Darurat Gula pada Anak, Jangan Tunggu Sakit

DIALEKSIS.COM | Nasional - Minuman manis telah menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari banyak anak Indonesia. Data nasional memperlihatkan kebiasaan ini sudah terbentuk sejak usia prasekolah, sehingga upaya mengurangi gula perlu dimulai dari rumah dan lingkungan pendidikan.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat, 53 persen anak usia 5 - 9 tahun mengonsumsi minuman manis setidaknya sekali sehari. Pada kelompok usia 3 - 4 tahun, proporsinya mencapai 51,4 persen, sementara pada usia 10 - 14 tahun sebesar 50,7 persen. Angka tersebut menunjukkan frekuensi konsumsi, bukan jumlah gram gula yang diminum.

Persoalan ini berlangsung di tengah beban gizi lebih pada anak. Laporan UNICEF Biaya Tidak Bertindak terhadap Obesitas Anak di Indonesia, terbit April 2026 dan merujuk survei nasional 2023, menyebut sekitar satu dari lima anak usia 5 - 12 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Dalam laporan lain yang terbit September 2026, UNICEF menyoroti kerentanan anak terhadap penjualan dan pemasaran pangan tidak sehat di sekolah maupun melalui media digital. Meluasnya produk tinggi gula, garam, dan lemak berhadapan dengan akses pangan sehat yang masih terbatas.

dr. Iflan Nauval, M.ScIH., Sp.GK (K)., Sp.KKLP., AIFO-K, dosen tetap, klinisi, dan akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK), memiliki keahlian di bidang gizi klinik dan kedokteran keluarga.

Dalam tanggapan disampaikan kepada Dialeksis (4/10/2026), Iflan, fokus penjelasannya diarahkan pada perubahan kebiasaan sejak dini.

“Ketika lebih dari separuh anak pada kelompok usia tertentu terbiasa minum manis setiap hari, keluarga perlu mengevaluasi apa yang tersedia di rumah dan apa yang dibeli anak di sekolah. Pencegahan harus dimulai saat kebiasaan itu terbentuk, jangan menunggu anak mengalami masalah kesehatan,” ujarnya.

Konsumsi minuman berpemanis yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko kelebihan berat badan, obesitas, diabetes tipe 2, dan karies gigi. Hubungan tersebut menjadi salah satu dasar pentingnya pengendalian konsumsi, sebagaimana diuraikan dalam kajian UNICEF September 2026.

Namun, obesitas memiliki banyak faktor yang saling berinteraksi, termasuk pola makan, aktivitas fisik, faktor genetik, dan lingkungan. Karena itu, penanganannya membutuhkan dukungan keluarga serta lingkungan yang membantu anak menjalani kebiasaan sehat.

Tidak Semua Karbohidrat Harus Dihindari

Iflan menilai masyarakat juga perlu memahami bahwa istilah “gula” tidak sama dengan seluruh jenis karbohidrat. Karbohidrat secara umum dapat berupa karbohidrat sederhana maupun kompleks, dan keduanya dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.

Karbohidrat sederhana antara lain mencakup gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Sementara karbohidrat kompleks memiliki struktur yang lebih panjang, seperti pati dan serat. Namun, menurut Iflan, pembagian sederhana dan kompleks tidak boleh membuat masyarakat menyimpulkan bahwa semua gula sederhana berbahaya atau semua karbohidrat kompleks bebas dikonsumsi tanpa batas.

“Yang terutama perlu kita waspadai adalah kelebihan gula bebas, terutama yang berasal dari minuman dan makanan manis. Bukan berarti anak harus menghindari semua karbohidrat,” jelasnya.

Gula bebas mencakup gula yang ditambahkan ke makanan dan minuman, serta gula yang terdapat secara alami dalam madu, sirop, dan jus buah. Karena itu, teh manis, minuman bersoda, minuman berpemanis dalam kemasan, minuman bubuk, minuman berperisa, serta makanan dan camilan dengan tambahan gula perlu diperhatikan.

Sebaliknya, sumber karbohidrat seperti nasi, kentang, jagung, ubi, singkong, oat, biji-bijian, dan kacang-kacangan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan anak. Pilihan yang minim proses dan dikonsumsi bersama sumber protein, sayur, buah, serta sumber lemak sehat dapat memberikan energi dan zat gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan beraktivitas.

Perbedaannya, makanan utuh yang mengandung serat dan struktur pangan alami umumnya memberikan rasa kenyang lebih baik dibandingkan gula dalam bentuk minuman. Minuman manis juga dapat dikonsumsi dengan cepat dan dalam jumlah besar tanpa memberikan rasa kenyang yang sebanding.

“Jadi, jangan sampai pesan mengurangi gula diterjemahkan menjadi anak tidak boleh makan nasi, ubi, jagung atau buah. Yang kita kurangi adalah gula bebas dan makanan atau minuman yang tinggi gula tetapi rendah zat gizi,” kata Iflan.

Ia menambahkan bahwa buah utuh dan jus buah juga tidak sepenuhnya dapat disamakan. Buah utuh memiliki struktur dan serat yang masih dipertahankan, sementara ketika buah dijadikan jus, terutama bila dikonsumsi dalam jumlah besar, gula dapat lebih mudah dikonsumsi dalam waktu singkat. Karena itu, buah utuh lebih dianjurkan sebagai pilihan sehari-hari.


