Dishub Aceh Kaji 3 Lokasi untuk Pelabuhan Penyeberangan Pulo Breuh

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh mengkaji tiga lokasi alternatif untuk pembangunan Pelabuhan Penyeberangan Pulo Breuh, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.

Kepala Dishub Aceh T. Faisal mengatakan, pembangunan pelabuhan tersebut diperlukan untuk memperbaiki konektivitas masyarakat Pulo Breuh yang selama ini menghadapi keterbatasan akses transportasi laut.

“Pulo Aceh ini sebenarnya dekat, tetapi terasa jauh karena aksesnya. Kita ingin pembangunan pelabuhan ini benar-benar bisa menjawab kebutuhan masyarakat,” kata Faisal yang dilansir pada Sabtu (24/10/2026).

Menurut Faisal, tiga lokasi yang tengah dikaji berada di Lapeng, Rinon, dan Ujong Peuneung, Gampong Meulingge.

Namun, belum ada lokasi yang ditetapkan sebagai titik pembangunan pelabuhan. Setiap alternatif masih harus dikaji berdasarkan aspek teknis, ekonomi, lingkungan, aksesibilitas, keselamatan, dan kelayakan operasional.

Faisal mengatakan, kajian tersebut penting agar pembangunan pelabuhan tidak hanya memenuhi kebutuhan konektivitas, tetapi juga dapat beroperasi secara efektif dan berkelanjutan.

“Jangan sampai lokasi sudah ditetapkan, tetapi kemudian ada persoalan yang membuat pelabuhan tidak efektif. Kita ingin dokumen perencanaannya matang dan pembangunan ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat Pulo Breuh,” ujarnya.

Pertimbangkan kondisi perairan

Faisal menjelaskan, penentuan lokasi harus mempertimbangkan kondisi teknis perairan, termasuk gelombang, angin, keberadaan terumbu karang, sedimentasi, hingga akses jalan menuju pelabuhan.

Menurut dia, berbagai aspek tersebut harus dikaji sejak awal agar lokasi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan pelayanan dan karakteristik wilayah Pulo Breuh.

Rencana pelabuhan juga diarahkan untuk melayani kapal jenis roll-on/roll-off (Ro-Ro), sehingga kondisi perairan dan kesesuaian lokasi dengan karakteristik kapal menjadi pertimbangan penting.

Hasil survei awal konsultan PT Hidroteknik Andalan pada 13-15 September 2026 menunjukkan adanya lamun di lokasi Lapeng. Sementara itu, lamun tidak ditemukan di Ujong Peuneung dan Rinon.

Survei bawah laut juga menemukan terumbu karang dengan tingkat tutupan relatif rendah di ketiga lokasi. Kondisi tersebut tetap perlu diperhitungkan agar pembangunan tidak mengabaikan kelestarian ekosistem laut.

Selain itu, akses jalan menuju calon lokasi pelabuhan akan dinilai berdasarkan keterhubungannya dengan pasar, sekolah, fasilitas kesehatan, kawasan perikanan, pertanian, dan pariwisata.

Dorong konektivitas Pulo Aceh

Faisal mengatakan pembangunan Pelabuhan Penyeberangan Pulo Breuh merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan akses transportasi bagi masyarakat kepulauan dan wilayah terluar.

Menurut dia, Pulo Breuh memiliki potensi di sektor kelautan, perikanan, dan pariwisata yang membutuhkan dukungan konektivitas transportasi.

Keberadaan pelabuhan yang sesuai diharapkan dapat memperlancar mobilitas penumpang dan barang, memperkuat distribusi logistik, serta menjaga kelancaran pasokan kebutuhan pokok ke wilayah kepulauan tersebut.

Faisal menegaskan, hasil studi kelayakan akan menjadi dasar pertimbangan sebelum pembangunan masuk ke tahap perencanaan teknis yang lebih terperinci.

Hasil kajian itu juga akan digunakan untuk mendukung proses perencanaan dan penganggaran pembangunan pelabuhan.

“Harapannya, melalui perencanaan yang baik dan sinergi semua pihak, pembangunan ini bisa segera diwujudkan,” kata Faisal.

Dengan kajian tersebut, pemerintah berharap lokasi Pelabuhan Penyeberangan Pulo Breuh nantinya dapat ditentukan secara tepat dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, keselamatan pelayaran, kondisi lingkungan, serta keberlanjutan operasional pelabuhan. [*]

Share berita ini

dialeksis.com