DIALEKSIS.COM | Kolom - Ketika masyarakat Banda Aceh menyebut Krueng Aceh, Krueng Daroy, atau Mata Ie, ketiganya sering dipahami sebagai nama tempat yang berdiri sendiri. Padahal, jika ditelusuri melalui sumber sejarah, ketiga nama tersebut mempunyai hubungan yang menarik.
Mata Ie merupakan kawasan sumber mata air, Krueng Daroy merupakan aliran yang direkayasa dari kawasan tersebut, sedangkan alirannya kemudian berhubungan dengan sistem Krueng Aceh. Dengan demikian, persoalannya bukan apakah Krueng Aceh dan Mata Ie merupakan satu sungai, tetapi bagaimana ketiganya dihubungkan melalui tata air Kesultanan Aceh Darussalam.
Sumber primer yang sangat penting untuk memahami persoalan ini adalah Hikayat Aceh, yang disunting oleh Teuku Iskandar dalam De Hikajat Atjeh (1959). Naskah ini berasal dari lingkungan istana Aceh dan menjadi salah satu sumber utama mengenai pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Menariknya, Hikayat Aceh menggambarkan air Krueng Aceh sebagai air yang baik, bahkan dikaitkan dengan kesehatan. Ini menunjukkan bahwa air bukan sekadar unsur geografis, tetapi memiliki arti penting dalam kehidupan istana dan masyarakat Aceh.
Sumber primer berikutnya adalah Bustan al-Salatin karya Nuruddin ar-Raniry, khususnya bagian mengenai Taman Ghairah. Edisi yang banyak digunakan adalah Bustanussalatin yang disunting oleh Teuku Iskandar (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966). Dalam uraian tersebut dikenal nama Dar Ul-Isyki, yang oleh penelitian kemudian diidentifikasi dengan Krueng Daroy. Sungai ini menjadi bagian penting dari lanskap Taman Ghairah dan lingkungan istana.
Namun, bukti yang lebih menarik justru datang dari sumber asing. Thomas Best, seorang pelaut Inggris yang berada di Aceh pada 1613, mencatat kunjungannya bersama Sultan Iskandar Muda ke Mata Ie, sekitar 8-9 kilometer dari pusat kota. Anthony Reid mengutip catatan perjalanan Best dalam The Voyage of Thomas Best to the East Indies, 1612-1614, edisi Sir William Foster (Hakluyt Society, 1934). Catatan tersebut menggambarkan bagaimana Sultan membawa Best ke sumber air di Mata Ie untuk mandi dan menikmati jamuan kerajaan.
Fakta ini penting. Mata Ie bukan sekadar tempat rekreasi. Ia telah menjadi bagian dari ruang kerajaan pada masa Iskandar Muda. Bahkan, sumber akademik yang merujuk Thomas Best dan penelitian Denys Lombard menjelaskan bahwa pada sekitar 1613 Sultan melakukan pembelokan aliran air sehingga air dari kawasan tersebut dapat mengalir ke lingkungan istana.
Di sinilah posisi Krueng Daroy menjadi penting.
Dalam kajian Denys Lombard, Le Sultanat d'Atjéh au temps d'Iskandar Muda, 1607-1636 (1967), yang kemudian banyak digunakan dalam penelitian tentang tata ruang Banda Aceh, Dar al-Ishq/Krueng Daroy merupakan aliran yang dibelokkan pada masa Iskandar Muda agar airnya masuk ke kawasan istana. Kajian Amirul Hadi juga mencatat bahwa kompleks Dalam atau Darud Donya berada pada pertemuan Krueng Aceh dan Dar al-Ishq, yang kemudian dikenal sebagai Krueng Daroy. Pada 1613, sebagian aliran Krueng Daroy dialihkan melalui kompleks istana.
Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan “Apakah Krueng Aceh tersambung dengan Krueng Daroy dan Mata Ie?” harus diberikan secara hati-hati.
Ya, terdapat hubungan aliran; tetapi tidak berarti Krueng Aceh adalah lanjutan langsung Mata Ie. Mata Ie merupakan sumber air kawasan pegunungan; airnya dialirkan melalui sistem Krueng Daroy yang kemudian berhubungan dengan sistem sungai di Banda Aceh, termasuk Krueng Aceh. Penelitian Muhammad Naufal Fadhil bahkan menunjukkan bahwa aliran dari kawasan Mata Ie bercabang di kawasan Geuceu. Salah satu alirannya dikenal sebagai Krueng Daroy karena melewati kawasan Gunongan dan Darud Donya.
