FIFA Serukan Stop Hate, PSSI: Kekalahan Bukan Alasan untuk Membenarkan Kebencian

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pesan FIFA bertajuk “Protecting players online around the world” dengan seruan “Stop Hate, Protect Football” kembali mengingatkan bahwa sepakbola harus menjadi ruang aman bagi pemain, ofisial, dan suporter, termasuk di dunia digital.

Pesan tersebut relevan dengan kondisi sepakbola Indonesia setelah Timnas Indonesia gagal melaju ke semifinal Piala AFF 2026. Sejumlah pemain mendapat hujatan hingga serangan personal di media sosial.

PSSI meminta kekecewaan atas hasil pertandingan tidak berubah menjadi penghinaan, perundungan, penyebaran data pribadi, ancaman, maupun serangan terhadap keluarga pemain.

Bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, menjadi salah satu pemain yang mendapat serangan di media sosial bersama keluarganya. Kondisi tersebut mendapat perhatian PSSI.

Sekjen PSSI Yunus Nusi mengatakan evaluasi terhadap Timnas Indonesia tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan secara sportif dan bertanggung jawab.

“Pemain boleh dikritik secara sportif, tetapi martabat dan keselamatan mereka, termasuk keluarga, harus tetap dihormati. Kekalahan bukan alasan untuk membenarkan kebencian,” ujar Yunus Nusi di Jakarta.

Menurutnya, kritik tetap penting untuk mendorong perbaikan. Namun, kritik seharusnya diarahkan pada permainan, keputusan, dan proses yang bisa dievaluasi, bukan menyerang pemain secara pribadi.

PSSI juga mengajak suporter memberikan dukungan kepada pemain ketika kembali memperkuat klub masing-masing. Momentum kebangkitan akan hadir melalui bergulirnya kompetisi I.League 2026/2027, yakni Super League dan Championship yang dijadwalkan mulai September 2026.

Kompetisi domestik menjadi kesempatan bagi para pemain untuk memperbaiki performa, membangun kembali kepercayaan diri, sekaligus memperjuangkan tempat di Timnas Indonesia.

PSSI mengimbau suporter mendukung sepakbola secara positif dengan hadir ke stadion secara tertib, menonton melalui kanal resmi, membeli tiket dan produk klub secara legal, serta memberikan kritik menggunakan bahasa yang bertanggung jawab.

Di media sosial, suporter juga diminta menolak dan melaporkan konten berisi ujaran kebencian, perundungan, doxing, maupun ancaman tanpa ikut menyebarluaskannya.

“Saya berharap dukungan kepada pemain tidak berhenti ketika hanya berseragam Timnas. Dukungan juga saat mereka bersama klub masing-masing. Kritik boleh tajam, tetapi tidak boleh menjadi kebencian. Dukung pemainnya, hormati manusianya, dan jaga sepakbolanya,” pungkas Yunus Nusi. [*]

Share berita ini

dialeksis.com