DIALEKSIS.COM | Banjarbaru - Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat program Bank Pakan sebagai langkah mengantisipasi risiko kekurangan pakan ternak akibat musim kemarau dan dampak perubahan iklim. Melalui penyediaan cadangan pakan di berbagai daerah, pemerintah berupaya menjaga produktivitas ternak agar pasokan daging dan susu tetap stabil.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan pakan merupakan faktor utama dalam keberhasilan usaha peternakan. Karena itu, pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan populasi ternak, tetapi juga membangun sistem penyediaan pakan yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.
"Ancaman El Nino tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi juga memengaruhi ketersediaan pangan asal hewan akibat penurunan produktivitas dan meningkatnya risiko penyakit. Karena itu kami memperkuat berbagai langkah antisipasi, mulai dari penyediaan hijauan pakan ternak yang lebih tahan terhadap kekeringan, pengembangan Bank Pakan, penyediaan obat, vitamin, vaksin dan vaksinasi, hingga penguatan biosekuriti serta pengendalian vektor pembawa penyakit," kata Agung.
Menurut Agung, Bank Pakan dikembangkan sebagai cadangan hijauan yang dapat dimanfaatkan peternak ketika produksi rumput menurun akibat kemarau panjang. Hijauan pakan tersebut diolah menjadi silase dan hay sehingga memiliki masa simpan lebih lama dan tetap tersedia saat dibutuhkan.
Saat ini, Kementan telah memfasilitasi 843 Bank Pakan yang tersebar di 34 provinsi. Program tersebut juga didukung pengembangan hijauan pakan ternak yang lebih adaptif terhadap kekeringan, seperti leguminosa dan rumput unggul berprotein tinggi.
Kementan menegaskan pengembangan Bank Pakan akan terus diperluas sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan ketersediaan pakan sepanjang tahun, produktivitas ternak diharapkan tetap terjaga, biaya produksi peternak lebih terkendali, serta pasokan protein hewani bagi masyarakat tetap aman. [red]
Share berita ini