DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Perhelatan pemilihan hingga pelantikan pengurus DPD I Partai Golkar Aceh telah usai. Setelah konsolidasi di tingkat provinsi, perhatian politik internal partai berlambang pohon beringin itu mulai bergeser ke agenda musyawarah daerah di tingkat kabupaten dan kota.
Salah satu daerah yang menarik diperhatikan adalah Kota Banda Aceh. Sebagai ibu kota Provinsi Aceh sekaligus pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan pergerakan politik, kepemimpinan DPD II Partai Golkar Banda Aceh memiliki posisi strategis dalam menghadapi Pemilu 2029.
Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia melantik Muhammad Salim Fakhry sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Aceh periode 2025 - 2030 di Banda Aceh pada Sabtu, 11 Juli 2026. Dalam struktur tersebut, Khalid dipercaya sebagai Ketua Harian, Sabri Badruddin sebagai Sekretaris, dan Muhammad Rizky sebagai Bendahara. Bahlil juga menginstruksikan penguatan konsolidasi partai hingga tingkat kabupaten, kota, kecamatan, dan desa.
Masuknya Sabri Badruddin ke jajaran inti kepengurusan Golkar Aceh membuat peta suksesi di Banda Aceh berubah. Sabri sebelumnya memimpin DPD II Partai Golkar Banda Aceh dan sempat disebut sebagai salah satu figur yang berpeluang kembali memegang kendali organisasi di tingkat kota.
Data terbaru yang masih ditampilkan dalam portal Infopemilu KPU mencatat kepengurusan DPD II Partai Golkar Banda Aceh berdasarkan keputusan tertanggal 19 April 2023. Dalam struktur tersebut, Sabri Badruddin tercatat sebagai ketua, Amri, S.H.I., sebagai sekretaris, dan Aulia Rahman sebagai bendahara. Kepengurusan itu berjumlah 47 orang.
Artinya, secara administratif, pembaruan kepengurusan Golkar Banda Aceh pascapenunjukan Sabri sebagai Sekretaris DPD I belum terlihat dalam portal KPU. Namun secara politik, penempatan Sabri di tingkat provinsi membuka ruang bagi munculnya figur baru untuk memimpin Golkar di ibu kota Aceh.
Penelusuran Dialeksis menemukan sedikitnya tiga nama yang mulai diperbincangkan, yakni Amri Yusuf, Aulia Rahman, dan Afdhal Khalilullah. Ketiganya membawa latar belakang, kekuatan, dan tantangan yang berbeda.
Amri Yusuf, Kekuatan dari Dapur Internal Partai
Amri Yusuf merupakan figur yang cukup lama bergerak di lingkungan organisasi dan struktur internal Golkar Banda Aceh. Dalam data kepengurusan yang tercatat di KPU, Amri menjabat sebagai sekretaris mendampingi Sabri Badruddin.
Posisi sekretaris membuat Amri bersentuhan langsung dengan administrasi, konsolidasi kader, komunikasi antarpengurus, serta koordinasi struktur partai di tingkat kecamatan. Modal tersebut menjadikan Amri sebagai salah satu figur yang memahami dinamika internal Golkar Banda Aceh.
Jejak Amri dalam politik lokal dapat ditelusuri setidaknya sejak 2016. Ketika terjadi perbedaan pandangan di internal Golkar Banda Aceh terkait pencalonan kepala daerah, Amri tampil sebagai juru bicara pengurus partai di tingkat kecamatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa ia telah lama dipercaya menyampaikan sikap politik struktur partai.
Amri juga mempunyai pengalaman dalam organisasi kepemudaan. Pada Musyawarah Daerah KNPI Aceh 2022, ia dipercaya sebagai Ketua Steering Committee. Dalam kapasitas tersebut, Amri terlibat dalam mempersiapkan serta mengawal mekanisme pemilihan Ketua KNPI Aceh.
Kekuatan utama Amri terletak pada loyalitas, pengetahuan terhadap dapur organisasi, serta kemampuannya menjalin komunikasi dengan kader dan pengurus kecamatan. Figur seperti Amri berpotensi diterima oleh kelompok yang menghendaki kesinambungan kepemimpinan dan stabilitas internal.
Namun, tantangan Amri berada pada aspek popularitas dan pengalaman politik elektoral. Jejak publiknya tidak sekuat Aulia Rahman yang telah duduk di DPRK maupun Afdhal Khalilullah yang kini menjabat Wakil Wali Kota Banda Aceh.
Amri juga perlu menunjukkan bahwa pengalaman sebagai pengurus dan pengelola forum organisasi dapat ditingkatkan menjadi kapasitas memimpin organisasi politik besar di tingkat kota.
Aulia Rahman, Organisator dengan Legitimasi Elektoral
Nama berikutnya adalah Ar. Aulia Rahman, S.T., M.Ars. Dibandingkan figur lain, Aulia membawa kombinasi antara pengalaman organisasi, posisi struktural di Golkar, dan legitimasi politik elektoral.
Aulia tercatat sebagai Bendahara DPD II Partai Golkar Banda Aceh. Pada Pemilu 2024, ia berhasil terpilih sebagai anggota DPRK Banda Aceh dari Partai Golkar. Situs resmi DPRK Banda Aceh juga mencatat Aulia sebagai anggota Badan Musyawarah DPRK periode 2024-2029.
Dalam bidang organisasi kepemudaan, Aulia pernah memimpin KNPI Kota Banda Aceh. Ia kemudian terpilih secara aklamasi sebagai Ketua KNPI Aceh. Pada April 2025, Aulia masih menjalankan kewenangannya sebagai Ketua KNPI Aceh dengan melantik kepengurusan KNPI Kota Banda Aceh periode 2024-2027.
