DIALEKSIS.COM | Jakarta - Gempa bumi dapat terjadi kapan saja dan datang tanpa memberikan waktu bagi masyarakat untuk bersiap. Dalam situasi seperti itu, kepanikan justru dapat meningkatkan risiko. Karena itu, memahami langkah sederhana untuk menyelamatkan diri menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Mengutip dalam laman Info Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jumat (28/8/2026), masyarakat diharapkan agar tidak hanya memahami informasi mengenai gempa bumi, tetapi juga membiasakan diri dengan langkah mitigasi yang dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa terjadi.
Kesiapsiagaan tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yakni rumah dan tempat kerja. Masyarakat perlu mengenali pintu dan tangga darurat, lokasi Alat Pemadam Api Ringan (APAR), serta jalur yang dapat digunakan untuk menyelamatkan diri ketika keadaan darurat terjadi.
Ketika Guncangan Mulai Terasa
Saat gempa terjadi, tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah melindungi tubuh, terutama kepala, dari benda yang berpotensi jatuh atau reruntuhan bangunan.
Bagi masyarakat yang berada di dalam bangunan, berlindunglah di bawah meja, kasur, atau tempat kokoh lainnya. Apabila situasi memungkinkan dan jalur keluar benar-benar aman, segera keluar dari bangunan dengan tertib.
Sementara bagi mereka yang berada di luar ruangan, area terbuka menjadi pilihan yang lebih aman. Jauhi gedung, tiang listrik, pohon besar, dan papan reklame yang berpotensi roboh. Perhatikan pula kondisi tanah dan hindari lokasi yang mengalami retakan.
Bagi pengendara, kondisi jalan perlu menjadi perhatian. Jika terjadi pergeseran jalan atau terdapat tanda-tanda kebakaran, segera keluar dari kendaraan dan menjauh ke tempat yang lebih aman.
Masyarakat yang berada di kawasan pantai juga perlu meningkatkan kewaspadaan. Setelah merasakan gempa kuat, segera menjauhi pantai untuk mengantisipasi potensi tsunami. Sementara bagi warga di daerah pegunungan, lereng dan tebing yang rawan longsor perlu dihindari.
Setelah Guncangan Berhenti, Jangan Langsung Lengah
Berakhirnya guncangan utama bukan berarti seluruh bahaya telah selesai. Gempa dapat diikuti guncangan susulan maupun berbagai risiko lain akibat kerusakan bangunan dan fasilitas di sekitarnya.
Jika berada di dalam gedung, masyarakat perlu keluar secara tertib melalui tangga darurat. Lift dan eskalator sebaiknya tidak digunakan karena dapat berisiko ketika terjadi gangguan listrik atau kerusakan bangunan.
Sesampainya di tempat aman, perhatikan kondisi orang-orang di sekitar. Jika terdapat korban yang terluka, berikan pertolongan pertama sesuai kemampuan dan segera meminta bantuan medis apabila korban mengalami cedera serius.
Kewaspadaan juga diperlukan terhadap potensi kebakaran, kebocoran gas, korsleting listrik, maupun kebocoran pipa air. Masyarakat sebaiknya tidak kembali memasuki bangunan yang telah mengalami kerusakan akibat gempa karena kondisi struktur dapat berubah dan sewaktu-waktu membahayakan.
Di tengah situasi darurat, informasi juga menjadi kebutuhan penting. Masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti informasi dari sumber resmi dan terpercaya, seperti BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) juga BPBD setempat, serta media nasional maupun lokal. Langkah ini penting untuk menghindari informasi keliru atau hoaks yang dapat memperburuk kepanikan.
Kesiapsiagaan Dimulai Sebelum Gempa
Keselamatan saat bencana tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan ketika gempa terjadi. Persiapan jauh sebelum bencana menjadi salah satu kunci untuk mengurangi risiko.
Di rumah, misalnya, perabotan berat seperti lemari dan kabinet dapat diamankan dengan mengikat atau menempelkannya secara kuat pada dinding agar tidak mudah roboh ketika terjadi guncangan. Benda-benda yang menggantung juga perlu diperiksa kestabilannya.
Masyarakat juga perlu memastikan kondisi struktur tempat tinggal dan mengetahui cara mematikan sumber air, gas, serta listrik apabila diperlukan dalam keadaan darurat.
Persiapan lainnya adalah menyediakan Tas Siaga Bencana (TSB). Tas ini sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau dan berisi kebutuhan dasar untuk bertahan secara mandiri setidaknya selama tiga hari.
Isi TSB antara lain kotak P3K dan obat-obatan pribadi, makanan serta minuman dengan masa simpan panjang, pakaian, masker, pembalut atau popok sesuai kebutuhan, senter beserta baterai cadangan, radio portabel, telepon seluler dan pengisi daya.
Dokumen penting seperti KTP, kartu keluarga, ijazah, dan surat nikah juga dapat disimpan dalam wadah atau kantong tahan air. Uang tunai secukupnya, foto keluarga, dan peluit untuk meminta pertolongan juga dapat menjadi bagian dari perlengkapan tersebut.
Tas Siaga Bencana bukan sekadar kumpulan barang darurat. Keberadaannya merupakan bentuk kesiapan agar kebutuhan dasar tetap tersedia ketika akses bantuan, listrik, komunikasi, atau layanan publik mengalami gangguan.
Karena itu, isi tas perlu diperiksa secara berkala, setidaknya setiap enam bulan, untuk memastikan makanan, obat-obatan, baterai, dan perlengkapan lainnya masih layak digunakan.
Mitigasi gempa tidak harus dimulai dengan langkah besar. Mengenali lingkungan, mengetahui jalur evakuasi, mengamankan perabotan, menyiapkan Tas Siaga Bencana, dan memahami tindakan saat guncangan terjadi merupakan kebiasaan sederhana yang dapat memberikan manfaat besar.
Siaga bukan berarti takut menghadapi bencana. Siaga berarti memberi diri sendiri dan keluarga kesempatan yang lebih besar untuk selamat ketika bencana benar-benar datang.
Share berita ini