pengantar tidur yang biasanya dilantunkan orang tua, terutama ibu, ketika menimang anak. Syairnya mengandung pesan moral, pendidikan karakter, nilai keislaman, hingga harapan orang tua terhadap masa depan anak.

Tradisi Do Da Idi juga telah masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Aceh, mempertegas posisinya sebagai bagian penting dari kekayaan budaya yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Keuchik Gampong Tibang, Darmawan, menilai rangkaian perlombaan dalam perayaan kemerdekaan bukan hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga ruang memperkuat hubungan sosial antarsesama warga.

Menjelang rangkaian kegiatan HUT RI tersebut, Darmawan telah mengajak masyarakat menjadikan perlombaan sebagai momentum membangun kebersamaan.

“Mari kita merangkai kemeriahan, kebersamaan dan sportivitas melalui berbagai lomba. Ini momentum kita mempererat silaturahmi antar warga,” kata Darmawan.

Semangat itu terlihat dalam lomba dodaidi. Menurut Darmawan, pelibatan masyarakat dalam kegiatan berbasis tradisi menjadi penting karena perayaan kemerdekaan dapat sekaligus dimanfaatkan untuk memperkuat kebersamaan dan menjaga warisan budaya di tingkat gampong.

Lomba dodaidi dibuka anggota DPRK Banda Aceh, Aulia Rahman. Ia mengapresiasi Pemerintah Gampong Tibang dan PPKN karena memilih mengangkat tradisi yang kini semakin jarang ditemui di tengah masyarakat. Aulia berharap kegiatan serupa tidak berhenti di Tibang, melainkan dapat diperluas ke kecamatan lain dengan jumlah peserta yang lebih banyak.

Menurutnya, perayaan kemerdekaan tidak harus selalu diisi dengan perlombaan yang bersifat hiburan. Menghadirkan kembali kebudayaan lokal justru memberi nilai lebih karena masyarakat, terutama generasi muda, dapat kembali mengenali tradisi yang hidup dalam keluarga Aceh sejak dahulu.

Ketua PPKN, Rusydi, S.Ag., M.Pd., mengatakan lomba tersebut merupakan kegiatan perdana yang mereka selenggarakan tahun ini. PPKN, kata dia, selama ini bergerak dalam pengkajian budaya, sejarah, pendidikan, dan adat istiadat melalui festival maupun kegiatan kebudayaan.

PPKN juga berencana mengembangkan kegiatan serupa dengan cakupan yang lebih luas hingga tingkat Provinsi Aceh. Langkah tersebut diharapkan membuka ruang lebih besar bagi pelestarian tradisi yang mulai tergerus perubahan pola kehidupan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Dr. Tgk. Jamaluddin, MA, mengatakan 13 peserta dari empat gampong mengikuti lomba tersebut. Kegiatan sengaja mengangkat dodaidi karena tradisi menimang anak dengan senandung khas Aceh itu dinilai mulai ditinggalkan sebagian keluarga muda.

Melalui lomba tersebut, Gampong Tibang mencoba membawa dodaidi keluar dari ruang ingatan dan kembali ke tengah masyarakat. Perayaan kemerdekaan pun tidak hanya menjadi arena kemeriahan, tetapi sekaligus ruang untuk merawat identitas budaya Aceh dari tingkat gampong.

Share berita ini

dialeksis.com