DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pelatih karate Duta Ambiya, berharap pemerintah lebih serius memperkuat pembinaan atlet muda, khususnya di cabang olahraga karate. Harapan itu disampaikannya usai anak asuhnya, Mazdaq Pravda Beumulia, berhasil meraih medali emas pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) Karate FORKI Aceh 2026 Piala Bupati dan Wakil Bupati Pidie.
Menurut Duta, pencapaian yang diraih anak didiknya tersebut merupakan hasil yang membanggakan. Namun, pihaknya tetap melakukan evaluasi untuk mempersiapkan target yang lebih tinggi pada ajang berikutnya.
“Pencapaian Pravda sudah menunjukkan hasil maksimal. Tapi sebagai pelatih kami tetap melakukan evaluasi untuk menghadapi target selanjutnya. Sejauh ini perkembangan Pravda cukup baik,” kata Duta kepada Dialeksis, Jumat (24/7/2026).
Saat disinggung soal perhatian pemerintah, ia menyebutkan dukungan pemerintah terhadap pembinaan atlet muda karate masih belum maksimal. Kondisi itu semakin terasa setelah karate tidak lagi masuk dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), sehingga sejumlah ajang pelajar yang sebelumnya rutin digelar pemerintah, seperti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), tidak lagi menjadi ruang kompetisi bagi atlet karate.
Meski demikian, ia mengapresiasi inisiatif Pemerintah Kabupaten Pidie yang menggelar Kejurda Karate FORKI Aceh 2026 sebagai wadah bagi atlet muda untuk mengasah kemampuan.
Duta berharap pemerintah dapat lebih aktif melakukan pembinaan sejak tingkat akar rumput, terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang menjadi sumber regenerasi atlet masa depan.
“Pemerintah diharapkan lebih aktif turun melakukan pembinaan di tingkat akar rumput. Kalau perlu pemerintah turun membina di level yang lebih kecil seperti pelajar atau mahasiswa. Kalau sudah masuk kategori atlet, saya pikir itu sudah ranah KONI,” ujarnya.
Selain pembinaan, ia juga menyoroti pentingnya pemberian penghargaan kepada atlet yang berhasil menorehkan prestasi. Menurutnya, apresiasi dari pemerintah dapat menjadi motivasi bagi atlet untuk terus berkembang dan mengharumkan nama daerah.
Persoalan lain yang dihadapi klub karate, kata Duta, adalah keterbatasan fasilitas latihan. Hingga saat ini, klub yang dibinanya belum memiliki lokasi latihan yang pasti maupun sarana penunjang yang memadai.
“Banyak keterbatasan yang kami alami dan jauh dari kata layak. Kami belum punya kepastian lokasi latihan ataupun fasilitas penunjang,” kata Duta.
Selama ini, berbagai kebutuhan latihan masih dipenuhi secara mandiri oleh klub. Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memfasilitasi tempat latihan yang representatif agar proses pembinaan atlet dapat berjalan lebih optimal.
Tak hanya itu, Duta juga meminta dukungan agar atlet-atlet karate Aceh memiliki kesempatan mengikuti lebih banyak kejuaraan di tingkat nasional maupun internasional guna menambah pengalaman bertanding.
“Banyak event nasional dan internasional yang bisa kita ikuti. Vietnam, Malaysia, dan Thailand tergolong lebih murah dibandingkan bertanding di Pulau Jawa. Jadi kami mohon dukungan agar atlet diberikan kesempatan bertanding untuk meningkatkan jam terbang,” pungkasnya. [arn]
Share berita ini