DIALEKSIS.COM | Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali menegaskan bahwa kusta bukanlah penyakit kutukan, melainkan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dan dapat disembuhkan apabila ditemukan sejak dini serta diobati hingga tuntas.
Pesan tersebut disampaikan Menkes dalam rangkaian upaya percepatan eliminasi kusta di Indonesia, mulai dari Konferensi Nasional Kusta 2026 hingga kunjungannya ke Kampung Kusta Jongaya, Makassar. Pemerintah juga terus mengajak masyarakat menghapus stigma terhadap penyandang dan penyintas kusta yang selama ini masih menjadi hambatan utama dalam penanganan penyakit tersebut.
Menurut Budi, masyarakat tidak perlu takut terhadap kusta karena obatnya telah tersedia secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan. Bahkan, risiko penularan akan menurun secara signifikan begitu pasien mulai menjalani pengobatan.
"Kusta tidak perlu ditakuti. Begitu pasien mulai menjalani pengobatan, risiko penularannya langsung menurun secara signifikan. Karena itu yang paling penting adalah menemukan kasus sedini mungkin," ujar Budi.
Ia menegaskan, stigma yang berkembang di masyarakat justru membuat banyak penderita enggan memeriksakan diri. Akibatnya, penyakit baru diketahui ketika sudah menimbulkan kerusakan saraf maupun kecacatan yang sebenarnya bisa dicegah.
Saat mengunjungi Kampung Kusta Jongaya, Makassar, Menkes kembali menekankan bahwa kusta bukan kutukan ataupun penyakit turunan. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengucilkan penderita maupun penyintas kusta.
Menurutnya, eliminasi kusta tidak cukup hanya melalui pengobatan, tetapi juga membutuhkan perubahan cara pandang masyarakat agar penyintas memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, pelayanan kesehatan, dan kehidupan sosial.
Dalam kesempatan yang sama, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination sekaligus Honorary Chair The Nippon Foundation, Yohei Sasakawa, menyampaikan bahwa penghapusan stigma harus berjalan beriringan dengan upaya penyembuhan penyakit.
Ia menilai eliminasi kusta bukan hanya berarti mengurangi jumlah kasus, tetapi juga mengakhiri diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami penyakit tersebut beserta keluarganya.
Pesan tersebut diperkuat oleh kisah penyintas kusta, Syamsul, yang mengaku mengalami berbagai bentuk diskriminasi sejak kecil akibat minimnya pemahaman masyarakat mengenai penyakit tersebut.
Ia berharap penyintas kusta tidak lagi dipandang berbeda dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya.
"Kami bukan sekadar penerima bantuan. Kami ingin menjadi bagian dari pembangunan dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya," ujarnya.
Kementerian Kesehatan pun mengajak seluruh pemerintah daerah, tenaga kesehatan, tokoh agama, dunia pendidikan, media, hingga organisasi kemasyarakatan untuk bersama-sama memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kusta.
Melalui deteksi dini, pengobatan yang tuntas, serta penghapusan stigma, pemerintah optimistis target eliminasi kusta di Indonesia dapat tercapai sekaligus mencegah munculnya kecacatan akibat keterlambatan penanganan. [in]
Share berita ini