DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua Umum Partai Nanggroe Aceh (PNA) periode 2026 - 2031, Misbahul Munir atau yang akrab disapa Rahul, langsung menyiapkan agenda pembenahan internal partai usai terpilih memimpin PNA. Konsolidasi organisasi, pelengkapan struktur kepengurusan, hingga persiapan menghadapi verifikasi partai politik menjadi fokus utama yang akan dilakukan dalam 100 hari pertama kepemimpinannya.
“Kita berbenah dulu. Lengkapi struktur DPP, setelah itu siapkan SK, lalu kita benahi kepengurusan di daerah. Intinya kita benahi internal terlebih dahulu,” kata Rahul saat diwawancara Dialeksis Minggu, 9 Agustus 2026.
Rahul menegaskan, salah satu pekerjaan terbesar yang harus segera diselesaikan adalah memastikan PNA kembali memenuhi seluruh persyaratan sebagai peserta pemilu. Menurutnya, partai harus mempersiapkan seluruh kebutuhan verifikasi administrasi dan verifikasi faktual setelah pada pemilu sebelumnya tidak mampu memenuhi ambang batas parlemen.
“Kita harus bisa menjadi peserta pemilu dulu dengan menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan verifikasi faktual dan administrasi,” ujarnya.
Semangat pembenahan tersebut juga menjadi strategi utama Rahul untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap partai lokal yang didirikan oleh para eks kombatan GAM tersebut. Ia menilai, kepercayaan publik hanya dapat diraih apabila PNA mampu menunjukkan perubahan nyata melalui konsolidasi dan penguatan organisasi.
“Yang pertama kita harus percaya diri dulu dan memperkuat barisan. Kalau kita sudah berbenah, insyaallah masyarakat akan menilai ke mana arah kita berlabuh ke depan,” kata Rahul.
Rahul mengaku optimistis menghadapi proses konsolidasi partai. Ia menyebut dukungan dari 19 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) kabupaten/kota yang mengantarkannya menjadi Ketua Umum menjadi modal penting untuk memperkuat struktur organisasi hingga ke tingkat kecamatan.
“Dari 23 kabupaten, saya mendapat dukungan dari 19 kabupaten. Dengan banyaknya dukungan ini, mereka memberi kepercayaan kepada saya untuk memimpin PNA ke depan. Bersama-sama kita akan membenahi kepengurusan hingga tingkat kecamatan,” ungkap Rahul.
Selain konsolidasi organisasi, Rahul juga menaruh perhatian besar terhadap regenerasi kepemimpinan di tubuh partai. Menurutnya, keterlibatan generasi muda akan menjadi salah satu prioritas kepengurusan baru.
“Karena saya juga masih muda, ke depan kita akan mengutamakan regenerasi di PNA,” kata dia.
Ia juga bertekad merangkul kembali keluarga besar PNA yang selama ini berpindah ke partai lain akibat berbagai dinamika internal yang terjadi pada masa lalu. Menurut Rahul, PNA membutuhkan persatuan seluruh kader untuk kembali bangkit dalam percaturan politik Aceh.
“Saya akan merangkul kader-kader PNA yang dulunya sudah lari ke partai lain. Kemarin banyak kisruh internal. Jadi saya akan mengumpulkan kembali 'beling-beling yang pecah' ini agar bisa bersatu kembali,” ujarnya.
Rahul menegaskan target utama kepemimpinannya bukan semata-mata mengejar kursi politik, melainkan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap PNA. Ia meyakini dukungan rakyat menjadi fondasi utama bagi kebangkitan partai.
“Kita mengembalikan kepercayaan masyarakat dulu kepada PNA. Kalau masyarakat sudah kembali percaya, baru kita berbicara target-target berikutnya. Karena kita semua membutuhkan dukungan rakyat,” katanya.
Menutup wawancara, Rahul mengajak seluruh kader untuk menjaga persatuan dan memperkuat soliditas partai demi masa depan PNA.
“Pesan saya, ‘meusaboh geutanyoe meuhase, meucre bre geutanyoe binasa’. Bersatulah kita di bawah naungan PNA,” pungkasnya.
Share berita ini