Hal ini memperlihatkan kecerdasan tata ruang Kesultanan Aceh Darussalam. Iskandar Muda tidak sekadar membangun istana, taman, Gunongan, dan Pinto Khop, tetapi juga mengatur air sebagai bagian dari desain kota. Air dari kawasan yang lebih tinggi diarahkan menuju pusat kekuasaan. Krueng Daroy melewati kawasan Taman Ghairah dan lingkungan istana, kemudian terhubung dengan sistem sungai kota.
Karena itu, Krueng Daroy tidak seharusnya hanya dibaca sebagai “sungai romantis Putroe Phang”. Ia adalah bukti bahwa Kesultanan Aceh memiliki pengetahuan tentang hidrologi, tata kota, rekayasa kanal, dan pengelolaan lingkungan. Air sekaligus menjadi kebutuhan praktis, unsur estetika taman, sarana kebersihan, dan simbol kemakmuran kerajaan.
Krueng Aceh sendiri mempunyai skala yang jauh lebih besar. Sungai ini merupakan sungai utama yang mengalir melalui Aceh Besar dan Banda Aceh menuju kawasan pesisir. Sumber pemerintah Aceh mencatat bahwa sejumlah aliran, termasuk Krueng Daroy, bermuara atau berhubungan dengan sistem Krueng Aceh. Pada masa Kesultanan, Krueng Aceh juga berfungsi sebagai jalur transportasi dan perdagangan yang menghubungkan pusat kota dengan kawasan pelabuhan.
Maka, jika kita membaca sejarah Banda Aceh melalui air, kita menemukan sebuah kota yang sesungguhnya dirancang dengan logika “dari hulu menuju pusat kekuasaan, lalu menuju hilir.” Mata Ie menyediakan sumber air; Krueng Daroy menjadi salah satu instrumen rekayasa air menuju kawasan kerajaan; sementara Krueng Aceh menjadi sistem sungai besar yang menopang kehidupan dan konektivitas kota.
Bagi saya, pelajaran terpenting dari sejarah ini bukan sekadar mencari apakah satu sungai tersambung dengan sungai lainnya. Yang jauh lebih penting adalah memahami bahwa orang Aceh masa lalu mampu menjadikan air sebagai bagian dari pembangunan peradaban. Sungai tidak hanya dilihat sebagai bentang alam, tetapi sebagai infrastruktur kehidupan, ruang sosial, simbol kekuasaan, bahkan bagian dari estetika kota.
Hari ini, ketika Krueng Daroy semakin kecil dan sebagian jejak tata air lama mulai terlupakan, pertanyaannya justru berbalik kepada kita: mampukah generasi sekarang membaca kembali kecerdasan tata kota leluhur dan merawat sungai sebagai warisan peradaban?
Sebab sejarah Krueng Aceh, Krueng Daroy, dan Mata Ie mengajarkan satu hal: peradaban besar tidak hanya dibangun dengan istana dan masjid, tetapi juga dengan bagaimana manusia menghormati, mengatur, dan menjaga air.
Sejarah Mata Ie, Krueng Daroy, dan Krueng Aceh semestinya menjadi pelajaran bahwa air adalah warisan peradaban yang harus dijaga bersama. Hadih maja mengingatkan, “Meuseuraya bak gampông, meupakat bak meunasah,” artinya bergotong royong di kampung, bermufakat di meunasah.
Pemerintah Aceh hari ini perlu menjadikan sejarah tata air tersebut sebagai dasar pelestarian sungai, sumber mata air, ruang hijau, dan situs sejarah secara terpadu. Bagi generasi Aceh, jangan hanya mengenal Iskandar Muda melalui nama jalan dan patung, tetapi pahami kecerdasan peradabannya. Merawat sungai berarti merawat sejarah, lingkungan, dan masa depan Aceh. [**]
Penulis: Teuku Avicenna Al Maududdy, M.Hum (Dosen Tetap UNISAI Samalanga, Kabupaten Bireun, Aceh)
Share berita ini