Polisi Dicintai Karena Bertugas Menggunakan Hati

DIALEKSIS.COM| Feature- Tongkat komando dalam genggamanya dia gunakan dengan mengedepankan nurani. Dia bagaikan tidak bisa melihat rakyat susah. Tiap pekan ada kegiatan jumat berkah, menyantuni mereka yang kekurangan.

Bukan hanya santunan setiap jumat, melalui kebijakanya dia juga menyediakan rumah bagi lansia yang tidak mampu. Membantu si susah yang lagi sakit. Bukan hanya sampai di sana, saat negeri ini dilanda musibah, dia mengerahkan satuanya untuk tiap hari bergerak, memberikan pertolongan. Meringankan beban rakyat yang sedang dilanda prahara.

Tidak berlebihan bila masyarakat memberinya ancungan jempol, sebagai kapolres yang baik, pemimpin yang menggunakan nurani. Selagi dia mampu membantu masyarakat, dia akan melakukanya. Dia merangkul berbagai elemen dalam menjaga wilayah tugasnya agar senantiasa kondusif.

Disaat HUT Bhayangkara ke- 80 pada tahun 2026 ini, sejumlah kegiatan semarak dilakukan. Nurani rakyat juga disentuh, agar menjadikan polisi bagian dari denyut nadi. Menumbuhkan kepercayaan sebagai polisi yang humble.

Semua itu tidak terlepas dari siapa yang memegang tongkat komando. Bila dia tidak mengenakan pakaian dinas dan orang belum mengenalnya, sulit menebak kalau dia adalah Kapolres. Orangnya peramah, gaya bicaranya merakyat. Dekat dengan masjid. Bahkan dengan satuanya dalam memberi tugas dia mengedepankan rasa kemanusian.

“Dek, dek, eeeee om om, tolong ibu -ibu itu mau kemana, arahkan, bantu dia,” sebut Muhammad Taufiq, meminta kesatuanya di Samapta untuk membantu ibu-ibu yang bertandang ke Mapolres Aceh Tengah.

Ketika berjabat tangan dan orang itu sudah dikenalnya dekat, dia tidak sungkan memeluknya, menyodorkan pipinya untuk ditempel pipi sahabatnya. Senyuman tulus tersungging di bibirnya. 

Dengan siapapun orang yang menyapanya dan menanyakan sesuatu dia membangun keakraban. Dia sudah menunjukan jati diri sebagi polisi yang baik. Pemimpin yang baik itu akan diikuti oleh satuanya untuk humble.

Dialah AKBP Muhamad Taufiq, S.I.K., M.H yang dipercayakan menjabat Kapolres Aceh Tengah. Kapolres yang mendapat simpati rakyat, karena menggunakan nurani.

Untuk kegiatan jumat berkah, dengan membagikan sembako kepada masyarakat yang kurang mampu, yang pembagian digilir. Pihak Polres langsung mengantarnya ke lokasi. Menyapa saudaranya yang diuji Allah dengan keterbatasan. 

Dalam setiap Jumat berkah, ketika pihaknya mengantarkan sembako, dia menekankan agar pihak desa yang mendampingi penyaluran bantuan itu untuk tidak repot repot menyambut pihaknya.

“Jangan siapkan makanan, itu udah merepotkan. Desa enggak punya dana untuk itu, kedatangan kami memberikan bantuan kepada yang kurang mampu, jangan justru menjadi beban buat kepala desa,” sebut Taupiq, ketika Dialeksis.com meminta tanggapanya.

“Kalau ada yang menyiapkan makanan dan sudah merepotkan, saya tidak akan datang. Namun kalau sekedar penghormatan menyajikan kopi, itu bisa dimaklumi. Saya tidak mau berkunjung menjadi beban,” kata Kapolres.

Dalam menjalankan tugas demi terciptanya kantimbas yang kondusif, dia merangkul berbagai elemen masyarakat untuk bahu membahu dalam memberikan kenyamanan untuk masyarakat.

Sikap yang dibangunya telah membuat Aceh Tengah kondusif, rakyat menaruh kepercayaan kepada intitusi polisi, karena pemimpinya sudah memberikan nuraninya.

Siapa sosok Kapolres Aceh Tengah AKBP Muhamad Taufiq, S.I.K., M.H. Dia adalah buah hati dari pasangan Wahyu dengan Atih Setiawati. Dia dilahirkan di Lampung pada 20 Mei 1986. SD Way Halim Permai, SMP 4 dan SMU 10 semuanya di Bandar Lampung.

Dia lulusan Akpol tahun 2007, pertama ditugaskan di Tanjung Priuk Jakarta Utara. Pada Masuk ke Polda Aceh tahun 2015, setelah menamatkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian ( PTIK ).

Taufiq pernah bertugas sebagai Kapolsek kuta Alam Polresta Banda Aceh ( 2015 ), kemudian menjabat Kasat Reskrim Polres Langsa 2016. Selanjutnya Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh ( 2017 ). 

Pada tahun 2022 dia menjabat Wakapolres Pidie, kemudian melanjutkan pendidikan di Sespim Polri ( tahun 2023 ). Usai dari sana dia berdinas di Korpolairud Baharkam Polri . Kemudian ditarik kembali ke Aceh menjabat Kasubdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Aceh.

Kini dia sudah setahun menjabat sebagai Kapolres Aceh Tengah. Dua melati di pundaknya, sudah dia gunakan untuk pengabdian di negeri dalam balutan awan beraroma kopi. Pemimpin itu menentukan derap irama satuanya.

Dia sudah menyematkan nuraninya pada bumi Gayo, rakyat Aceh Tengah memujinya sebagai Kapolres baik, karena melaksanakan tugas menggunakan nurani. [bg]

Share berita ini

dialeksis.com