Iflan menekankan bahwa pembatasan gula harus tetap memperhatikan kebutuhan tumbuh kembang. Anak perlu memperoleh makanan beragam dan bergizi, sekaligus dibimbing mengenali pilihan minuman sehari-hari.

“Biasakan air putih sebagai pilihan utama bagi anak usia sekolah. Sediakan makanan bergizi dan buah utuh. Orang tua juga perlu memberi contoh, karena perubahan akan lebih mudah dijalankan jika seluruh keluarga melakukannya bersama,” tutur Iflan yang pernah jadi Direktur Utama (Dirut) Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Prince Nayef Universitas Syiah Kuala. 

Pedoman WHO dalam lembar fakta Healthy Diet yang diperbarui 26 Januari 2026 menganjurkan asupan gula bebas kurang dari 10 persen total energi harian. Pengurangan hingga 5 persen atau lebih rendah dapat memberi manfaat kesehatan tambahan. Gula bebas mencakup gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman, serta gula dalam madu, sirop, dan jus buah.

Sebagai ilustrasi perhitungan, pada kebutuhan energi 1.600 kilokalori sehari, batas kurang dari 10 persen setara dengan kurang dari 40 gram gula bebas; 5 persen setara 20 gram. Kebutuhan energi dan batas dalam gram perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Perhitungan itu mencakup seluruh makanan dan minuman dalam sehari.

Iflan mengingatkan keluarga agar memperhatikan gula dari berbagai sumber, termasuk teh manis buatan sendiri, minuman bubuk, minuman berperisa, serta tambahan sirop. Mengganti gula pasir dengan madu juga tetap menambah asupan gula bebas.

“Perubahan bisa dilakukan bertahap: kurangi frekuensi membeli minuman manis, kurangi gula saat membuat minuman, dan sediakan air minum yang mudah dijangkau. Anak perlu didampingi agar terbiasa dengan rasa yang tidak terlalu manis,” katanya.

Kebiasaan membaca label juga penting. BPOM mengingatkan konsumen untuk memperhatikan kandungan gula per takaran saji dan jumlah sajian dalam satu kemasan. Sebagai contoh, apabila tercantum 15 gram gula per sajian dan satu botol berisi dua sajian, menghabiskan botol tersebut berarti mengonsumsi 30 gram gula.

Menurut Iflan, sekolah, madrasah, dan dayah di Aceh dapat mengambil peran melalui penyediaan air minum aman, penataan pilihan jajanan, serta edukasi gizi yang melibatkan orang tua dan pengelola kantin. Puskesmas dapat dilibatkan untuk mendampingi edukasi dan pemantauan pertumbuhan.

“Anak akan lebih mudah memilih sehat ketika pilihan itu tersedia dan terjangkau. Kantin perlu menyediakan makanan bergizi, sementara air minum harus mudah diperoleh. Edukasi di kelas perlu didukung oleh apa yang benar-benar dijual di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Pada tingkat kebijakan, UNICEF mendorong penguatan lingkungan pangan sekolah, pelabelan gizi di bagian depan kemasan yang mudah dipahami, pembatasan pemasaran pangan tidak sehat kepada anak, serta cukai minuman berpemanis dalam kemasan. Langkah tersebut ditujukan untuk membuat pilihan sehat lebih mudah dijangkau masyarakat.

Iflan juga mengingatkan agar perhatian terhadap berat badan tidak berubah menjadi ejekan atau tekanan kepada anak. Pemantauan pertumbuhan perlu mempertimbangkan usia dan jenis kelamin, dengan pendampingan tenaga kesehatan ketika ditemukan masalah.

Menurutnya, prinsip yang sama juga berlaku pada orang dewasa. Mengurangi gula bukan berarti menghilangkan seluruh sumber karbohidrat dari menu, melainkan memperbaiki kualitas sumber karbohidrat dan mengendalikan gula bebas.

“Baik anak maupun orang dewasa tetap membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi. Yang perlu kita perbaiki adalah kualitas dan jumlahnya. Utamakan makanan utuh, sayur, buah utuh, protein yang cukup, dan sumber karbohidrat yang lebih berkualitas, sementara gula bebas dan minuman manis dibatasi,” jelasnya.

“Mulailah dari kebiasaan yang bisa dijaga setiap hari: membawa air minum, memilih jajanan dengan lebih cermat, makan beragam, dan aktif bergerak. Anak membutuhkan teladan dan dukungan. Dari langkah sederhana yang dilakukan bersama, kita menjaga kesehatannya hingga dewasa,” pungkasnya.Versi ini mempertahankan berita awal hampir seluruhnya, tetapi tambahan ilmiahnya ditempatkan pada titik yang paling logis: setelah pembahasan risiko gula dan sebelum rekomendasi WHO. Dengan begitu, pesan utamanya menjadi lebih tepat adalah  bukan “karbohidrat ituk berbahaya”, melainkan “gula bebas berlebihan terutama dari minuman yang perlu dikendalikan.”

Share berita ini

dialeksis.com