Museum Aceh Konservasi 45 Naskah Kuno, Ada Hikayat Malem Dagang hingga Ilmu Falaq

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Museum Aceh terus melakukan konservasi terhadap koleksi naskah kuno atau filologika sebagai upaya menjaga warisan pengetahuan dan budaya Aceh agar tetap lestari.

Pekan ini, sebanyak 45 koleksi naskah kuno menjalani proses konservasi.

Sejumlah naskah yang ditangani memiliki beragam tema, mulai dari keagamaan, sejarah, hingga ilmu pengetahuan.

Di antaranya Bidayatul Mubtady, Umdatul Muhtajin, Astronomi dan Ilmu Falaq, serta Hikayat Malem Dagang.

Kepala Seksi Preparasi dan Konservasi Museum Aceh, Erni Mahdalena, mengatakan konservasi dilakukan secara rutin untuk menjaga kondisi fisik naskah dan mencegah kerusakan yang lebih parah.

“Setiap naskah memiliki kondisi dan tingkat kerusakan yang berbeda. Karena itu, sebelum dilakukan tindakan konservasi, kami terlebih dahulu memeriksa dan mendokumentasikan kondisi naskah,” kata Erni.

Ia menjelaskan, proses konservasi dilakukan secara bertahap.

Setelah melalui pemeriksaan dan dokumentasi, naskah dibersihkan secara hati-hati dari debu dan kotoran yang menempel.

Selanjutnya, bagian naskah yang mengalami kerusakan, seperti kertas rapuh maupun sobek, diperiksa untuk menentukan metode penanganan yang tepat.

“Setelah dibersihkan dan ditangani, naskah kemudian disimpan dengan memperhatikan suhu, kelembapan, cahaya, serta kondisi ruang penyimpanan. Kondisinya juga terus dipantau secara berkala,” ujarnya.

Menurut Erni, konservasi tidak hanya dilakukan untuk memperbaiki bagian naskah yang telah rusak.

Upaya tersebut juga bertujuan memperlambat proses kerusakan agar koleksi bersejarah itu dapat bertahan lebih lama.

“Yang kami jaga bukan hanya fisik naskahnya, tetapi juga informasi dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Naskah-naskah ini merupakan bagian dari sejarah dan warisan intelektual masyarakat Aceh,” katanya.

Salah satu koleksi yang dikonservasi adalah naskah Astronomi dan Ilmu Falaq.

Naskah tersebut memperlihatkan pengetahuan astronomi dan ilmu perhitungan waktu yang berkembang di tengah masyarakat pada masa lalu.

Sementara itu, Hikayat Malem Dagang menjadi salah satu karya yang merekam kisah serta nilai-nilai yang hidup dalam perjalanan sejarah masyarakat Aceh.

Melalui kegiatan konservasi yang dilakukan secara rutin, Museum Aceh berupaya memastikan naskah-naskah kuno tersebut tetap terjaga dan dapat dipelajari oleh masyarakat, peneliti, hingga generasi mendatang.

Upaya ini menjadi bagian dari komitmen Museum Aceh dalam merawat koleksi, sekaligus menjaga memori dan pengetahuan yang tersimpan dalam warisan intelektual masyarakat Aceh. [*]

Share berita ini

dialeksis.com