DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Memasuki November 2026, sejumlah wilayah Aceh perlu mencermati potensi peningkatan curah hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Barat Daya menerima akumulasi hujan kategori sangat tinggi, lebih dari 500 milimeter sepanjang bulan ini.
Dalam prediksi curah hujan bulanan BMKG, sembilan daerah lainnya di Aceh masuk kategori tinggi, yakni 300 - 500 milimeter per bulan. Daerah tersebut meliputi Aceh Jaya, Simeulue, Pidie, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, dan Kota Subulussalam.
Sementara itu, Banda Aceh, Sabang, Aceh Besar, serta sejumlah daerah di pesisir utara dan timur Aceh diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah, yakni 100 - 300 milimeter per bulan. Sebaran tersebut menunjukkan kondisi hujan antardaerah di Aceh dapat berbeda sepanjang November.
Kewaspadaan juga diperlukan dalam waktu lebih dekat. Pada peringatan dini curah hujan untuk 1 - 10 November 2026, BMKG mencantumkan kategori awas di sejumlah kecamatan di Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Nagan Raya.
Di Aceh Selatan, wilayah itu meliputi Labuhanhaji Barat, Labuhanhaji Timur, dan Meukek. Di Nagan Raya, kategorinya mencakup Beutong, Darul Makmur, Tadu Raya, dan Tripa Makmur. Adapun di Aceh Barat Daya, delapan kecamatan tercantum dalam kategori tersebut, termasuk Blangpidie, Susoh, dan Babah Rot.
Untuk periode 2 - 5 November, prakiraan cuaca mingguan BMKG memasukkan Aceh dalam wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan hujan hingga intensitas sedang. Pada rentang waktu yang sama, Sumatera Barat masuk kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat.
Prakiraan beberapa hari tersebut memiliki rentang waktu berbeda dari prediksi akumulasi hujan bulanan. Angka lebih dari 500 milimeter merupakan perkiraan total hujan selama November, bukan jumlah hujan dalam satu hari.
Secara nasional, pergantian musim berlangsung bertahap. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan dalam keterangan resmi BMKG bahwa awal musim hujan tidak terjadi serentak di seluruh Indonesia.
BMKG memprediksi 185 zona musim mulai memasuki musim hujan pada November 2026, sedangkan 266 zona musim lainnya pada Desember. Pengaruh El NiƱo sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) menjadi faktor yang menyebabkan musim hujan di banyak wilayah datang lebih lambat.
Puncak musim hujan pun berbeda menurut wilayah. Berdasarkan prediksi musim hujan 2026/2027 yang diterbitkan BMKG pada 2 Oktober, sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan mencapai puncaknya pada Desember 2026, Januari 2027, atau Februari 2027.
Rinciannya, 155 zona musim diprediksi mencapai puncak hujan pada Desember, 162 zona musim pada Januari, dan 190 zona musim pada Februari. Dalam penjelasan regional BMKG, sebagian besar Sumatera termasuk wilayah yang diprakirakan mencapai puncak musim hujan pada Desember 2026.
Meski kondisi panas dan kering masih berlangsung di sejumlah daerah, peluang hujan tetap terbuka. Dalam prakiraan mingguan yang diterbitkan 29 Oktober, BMKG menjelaskan bahwa pasokan uap air, pertemuan angin, dan aktivitas gelombang atmosfer dapat mendukung pembentukan awan hujan.
Karena itu, masyarakat perlu tetap mencermati perubahan cuaca setempat. BMKG mengingatkan potensi genangan, longsoran material, dan sambaran petir yang dapat menyertai hujan, sekaligus meminta masyarakat mengikuti pembaruan prakiraan dan peringatan dini melalui situs resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta akun @infobmkg. [ra]
Share berita ini