Jejak kepemimpinan Aulia juga terlihat dalam organisasi profesi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Aceh sebelum digantikan Said Husain dalam Musyawarah Provinsi IAI Aceh pada Februari 2023.
Selain politik, kepemudaan, dan profesi, Aulia saat ini memimpin Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia Kota Banda Aceh. Ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PBVSI Banda Aceh periode 2025-2029 pada Januari 2025.
Rangkaian pengalaman tersebut menjadikan Aulia sebagai figur yang terbiasa menduduki posisi ketua. Ia juga mempunyai modal elektoral karena telah memenangkan kursi DPRK melalui kontestasi langsung.
Kekuatan Aulia terletak pada jejaring pemuda, profesi, olahraga, legislatif, serta posisinya sebagai bagian dari struktur inti Golkar Banda Aceh. Ia berpotensi membawa wajah baru dan pendekatan organisasi yang lebih terbuka terhadap generasi muda.
Namun, banyaknya jabatan organisasi sekaligus menjadi tantangan tersendiri. Aulia perlu membuktikan bahwa kepemimpinan di sejumlah lembaga tidak mengurangi fokusnya dalam melakukan konsolidasi partai hingga tingkat kecamatan dan gampong.
Sebagai figur yang relatif lebih baru menonjol dalam politik elektoral Golkar, Aulia juga harus membangun penerimaan dari kader senior dan kelompok-kelompok lama yang selama ini menjadi penyangga utama partai.
Afdhal Khalilullah, Kuat di Jejaring Kekuasaan
Afdhal Khalilullah memiliki modal paling kuat dari sisi jabatan publik. Ia saat ini menjabat sebagai Wakil Wali Kota Banda Aceh periode 2025 - 2030 mendampingi Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal.
Afdhal memiliki latar belakang pendidikan dari University Science Malaysia dan Universitas Syiah Kuala. Rekam jejak organisasinya meliputi Ketua KNPI Kota Banda Aceh periode 2016-2019, Wakil Ketua HIPMI Aceh, Wakil Ketua APERSI Aceh, Wakil Sekretaris KNPI Aceh, serta sejumlah organisasi lainnya.
Di lingkungan keluarga besar Golkar, Afdhal pernah menjabat Sekretaris Angkatan Muda Partai Golkar Aceh periode 2020–2025 dan Wakil Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan PDK Kosgoro Aceh. Riwayat tersebut memberikan Afdhal hubungan historis dengan jaringan kader muda Golkar.
Posisinya sebagai Wakil Wali Kota memberikan Afdhal akses komunikasi yang luas dengan pemerintah, tokoh masyarakat, organisasi pemuda, pelaku usaha, dan berbagai kelompok sosial. Ia juga aktif memanfaatkan media sosial untuk membangun komunikasi dan mempertahankan visibilitas publik.
Afdhal mempunyai kemampuan pendekatan personal yang cukup kuat. Pengalamannya memimpin KNPI Banda Aceh membuatnya memahami karakter organisasi kepemudaan dan dinamika sosial politik di ibu kota provinsi.
Namun, status politik Afdhal menjadi catatan penting. Dalam proses Pilkada Banda Aceh 2024, Afdhal tercatat dalam profil calon eksekutif Partai Gerindra sebagai anggota. Sementara itu, profil resmi Pemerintah Kota Banda Aceh masih mencantumkan riwayatnya sebagai Sekretaris AMPG Aceh dan pengurus Kosgoro.
Karena itu, munculnya nama Afdhal dalam bursa Ketua Golkar Banda Aceh memerlukan klarifikasi mengenai status keanggotaan dan persyaratan organisasinya. Hubungan historis dengan Golkar tidak secara otomatis menjadikannya kandidat yang memenuhi ketentuan internal partai.
Apabila persoalan status tersebut dapat dijelaskan, Afdhal memiliki modal politik yang besar. Namun, ia tetap harus membuktikan bahwa jejaring kekuasaan dan popularitas sebagai pejabat publik dapat dikonversi menjadi dukungan dari pemilik suara dalam musyawarah Golkar Banda Aceh.
Tiga Model Kepemimpinan
Bursa Ketua DPD II Partai Golkar Banda Aceh mempertemukan sedikitnya tiga model kepemimpinan.
Amri Yusuf merepresentasikan loyalitas dan penguasaan terhadap mesin internal partai. Afdhal Khalilullah membawa kekuatan jejaring kekuasaan, popularitas, dan akses terhadap berbagai kelompok masyarakat. Sementara Aulia Rahman menawarkan perpaduan antara struktur partai, pengalaman memimpin organisasi, serta legitimasi elektoral.
Apabila Golkar mengutamakan stabilitas dan kesinambungan internal, Amri menjadi figur yang patut diperhitungkan. Jika partai membutuhkan daya ungkit kekuasaan dan visibilitas publik, Afdhal memiliki keunggulan, meskipun status politiknya harus terlebih dahulu diperjelas.
Sementara itu, jika Golkar mencari figur yang memadukan kepemimpinan organisasi, keterwakilan generasi muda, pengalaman legislatif, dan posisi struktural partai, Aulia berada dalam posisi cukup kompetitif.
Meski demikian, ketiga nama tersebut sejauh ini masih berada dalam ruang pembicaraan politik. Belum ditemukan pengumuman resmi mengenai pendaftaran maupun penetapan calon Ketua DPD II Partai Golkar Banda Aceh. [red]
Share berita ini