DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Diskusi buku Mencintai Munir untuk menyebarkan mengenang, menyebarkan semangat juang serta pergulatan Suci Wati dalam memperjuangkan keadilan, Selasa (15/11/2022) di Ivory Cafe.
Adapun pembicara yang hadir, diantaranya adalah Suciwati yakni ejuang HAM/istri Alm. Munir, Indria Fernida dari Regional Program Manager Asia Justice and Rights - AJAR, Iqbal Farabi sebagai Koordinator KontraS Aceh 1998, dan Azhari Aiyub yaitu Seniman/Penulis buku Kura-Kura Berjanggut.
Munir Said Thalib adalah salah satu aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang berperan besar bagi Aceh saat operasi militer berlangsung di Aceh. Ia bersama KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) menuangkan pikiran dan tenaga untuk pemenuhan keadilan bagi korban pelanggaran HAM di ujung utara Pulau Sumatra ini.
Nama Munir pun harum hingga ke pelosok Beutong Ateuh Banggalang, Nagan, lokasi di mana Tengku Bantaqiah dan murid- muridnya dibantai oleh militer.
Pendampingan yang dilakukan Munir terhadap keluarga korban tragedi Beutong Ateuh, dan juga kasus-kasus kekerasan lainnya di seluruh Aceh, menyisakan ingatan mendalam bagi rakyat Aceh, baik bagi penyintas konflik maupun generasi muda di Aceh yang terinspirasi dengan rekam jejak perjuangannya.
Kelak, Munir dibunuh dalam perjalanan ketika hendak menempuh pendidikan ke Belanda dengan pesawat Garuda Indonesia. Hingga 18 tahun lamanya, kasus kematian Munir tak kunjung ditetapkan sebagai Pelanggaran HAM Berat dan cenderung dipetieskan.
Perilisan buku ‘Mencintai Munir’ yang ditulis oleh sang istri, Suciwati, merupakan bagian dari mengingat sosok Munir.
Buku ini menceritakan kesederhanaan Munir dalam kehidupannya sehari- hari, di mana orang-orang yang hidup di sekitar Munir turut merasakan energi positif atas keberadaannya.
Bahkan bagi mereka yang tidak mengenal langsung Munir, melainkan tahu kiprahnya melalui pemberitaan media massa, pun ikut merasa bangga dan semangat atas kerja- kerja Munir.
Dalam buku ‘Mencintai Munir’, Suciwati menyampaikan rangkaian kisah-kisah personal tentang cinta yang tumbuh, komitmen membangun kehidupan bersama, termasuk membesarkan anak- anak, yang kesemuanya diarungi dalam balutan dinamika situasi sosial politik kala itu.
Suciwati juga menyampaikan, kisah ini akan menjadi latar penting di balik kegigihan Munir dalam memperjuangkan penegakan HAM di Indonesia.
"Seluruh kisah itu dalam narasi percakapan memikat dengan Munir yang membicarakan yang telah lampau dan mendiskusikan kerumitan persoalan kekinian bersama," ucapnya.
Tidak hanya itu, kesederhanaan penuturan dalam buku ini memberikan gambaran terang tentang kompleksitas persoalan dalam kasus pembunuhan Munir. Lebih penting lagi, ia bukan sekedar jalinan fakta-fakta mengenai persona Munir.
"Di dalamnya juga ada manusia-manusia yang berkembang bersama dalam kehidupan penuh cinta di lingkungan keluarga Munir," jelasnya lagi.
"Kita memang harus baca bukunya agar tau bahkan mencintai munir karena di dalam buku itu dijelaskan semangat juang dalam kehidupannya," tutupnya. [Au]
Share berita ini