DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Mantan Ketua Forum Komunikasi dan Koordinasi (FKK) Desk Aceh Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam), Mayjen (Purn) TNI Amiruddin Usman, S.IP, menyayangkan terjadinya bentrokan antara massa dan aparat keamanan usai kegiatan Zikir Doa Tolak Bala dan Aksi Bela Nanggroe dan Syariat di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).
Insiden tersebut terjadi setelah kegiatan yang dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Aceh itu ditutup panitia. Ketegangan bermula ketika sejumlah massa mengibarkan bendera Bulan Bintang dan kemudian berkembang menjadi bentrokan dengan aparat keamanan yang berujung pada penggunaan tembakan peringatan dan gas air mata untuk membubarkan massa.
Menanggapi kejadian itu, Amiruddin menilai kegiatan doa dan zikir seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan berakhir dengan tindakan yang memicu gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.
"Saya sangat menyesalkannya yang seharusnya kita sebagai masyarakat muslim yang sangat taat, yang selalu dekat kepada Allah dan doa adalah suatu ibadah yang paling utama," kata Amiruddin kepada Dialeksis, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, apabila terdapat pihak-pihak yang memanfaatkan kegiatan keagamaan untuk kepentingan di luar tujuan awal kegiatan, maka hal tersebut sangat disayangkan.
"Kalau memang doa ya doa, tapi kalau tiba-tiba ada di luar itu ada yang mendomplengi atau itu bagian daripada doa itu sendiri sangat disayangkan. Kita tidak hanya menipu diri sendiri, tapi kita seolah-olah menipu Allah kalau janjinya berdoa tetapi kenapa harus seperti itu. Ini kita sangat sayangkan," ujar Amiruddin.
Dia mengingatkan bahwa selama ini Aceh telah menikmati situasi yang aman dan damai pasca penandatanganan Nota Kesepahaman Helsinki. Ia menilai kondisi tersebut merupakan hasil perjuangan panjang yang harus dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat.
Aceh saat ini, kata Amiruddin, berada dalam kondisi yang relatif tenteram, di mana aktivitas masyarakat dapat berlangsung hingga larut malam tanpa gangguan keamanan yang berarti.
"Kita juga masih mengingat berapa puluh tahun yang lalu kita masih berupaya keras untuk bisa menjamin perdamaian dengan mewujudkan MoU Helsinki, tapi tiba-tiba seperti ini," katanya.
Sebagai salah satu pihak yang pernah terlibat dalam proses dan pemantauan implementasi perdamaian Aceh, Amiruddin mengaku kecewa melihat terjadinya insiden tersebut.
"Saya sebagai salah satu pelaku Desk Aceh yang ikut juga di MoU, di monitoring Aceh ada di dalamnya, saya sangat kecewa sekali. Aceh yang kita banggakan, tapi seperti ini. Ya kurang pantaslah," ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, partai politik, serta aparat keamanan untuk bersama-sama meredam situasi agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
"Kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, partai-partai, cobalah redam hal ini. Kepada aparat keamanan, baik TNI maupun Polri, cobalah membangun komitmen yang baik, positif, serta yang efektif kepada semua pihak," sebut Amiruddin.
Amiruddin mengkhawatirkan apabila persoalan tersebut tidak segera diselesaikan, maka berpotensi memicu gejolak yang lebih luas di daerah lain di Aceh mengingat Banda Aceh merupakan pusat pemerintahan dan menjadi barometer situasi daerah.
"Kita khawatir sekali kalau ini berlanjut, ini bisa memicu ke seluruh wilayah walaupun ini baru di Kota Banda Aceh. Tapi ini kan Kota Banda Aceh sebagai patokan, sebagai pusat pemerintahan," ujarnya.
Karena itu, ia berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan mengedepankan dialog agar situasi kembali kondusif.
"Harapan saya persoalan ini segera selesai dan tidak berlanjut esok hari dan waktu mendatang. Semuanya akan mengalami kerugian jika situasi tidak kondusif," pungkas Amiruddin. [arn]
Share berita ini