Lukisan Le Mayeur Mulai Pudar, Fadli Zon Siapkan Langkah Konservasi

DIALEKSIS.COM | Denpasar - Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau Museum Le Mayeur di Denpasar, Bali, pada Minggu (30/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, Fadli menyoroti kondisi sejumlah lukisan karya pelukis Belgia, Adrien Jean Le Mayeur de Merprès, yang membutuhkan penanganan konservasi.

Fadli mengatakan, perubahan warna menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keaslian karya-karya Le Mayeur. Kondisi tersebut antara lain terlihat pada lukisan yang menggunakan bahan karung atau bakor sebagai media pengganti kanvas.

“Salah satu tantangannya adalah memudarnya warna-warna. Karena kalau kita lihat warna aslinya, ini kan sangat kuat sekali,” ujar Fadli.

Menurut Fadli, lokasi museum yang berada di kawasan pesisir Sanur juga menjadi tantangan tersendiri dalam pemeliharaan dan konservasi karya seni.

Kementerian Kebudayaan, kata dia, akan mengirimkan tim dari Galeri Nasional Indonesia untuk meninjau kondisi lukisan sekaligus menentukan kebutuhan konservasi.

Selain konservasi, Fadli menyoroti rendahnya jumlah kunjungan ke Museum Le Mayeur. Saat ini, museum rata-rata hanya menerima sekitar 100 pengunjung per bulan dan mayoritas merupakan wisatawan asing, terutama dari Eropa.

Fadli menilai promosi perlu diperkuat agar sosok dan karya Le Mayeur lebih dikenal masyarakat Indonesia.

Le Mayeur menetap di Bali sejak 1933. Ia kemudian menikah dengan Ni Nyoman Pollok, penari Legong yang juga menjadi model dalam sejumlah lukisannya.

Museum Le Mayeur kini menyimpan 88 karya seni beserta berbagai peninggalan sang maestro. Museum tersebut diharapkan menjadi ruang pelestarian, edukasi, dan apresiasi seni sekaligus memperkuat pemanfaatan warisan budaya Bali. [*]

Share berita ini

dialeksis.com